May 17, 2026
Copilot_20260516_064603

Yusufachmad Bilintention

(Lanjutan dari Bagian 1: Prahara Identitas, yang sebelumnya telah dibukukan oleh MenulisID & Projectarek.id dalam antologi “Di Atas Kampung Itu Tak Ada dan Cerita Lainnya.”)

akhir Bagian 1:

“Abi Anisa menatap sekeliling, menyadari kata-kata Anas, Anisa, dan Nabila mengandung kebenaran yang tak bisa ia sangkal.”

Bagian 2: Cinta dan Akhlak

Abi Anisa menatap sekeliling, menyadari bahwa kata-kata Anas, Anisa, dan Nabila—putri bungsunya—mengandung kebenaran yang tak bisa ia sangkal. Rasa malu merayap di hatinya. Keheningan tersisa, berat namun menenangkan. Lalu ia berkata lirih, “Aku ingin menjaga martabat keluarga… tapi aku tak bisa menutup mata. Kata-kata kalian lebih beradab daripada hinaan yang baru saja terdengar.”

✦✦✦

Beberapa hari kemudian, Anas dan Anisa bertemu di Masjid Sunan Ampel. Masjid tua itu berdiri megah, memadukan arsitektur Jawa kuno, Hindu-Buddha, dan Arab. Di bawah langit-langit kayu berusia ratusan tahun, mereka berdoa bersama. Anas menggenggam tasbih, berzikir dengan suara lembut:
“Cinta adalah anugerah Allah, yang tak bisa dibatasi oleh apa pun. Jika kita menolak cinta, kita menolak anugerah-Nya.”

Angin sejuk berhembus dari lorong sempit Ampel, menggoyang kerei bambu di jendela rumah sekitar masjid. Suasana hening, namun penuh harapan. Anisa menatap Anas dengan mata berkaca-kaca. “Aku akan menunggu, Anas. Bersama kita hadapi semuanya.”

Anas menundukkan kepala, lalu perlahan berkata: “Aku tidak akan menyerah, Anisa. Cinta kita layak diperjuangkan. Tradisi boleh mengekang, tapi cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.”

Senyum getirnya berubah menjadi senyum penuh harapan. “Perjuangan kita baru dimulai,” katanya. Anisa mengangguk, air mata jatuh membasahi jilbabnya. “Dan aku akan berjalan bersamamu, meski jalan ini penuh duri.”

✦✦✦

Suatu sore selepas ketegangan itu, Anas melangkah ke warung Sarkam. Bau kopi hitam bercampur asap rokok memenuhi ruangan. Kursi kayu berderit, suara orang bercakap riuh, seakan menutup sisa gelisah di dadanya. Anas memesan kopi pahit kesukaannya. Di sudut, pria paruh baya yang pernah berteriak “Ente kambing gelap!” kini duduk dengan mata kosong, mulutnya berkomat-kamit. Orang-orang menyebutnya Jadzab—hidup di antara dunia nyata dan gaib, kadang dianggap gila, kadang diyakini membawa pesan ilahi.

Anas memberanikan diri mendekat dengan membawa cangkir kopinya. “Ami, bagaimana caranya menghadapi hinaan?” tanyanya lirih. Pria itu tidak menjawab. Ia justru meludahi kopi Anas, lalu tertawa seperti anak kecil. “Kopimu pahit, tapi hidup ini manis. Lawanlah kepahitan kopimu sebagaimana keberanianmu meminum kopi berludah ini!” teriaknya berulang-ulang.

Mata Anas memerah, menahan amarah yang mendidih. Namun ia tetap menatap cangkir itu. Di permukaan keruh kopi, bayangan masa kecilnya muncul: ayahnya yang tegar, seorang Jawa yang menikahi ibu keturunan habaib. Pernikahan mereka dikucilkan, dianggap mencoreng nama baik keluarga.

Ia teringat ayahnya yang sering batuk di malam hari, tubuh kurus dan wajah pucat karena tekanan mental serta ejekan keluarga ibunya yang menjunjung tinggi nasab lebih dari akhlak. Tatapan kosong itu mengajarkan bahwa hinaan bisa membunuh perlahan, hingga akhirnya ia pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.

Anas mengangkat cangkir itu. Ia menelan pahit bercampur jijik, sambil mengingat kata-kata ayahnya: “Kesabaran adalah kunci untuk menghadapi segala kesulitan dalam hidup.”

