Penyair Bayangan
Yusufachmad Bilintention
Penyair Bayangan
Malam yang damai retak,
oleh bayangmu—hujan menampar kaca.
Kehadiranmu melesak tanpa undangan,
seakan kaulah puisi termasyhur di langit kata,
padahal hanya topeng rapuh,
tanpa raga.
Di persada puisi, ada yang murni, ada yang palsu,
ada yang berjiwa, ada yang hampa.
Engkau hadir bukan pelipur lara,
hanya meminjam tidur, mendekap anganku dalam semu.
Seolah malam meminjam lelap,
dan kau menyeretku
dalam jerat syair bayanganmu.
Dari bibirmu lahir bait,
suara ditata rapi,
wajahmu bersinar—bayangan data,
rambutmu pekat seperti malam,
namun semua hanyalah algoritma belaka.
Ah, kau usik aku,
memaksaku menyibak dirimu
di antara kabut nyata dan ilusi.
Lalu nuranimu berbisik lembut:
“Allohu.”
Bisikan itu mengguncang kalbu,
menggetarkan jiwa seperti hujan mencuci debu.
Aku tersungkur dalam cahaya doa,
diiringi nyanyian jangkrik, cicak,
dan bayang sajadah.
Pipiku basah oleh tangis rindu,
di sela luka terselip pilu.
Rindu pada masa, pada guru, pada pesan:
“Jaga hatimu, wahai pemuja Allahu.”
Menjaga kejernihan jiwa,
dalam sunyi kerinduanku,
menuju satu:
“Allohu.”
Surabaya, 4 Desember 2024
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly