Taman Hati, Taman Kota Surabaya
Yusufachmad Bilintention
SURABAYA – Julukan “Kota Seribu Taman” bukan sekadar retorika. Surabaya menjadikan taman sebagai identitas kota modern yang sehat, indah, sekaligus mendidik. Dari Taman Bungkul yang menjadi ikon, hingga taman tematik di berbagai sudut kota, ruang hijau kini menjadi wajah Surabaya yang menyejukkan.
Taman kota berfungsi sebagai paru-paru kota, ruang rekreasi, edukasi, sekaligus simbol kepedulian terhadap lingkungan. Namun, lebih dari itu, taman juga menjadi analogi bagi kehidupan batin manusia: taman hati. Sama seperti taman kota yang harus disiram, ditanami, dan dijaga dari sampah, taman hati pun harus dirawat dengan syukur, doa, dan pikiran positif.
“Taman hati yang dirawat dengan kesungguhan akan tumbuh subur, bebas dari ulat serakah, kebencian, dan iri hati,” ujar seorang pemerhati lingkungan di Surabaya.
Pohon-Pohon Ikonik Surabaya
Keindahan taman Surabaya tidak lepas dari variasi pohon yang menghiasi kota:
- Tabebuia: mekar seperti sakura, menjadi magnet wisata dan simbol harapan.
- Trembesi dan Angsana: pohon besar yang meneduhkan, melambangkan keteguhan.
- Palem raja dan cemara udang: menghadirkan nuansa tropis elegan.
- Bougenville dan flamboyan: warna-warni bunga yang menambah semarak kota.
- Ketapang kencana dan akasia: pohon internasional yang menegaskan keterbukaan Surabaya pada inovasi hijau global.
Keberagaman pohon ini bukan sekadar estetika, melainkan pesan rohani: hati manusia pun harus ditanami berbagai “pohon kebaikan”—kesabaran, kasih, empati, dan keikhlasan.
Kesehatan Jasmani dan Rohani
- Jasmani: taman kota menurunkan polusi, menyediakan oksigen, dan menjadi ruang olahraga.
- Rohani: taman hati menurunkan stres, menumbuhkan rasa syukur, dan memperkuat iman.
Keduanya saling melengkapi. Kota sehat butuh taman kota, manusia sehat butuh taman hati.
Inspirasi Kota Besar Lain
Surabaya kini menjadi teladan. Dulu, Bandung dikenal sebagai “Kota Kembang”, namun citra itu perlahan memudar. Surabaya justru berhasil menghidupkan kembali identitas kota hijau dengan konsistensi pembangunan taman. Pelajaran penting bagi kota-kota besar lain di Indonesia: ruang hijau bukan sekadar ornamen, melainkan kebutuhan hidup modern.
Merawat taman kota adalah tugas pemerintah dan masyarakat. Merawat taman hati adalah tugas pribadi setiap insan. Jika keduanya berjalan seiring, lahirlah kota yang sehat jasmani dan rohani. Surabaya telah memberi contoh: taman bukan hanya ruang hijau, tetapi juga cermin jiwa.
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly