April 22, 2026

Restorasi Misi Katolik di Kepulauan Maluku 1888-1994, Sebuah Pengantar Oleh Uskup Amboina, Mgr. P.C. Mandagi MSC.

fritz foto

Pastor Anton Fanumbi MSC

“Dengan penuh rasa syukur dan hormat, saya mengungkapkan apresiasi yang mendalam atas hadirnya buku Restorasi Misi Katolik di Kepulauan Maluku 1888-1994: Sebuah Catatan Kronologis, yang ditulis oleh Dr. Fritz Herman Pangemanan dan Uskup Emeritus Mgr. Andreas Sol MSC bersama dengan tim penulisnya. Buku ini menjadi sumbangan penting dalam melestarikan dan menuliskan sejarah Gereja Katolik di Kepulauan Maluku, khususnya terkait dengan perkembangan misi Katolik di wilayah Keuskupan Amboina,” demikian Mgr. P.C. Mandagi MSC, mengawali pengatarnya.

Penghargaan atas Karya Mgr. Andreas Sol

Membaca karya ini, saya merasa terharu dan mengucapkan terima kasih yang tulus, terlebih mengingat usia Mgr. Sol yang sudah lanjut. Meskipun demikian, beliau tetap menunjukkan perhatian besar terhadap sejarah Gereja Keuskupan Amboina. Dengan ketelatenan dan dedikasi tinggi, beliau berhasil menulis catatan kronologis yang sangat berharga. Buku ini sangat komprehensif, mencatat dengan rinci perjalanan panjang misi Katolik di Kepulauan Maluku dari tahun 1888 hingga 1994, menghadapi banyak tantangan, terutama dalam situasi politik dan sosial yang sangat kompleks.

Tantangan Sejarah Misi Katolik di Maluku

Seperti kita ketahui bersama, Gereja Katolik di Kepulauan Maluku pernah menghadapi masa yang sangat sulit, terutama pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Pada periode tersebut, misi Katolik sempat dibekukan oleh pemerintah Belanda melalui konglomerasi dagang VOC (De Verenigde Oost-Indische Compagnie). Pemerintah Belanda berusaha menghalangi penyebaran agama Katolik yang sebelumnya berkembang pesat di wilayah ini, sementara agama Protestan diperkenalkan setelah Belanda membuka jalur bagi pengaruh agama ini di Hindia Belanda.

Kebangkitan Misi Katolik pada 1888

Meskipun menghadapi tantangan berat, misi Katolik di Maluku akhirnya kembali bangkit pada tahun 1888 berkat usaha keras para misionaris Yesuit. Pater J.D. Kusters SJ dan Pater I. Booms SJ memulai kembali misi mereka di Kepulauan Kei dengan membuka pusat misi di Langgur. Setahun pertama di Langgur sangat sulit, di mana Pater Kusters hampir kehilangan harapan karena masyarakat yang sangat kental dengan kepercayaan nenek moyang dan animisme. Peristiwa menakjubkan memberikan harapan baru, ketika keluarga Ohadat di Langgur meminta agar putri mereka, Sakbau, dibaptis, karena mereka percaya bahwa pembaptisan akan menyembuhkannya. Keajaiban yang terjadi setelah pembaptisan Sakbau memberikan titik balik besar dalam perkembangan Gereja Katolik di Langgur.

Pertumbuhan Gereja Katolik di Langgur

Keajaiban yang terjadi setelah pembaptisan Sakbau yang sembuh dalam waktu dua hingga tiga hari membuat masyarakat Langgur percaya akan kuasa Tuhan. Peristiwa tersebut memotivasi masyarakat Langgur untuk bergabung dengan agama Katolik. Umat Katolik di Langgur berkembang pesat, dengan 10 anak pertama menerima baptisan pada 4 Agustus 1889, dan diikuti oleh kelompok-kelompok baptisan lainnya. Perkembangan ini menyebar ke desa-desa tetangga, dan pada tahun 1904, umat Katolik di Kepulauan Kei telah mencapai 1.118 jiwa, dengan jumlah siswa sekolah mencapai 180 orang.

Penyerahan Wilayah Misi kepada Tarekat MSC

Pada 1 Januari 1904, wilayah misi di Kepulauan Kei diserahkan secara resmi kepada Tarekat MSC Propinsi Belanda, yang memulai babak baru dalam sejarah misi Katolik di wilayah ini. Pater Mathias Neyens MSC menjadi Prefek pertama wilayah tersebut, dan pada tanggal 29 November 1903, beliau tiba di Langgur bersama Pater Hendrikus Geurtjens MSC untuk mengambil tanggung jawab tersebut. Perkembangan misi Katolik menjadi lebih sistematis dan terorganisir di bawah pimpinan Tarekat MSC.

Perkembangan Sosial dan Pendidikan

Selama kepemimpinan Tarekat MSC, perkembangan misi Katolik di Kepulauan Kei semakin pesat. Selain jumlah umat yang terus bertambah, kualitas pendidikan dan pembinaan iman juga semakin baik. Pembukaan sekolah-sekolah dan pendirian lembaga-lembaga sosial turut memperkuat masyarakat Katolik, tidak hanya dalam iman, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan pendidikan mereka.

Pengakuan dan Perkembangan Gereja Katolik di Maluku

Gereja Katolik di Kepulauan Maluku semakin dikenal, baik di tingkat regional maupun nasional. Misi yang sebelumnya berada dalam kondisi yang sangat sulit kini semakin kokoh dengan berdirinya gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan lembaga-lembaga sosial di berbagai wilayah. Semua ini berkat usaha keras para misionaris dan tentunya campur tangan Tuhan yang selalu memberkati setiap langkah mereka.

Penutup

Buku Restorasi Misi Katolik di Kepulauan Maluku 1888-1994: Sebuah Catatan Kronologis ini tidak hanya menjadi sumber rujukan yang sangat penting bagi umat Katolik di Kepulauan Maluku, tetapi juga bagi masyarakat luas yang ingin lebih memahami sejarah Gereja Katolik dan perjalanan misi di wilayah ini. Dengan membaca buku ini, kita dapat lebih menghargai perjalanan iman yang panjang dan penuh tantangan, serta melihat bagaimana iman dan harapan dapat membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar. Kita harus bersyukur atas karya-karya besar yang telah dilakukan oleh para misionaris dan masyarakat yang dengan penuh semangat menyambut ajaran Katolik.

Editor: Paulus Laratmase