May 5, 2026

Sumber: https://news.detik.com

Kabupaten Nduga adalah salah satu wilayah yang saat ini rawan konflik antara TPNPB dan aparat keamanan. Nama kabupaten ini sudah tidak asing lagi di telinga banyak orang.

Situasi konflik ini menyebabkan berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan, mengalami stagnasi. Namun, di tengah kondisi sulit ini, ada sosok inspiratif bernama Nita, seorang anak muda dengan mimpi besar untuk pendidikan yang lebih baik. Kondisi di daerahnya tidak membuatnya menyerah.

Nita adalah siswa berprestasi yang telah meraih berbagai penghargaan di bidang akademik, khususnya dalam matematika. Pada tahun 2014, saat masih duduk di bangku SMP, ia berhasil meraih medali perunggu dalam ajang World Mathematics Team Championship (WMTC) yang digelar di China. Tak hanya itu, ia juga memenangkan berbagai kompetisi matematika tingkat nasional dan internasional, membuktikan bahwa anak-anak Papua memiliki potensi luar biasa.

Nita bercerita bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Nduga memilih anak-anak yang mengalami kesulitan dalam belajar untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Ia pun dibawa ke Tangerang untuk belajar di Surya Institute. Ketika bertemu dengan Presiden Joko Widodo, ia menceritakan pengalamannya dan menunjukkan hasil dari kerja kerasnya, yang berbuah manis dengan sederet prestasi.

Meski memiliki kesempatan untuk meraih kesuksesan di tempat lain, Nita tetap berniat kembali ke kampung halamannya untuk mengabdi, seperti ayahnya. Namun, ia memilih jalur pengabdian yang berbeda. Setelah lulus SMA, Nita melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Dengan tekad dan kerja keras, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang dokter.

“Soalnya di sana, dokter itu satu kabupaten cuma satu, yang lainnya adalah tenaga medis seperti mantri. Saya ingin membangun rumah sakit di sana. Saat ini, di kampung kami belum ada jalan beraspal, jadi ke mana-mana harus berjalan kaki. Jika ada orang yang sakit parah, tidak ada rumah sakit, dan harus dibawa dengan helikopter ke kota,” ungkap Nita.

Kisah Nita membuktikan bahwa banyak anak-anak Papua yang cerdas, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan baik. Saat ini, semakin banyak putra-putri Papua yang berprestasi di berbagai bidang. Pendidikan memegang peran penting dalam melawan stigma bahwa orang Papua tertinggal atau tidak mampu bersaing.