Safar Ruh: Dari Tanah ke Cahaya Ridha
Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku berasal dari tiada,
lalu Kau bisikkan hidup ke segumpal debu,
dan debu itu menangis karena merasakan cinta pertama.
“Dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku…”
Maka jiwaku terbangun,
bukan sebagai raja,
bukan sebagai malaikat,
tetapi sebagai musafir yang lupa jalan pulang.
Aku berjalan di pasar dunia,
membeli kebanggaan,
menjual keikhlasan,
hingga hatiku menjadi berat oleh benda-benda fana.
Namun di suatu malam Ramadhan,
saat bumi terdiam dalam zikir bintang,
Engkau memanggil lembut:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu…”
Dan tubuhku gemetar
seperti daun yang akhirnya mengerti musim gugur.
Aku sujud,
dan dalam sujud itu gunung kesombongan runtuh.
Air mataku mengalir lebih jujur dari kata-kata.
Ya Allah,
aku bukan hamba yang pantas Kau dekati,
tapi aku hamba yang tak sanggup jauh dari-Mu.
Di jalan panjang ini,
aku bertemu lapar yang mengajarkanku syukur,
bertemu kehilangan yang mengajarkanku doa,
bertemu sepi yang mengajarkanku hadirnya-Mu.
Para sufi berjalan tanpa alas dunia,
karena mereka tahu bumi hanyalah jembatan,
bukan rumah.
Mereka meminum rindu dari cawan sabar,
dan mabuk oleh cinta Ilahi.
Aku ingin seperti mereka —
tersenyum dalam ujian,
tenang dalam badai,
kaya dalam kefakiran.
“Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram?”
Maka kusebut nama-Mu dalam napas,
kusebut dalam denyut,
kusebut dalam luka.
Ramadhan menjadi madrasah cahaya,
tempat ruh dicuci dari karat zaman.
Di malam Qadr,
langit seperti membuka kitab rahasia,
dan takdir ditulis dengan tinta rahmat.
Aku mengetuk pintu langit:
Ya Rahman…
jika dosaku gunung,
ampunan-Mu lautan.
Ya Rahim…
jika aku tenggelam dalam salah,
kasih-Mu adalah bahtera.
Aku menanggalkan dunia satu demi satu:
ambisi, iri, pamer, takut kehilangan.
Hingga tinggal satu beban paling ringan:
cinta kepada-Mu.
Di tangga cahaya itu,
aku bukan siapa-siapa,
namun Engkau menjadikanku segalanya.
Aku belajar bahwa surga bukan tempat,
tetapi keadaan hati yang dekat dengan-Mu.
Dan neraka bukan api,
melainkan jarak dari-Mu.
Wahai Kekasih Abadi,
Engkau lebih dekat dari urat leherku,
namun sering aku mencari-Mu terlalu jauh.
Di ujung safar ruh ini,
aku dengar panggilan lembut:
“Masuklah ke dalam golongan hamba-Ku…
dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Maka aku mengerti:
surga pertama adalah ridha-Mu,
dan surga terakhir adalah perjumpaan dengan-Mu.
Aku pulang bukan sebagai orang sempurna,
tetapi sebagai jiwa yang dicuci cinta.
Dan dalam cahaya itu,
aku lenyap dari aku,
dan hidup dalam Engkau.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2026.