NYANYIAN RINDU DALAM PERAHU
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di perahu kecil ini
aku menyimpan namamu
seperti laut menyimpan rahasia angin—
tak pernah diucapkan,
namun selalu bergerak.
Kayu-kayu tua berderit pelan,
seakan ingin bersaksi
bahwa rindu adalah beban
yang paling sabar dipikul perjalanan.
Setiap retaknya
adalah jarak yang memanjang
antara dadaku dan dadamu.
Aku mendayung perlahan,
bukan karena takut ombak,
melainkan karena rindu
tak pernah suka tiba terlalu cepat.
Ia ingin lama,
ingin menyiksa dengan keindahannya sendiri,
seperti senja
yang sengaja menunda gelap.
Air berkilau memantulkan langit,
dan di sana wajahmu terapung—
bukan bayang-bayang,
melainkan kenangan
yang menolak tenggelam.
Aku memanggil namamu
dengan suara yang tak bersuara,
sebab cinta sejati
lebih fasih ketika diam.
Angin menyingkap rambut laut,
membawa harum yang menyerupai
bau kulitmu selepas hujan.
Aku tahu,
rindu telah menyamar menjadi cuaca,
menyusup ke segala arah,
tak memberi jalan pulang.
Di kejauhan, mercusuar berkedip—
sebuah mata yang setia,
mengajarku bahwa menunggu
adalah bentuk paling jujur dari cinta.
Cahayanya tak berlari,
tak mengejar perahu,
ia hanya ada,
dan itu cukup
untuk menyelamatkan.
Perahu ini terus bergerak,
meski aku tak tahu
apakah tujuan bernama kau
atau sekadar harapan
yang kupeluk terlalu erat.
Namun apa arti sampai,
jika rindu berhenti bernyanyi?
Setiap dayung
menorehkan lingkaran di air,
seperti doa yang tak pernah putus
dari dasar dada.
Aku menulis puisi
di permukaan laut,
dan ombak menghapusnya,
agar aku menulis lagi,
dan lagi,
tentang kau.
Malam pun turun perlahan,
menutup langit dengan selimut biru tua.
Bintang-bintang jatuh satu per satu
ke dalam hatiku,
menjadi cahaya kecil
yang menyebut namamu
tanpa ejaan.
Aku bertanya pada laut:
apakah rindu selalu begini—
indah namun melelahkan?
Laut menjawab dengan ombak,
menghempas lalu memeluk perahu,
seolah berkata:
cinta memang diciptakan
untuk membuat kita tetap hidup,
meski tak selalu tenang.
Jika suatu hari perahu ini karam,
biarlah rindu yang mengapung.
Sebab namamu
telah kupahat di dadaku,
lebih kekal dari peta,
lebih setia dari arah mata angin.
Dan bila kau mendengar nyanyian
di tengah laut yang sunyi,
itulah aku—
masih mendayung,
masih mencintaimu,
dalam perahu kecil bernama rindu,
yang tak pernah ingin berlabuh
selama cintamu
masih menjadi lautku.
—-
Sumatera Barat, Indonesia, 2026