May 17, 2026

SANG KOLONEL DI TENGAH DERU PANJANG REVOLUSI ISLAM IRAN

WhatsApp Image 2026-05-17 at 08.37.39

oleh Reiner Emyot Ointoe

„Engelâb-e Irân, peyvandi miyân-e
edâlat-e ejtemà’i, din va melli-garâyi
bud.” — „Revolusi Iran adalah
sebuah ikatan antara keadilan sosial, agama, dan nasionalisme.” — Ervand Abrahamian(85), Iran Between Two Revolutions;1982).

Novel The Colonel karya Mahmoud Dowlatabadi merupakan sebuah kisah yang lahir dari luka sejarah Iran.

Ditulis dengan pengalaman pribadi penulisnya yang pernah dipenjara oleh polisi rahasia SAVAK pada masa rezim Shah.

Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Melville House pada 2012, novel ini hingga kini tetap dilarang beredar di Iran karena kritiknya yang tajam terhadap rezim, baik sebelum maupun sesudah Revolusi Islam.

Ceritanya berpusat pada seorang kolonel tua yang dipanggil polisi untuk mengambil jenazah putrinya yang disiksa.

Sepanjang malam ia menyiapkan pemakaman, sementara kenangan tentang anak-anaknya yang lain datang silih berganti, masing-masing menjadi korban dari fase politik yang berbeda.

Sekuel-sekuelbya, putra pertama gugur dalam Revolusi Islam 1979, putra kedua kehilangan akal sehat setelah disiksa SAVAK, putra ketiga mati syahid dalam perang Iran-Irak, putri bungsu dibunuh aparat, dan putri lainnya bertahan dengan menikahi seorang oportunis.

Mari simak argumen-argumen pengarang sebagai si kolonel kepada para putra dan putri semata waya yang selamat dan dinikahi tokoh oportunis:

Dikutip Sang Kolonel:
„Mereka dikorbankan, bukan untuk kebebasan, tetapi untuk kekuasaan.”

Juga, ujar Sang Kolonel:
„Dia(putri) memilih keamanan daripada martabat.”

Kehancuran keluarga ini menjadi simbol bagaimana revolusi dan rezim berganti-ganti, tetapi selalu berakhir dengan “melahap anak-anaknya sendiri.”

Dowlatabadi menuliskan dengan bahasa lugas dan penuh simbol, dan salah satu kalimat yang paling sering dikutip dari novel ini adalah:

„The Islamic Revolution is devouring its own children.“ — „Revolusi melahap anaknya sendiri.“

Kalimat itu merangkum inti kritik novel, bahwa revolusi yang awalnya menjanjikan kebebasan justru melahirkan represi baru dan mengorbankan generasi muda Iran.

Sebagai seorang penulis, Dowlatabadi dikenal dengan karya-karya besar lain seperti Missing Soluch dan epos Kelidar.

Ia dianggap sebagai salah satu penulis Iran paling berpengaruh, seorang pengusung kebebasan sosial dan seni yang berani menentang represi.

The Colonel sendiri meraih penghargaan internasional, termasuk Jan Michalski Prize pada 2013, dan masuk daftar panjang Man Asian Literary Prize.

Hakikat revolusi yang digambarkan Dowlatabadi dapat dibaca melalui perspektif Crane Brinton dalam The Anatomy of Revolution yang pertama kali terbit pada 1938.

Brinton menekankan bahwa revolusi memiliki pola yang menyerupai penyakit: dimulai dengan ketidakpuasan, meningkat menjadi krisis, lalu mencapai puncak radikal, sebelum akhirnya mereda dan menghasilkan rezim baru yang sering kali tidak jauh berbeda dari rezim sebelumnya.

Dalam kerangka ini, novel The Colonel menjadi ilustrasi konkret dari teori Brinton.

Revolusi Islam Iran, yang awalnya menjanjikan kebebasan dari tirani Shah, justru melahirkan represi baru yang menelan generasi muda.

Analisis pola Revolusi Iran menurut kacamata Crane Brinton menunjukkan bahwa peristiwa 1979 mengikuti tahapan klasik revolusi.

Dari fase runtuhnya rezim lama, munculnya moderat, naiknya kaum radikal, masa teror, dan akhirnya fase “Thermidor” yang melahirkan rezim baru yang tetap represif.

Revolusi yang menjanjikan kebebasan justru berakhir dengan represi berganda.

Demikian Crane Brinton dalam The Anatomy of Revolution(1938) menguraikan revolusi sebagai proses yang menyerupai penyakit sosial.

