Perkuat GeLiMa : Kepala MAN Sawahlunto Spiriti Siswa untuk Gemar Membaca
SAWAHLUNTO, 10 Oktober 2025 ,Di Halaman MAN Kota Sawahlunto dipenuhi gema suara pelajar yang larut dalam kegiatan Muhadarah, sebuah tradisi yang bukan sekadar menyampaikan pidato, melainkan merawat ruh intelektual dan spiritual para pelajar madrasah. Dalam suasana penuh khidmat itu, Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro menyampaikan amanat yang sarat makna dan mendalam: sebuah panggilan untuk kembali kepada akar peradaban membaca.
Membuka amanat kepala MAN Kota Sawahlunto memberikan apresiasi dan terimakasih kepada pelaksana dan semua siswa yang telah melaksanakan kegiatan Muhadarah dengan baik.
Selanjutnya Dafril mengutip ayat pembuka Surat Al-‘Alaq:
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq…”
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.”
Dari ayat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW itu, lahir seruan agung yang melampaui zaman dan tempat. Seruan itu bukan sekadar perintah teknis untuk melafalkan kata, namun panggilan ilahiah untuk menyelami makna kehidupan, memahami semesta, dan menggali potensi diri.
“Di MAN Kota Sawahlunto ujar Dafril Tuanku Bandaro dengan suara bergetar namun penuh keyakinan, “kita bukan hanya diajarkan untuk membaca huruf, tetapi juga membaca kehidupan. Bukan hanya menghafal ayat, tetapi menghidupi maknanya.”
Amanat tersebut kemudian menjelma menjadi pengantar untuk memperkenalkan dan menegaskan kembali salah satu program unggulan MAN Kota Sawahlunto: GELIMA, (Gerakan Literasi Madrasah.)
Empat Pilar Membaca versi GELIMA Membaca yang Tertulis
Membaca buku, artikel, dan teks lainnya sebagai wujud dari budaya literasi yang membentuk fondasi ilmu pengetahuan. Dalam aspek ini, madrasah mendorong siswa untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.
Membaca yang Tercipta
Melihat semesta sebagai kitab alam. Setiap dedaunan, setiap angin yang berhembus, dan setiap fenomena alam adalah ayat-ayat kauniyah yang menuntut untuk dipahami. Di sinilah para siswa diajak untuk mengembangkan kepekaan ekologis dan wawasan sains berbasis keimanan.
Membaca yang Tersirat
Mampu menangkap makna di balik kata, memahami maksud yang tidak diucapkan, dan menyelami hikmah dalam setiap peristiwa. Ini adalah jenjang literasi tinggi yang melatih nalar kritis dan kebijaksanaan.
Membaca Tanda-Tanda Diri
Mengenali potensi, kelemahan, dan jati diri sendiri. Sebuah pembacaan batin yang melahirkan ketulusan, kedewasaan, dan kesadaran spiritual. “Siapa yang mengenal dirinya,” kata Dafril mengutip hikmah sufi, “maka ia akan mengenal Tuhannya.”
“Membaca adalah permulaan kenabian. Maka siapa pun yang membaca dengan niat tulus dan cinta ilmu, sejatinya ia sedang menapaki jejak Rasulullah.”
Muhadarah hari itu tidak hanya menjadi ajang latihan berbicara, tetapi juga peristiwa spiritual dan kultural yang mempertemukan wahyu dengan realitas, teks dengan konteks, serta ilmu dengan iman.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : DTB