Selain itu, biasanya diawali dengan tanda-tanda ketidakpuasan. Tumbuh berkembang menjadi krisis masif dan lalu pecah mencapai puncak radikal sebelum mereda.

Jika diterapkan pada Revolusi Islam Iran, pola ini terlihat jelas.

Rezim lama, yakni monarki Pahlavi, menunjukkan tanda-tanda kelemahan dengan korupsi, ketidakpuasan rakyat, dan represi oleh SAVAK.

Ketidakpuasan ini menjadi “prodromal signs” yang memicu ledakan sosial.

Tahap berikutnya adalah munculnya kaum moderat yang berusaha mengendalikan arah revolusi.

Dalam konteks Iran, kelompok liberal dan nasionalis sempat berperan, tetapi segera tersingkir oleh kelompok radikal yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini.

Brinton menyebut fase ini sebagai “Accession of the Extremists,” di mana kekuatan revolusi diambil alih oleh kelompok yang lebih keras.

Setelah itu, Iran memasuki masa yang menyerupai “Reign of Terror and Virtue.”

Revolusi Islam menegakkan aturan moral ketat, menghukum lawan politik, dan menyingkirkan kelompok yang dianggap tidak sejalan.

Banyak korban jatuh, termasuk generasi muda yang sebelumnya menjadi motor revolusi. Inilah yang dimaksud Dowlatabadi dalam novel The Colonel ketika ia menulis bahwa revolusi “melahap anak-anaknya sendiri.”

Tahap terakhir dalam model Brinton adalah “Thermidor,” yaitu fase stabilisasi setelah masa radikal.

Dalam kasus Iran, fase ini melahirkan rezim Islam yang tetap represif, meski lebih terstruktur. Harapan kebebasan yang semula menyala berubah menjadi sistem baru yang mengekang.

Brinton menekankan bahwa revolusi sering kali berakhir dengan pergantian tirani, bukan lahirnya kebebasan sejati.

Dengan demikian, Revolusi Islam Iran 1979 menjadi contoh nyata dari pola Brinton.

Ia menunjukkan bagaimana revolusi yang dimulai dengan semangat pembebasan dapat berakhir dengan represi baru.

Analisis ini menegaskan bahwa revolusi bukan hanya peristiwa politik, melainkan siklus sosial yang berulang, di mana harapan sering kali dikorbankan demi kekuasaan.

Dengan demikian, The Colonel bukan sekadar kisah keluarga yang hancur, melainkan alegori penderitaan bangsa Iran di bawah represi berganda.

Namun, sekaligus cermin universal tentang bagaimana revolusi sering kali gagal memenuhi janji kebebasan, dan justru berulang menjadi siklus pengorbanan yang tak pernah selesai.

Terlepas dari analisis Brinton dan penggambaran fiksi Dowlatabadi, dengan fase-fase progresif selama lebih dari empat dekade embargo, revoluisi Islam Iran tak bisa dinafikan dengan hasil pergulatan keras dan masif mereka hari ini.

Fiksi Sang Kolonel, barangkali salah satu tragedi yang bisa dialami revolusi manapun. Tapi, bersama representasi nilai-nilai revolusi yang guyup bahkan keji dalam sejarah revolusi, Korps Garda Revolusi Islam; Islamic Revolutionary Guard Corps(IRGC) — dalam bahasa Persia disebut Sepāh-e Pāsdārān-e Enqelāb-e Eslāmi — justru telah meninjukkan hal sebaliknya.

Revolusi Islam Iran, akhirnya mengajak kembali anak-anaknya dari paska Revolusi dan bersama-sama melahap penyulut — Amerika, Israel, Barat dan sekutu-sekutunya — perang genosida yang juga telah menelan jutaan korban di Timur Tengah.

Kritik Sang Kolonel tentang revolusi Islam Iran, kini menemukan fase baru untuk keberlangsungan dan kemenangan peradaban Islam Iran mutakhir.

Atau, meminjam apa yang diulas Reza Aslan(54), kelahiran Teheran, migrasi ke Amerika dan PhD Sosiologi UC Santa Barbara dalam No god but God: The Origins, Evolution, and Future of Islam(2005) sebagai ekspresi dan aktualitas dari Revolusi Syahadat.

#coversongs:
„Iran Is Ours“ (Free Iran) [2026]” adalah sebuah single oleh musisi Saambie(26) yang dirilis pada 18 Januari 2026.

Lagu berdurasi 3 menit ini muncul di tengah gelombang protes besar di Iran, dan maknanya terkait dengan seruan diaspora serta aktivis internasional untuk mendukung gerakan Free Iran.

#credit slide presentasi dengan foto Dowlatabadi dan cover novelnya, The Colonel.