Kopi berludah itu bukan sekadar minuman, melainkan ujian: harga diri ditempa oleh keberanian menelan pahit.

✦✦✦

Di pasar Gubah, di tengah deretan dagangannya, Anas yang kini memiliki toko sendiri tetap dikenal sebagai juragan daster. Azan berkumandang, aroma kebuli dan roti Kamer khas Ampel meresap di lorong tua yang menyimpan kisah para wali. Bau badan penziarah bercampur dengan harum minyak wangi Arab dan asap rokok, menambah sesak udara di jalan sempit itu.

Berjajar toko-toko kecil menjual perlengkapan ibadah: baju koko, kopiah, mukena, tasbih, hingga kitab kuning bersampul lusuh. Etalase sempit penuh warna, pakaian khas Muslim Ampel menggantung rapat di sisi jalan. Pramuniaga laki-laki bersarung dan bertopi putih menawarkan dagangan dengan suara lantang, sementara perempuan Madura dan Jawa berjilbab sibuk menata barang. Di antara mereka, perempuan Arab hanya menampakkan mata, tubuhnya tertutup kain hitam pekat, menambah kesan misteri lorong itu.

Bayangan Anas memanjang di lantai batu, tatapan orang-orang menembus tanpa menyapa.      Di satu sisi, ia dipanggil “Jamaah” dan dituntut menjaga kehormatan silsilah. Di sisi lain, ia dianggap asing dari tradisi Jawa yang halus dan penuh tata krama.

✦✦✦

Anisa, gadis habaib yang ia cintai, juga menyimpan luka yang tak terlihat. Di balik sorot matanya yang tajam, ada kerinduan akan kebebasan. Ia tidak pernah mencintai pria pilihan abinya yang keturunan habaib. Ia sering menulis catatan kecil di pinggir kitab kuning, huruf-hurufnya miring seakan melawan garis kehormatan yang membatasi. Ia ingin mencintai tanpa syarat, menjadi perempuan yang memilih, bukan dipilihkan.

Malam itu, selepas magrib, Anas menyusuri lorong sempit menuju Masjid Sunan Ampel. Deretan toko kecil menebarkan aroma minyak wangi dan kitab kuning lusuh. Di balik kaca etalase, wajah-wajah sibuk berdagang tampak lelah, namun sorot mata mereka menyimpan kerinduan akan pengakuan.

Ia berhenti di depan makam Sunan Ampel. Di bawah pohon beringin tua, ia duduk bersila. Angin berembus pelan, membawa aroma bunga dan suara penziarah yang mengaji. Ia menutup mata, mengingat ayahnya yang dulu sering mengajaknya ke sini. Ayahnya pernah berkata:
“Di sini, kita tidak bicara soal asal-usul. Kita bicara soal niat.”

Bayangan mata Anisa yang basah kembali hadir, membuat dadanya bergetar. Anas menangis diam-diam. Ia merasa sekecil bayangan beringin, namun ingin menorehkan tanda abadi. Ia ingin perjuangan kasihnya tidak hanya diterima, tapi dimuliakan.

Anisa menyelinap keluar rumah, didorong kerinduan yang tak bisa ia bendung. Ia mengenakan kerudung coklat dan gamis sederhana, lalu duduk di samping Anas. “Aku takut,” bisiknya. “Aku juga,” jawab Anas. “Tapi kita tidak sendiri.” Lalu Anas berusaha menghibur dirinya dan Anisa dengan membacakan penggalan puisinya:

Lalu-lalang peziarah mencari berkah.

Para juru parkir dan ahli zikir,

berseberangan cara berpikir.

Moga bukan karena nafsu.

Lalu mereka berdoa bersama, menyebut nama Nabi dan para wali, memohon agar kasih mereka diberi jalan. Angin malam membawa harum bunga dari penziarah yang menabur di atas makam, seakan menyetujui permohonan itu. Di antara batu nisan berlumut dan lantunan ayat, mereka menemukan kekuatan baru—bukan untuk melawan, melainkan untuk bertahan.

✦✦✦

Di bawah langit Ampel yang temaram, kasih mereka berdiri tegak. Tak lagi tunduk pada garis warisan, kasih itu menjelma pelita minyak yang terus menyala, mengalir bersama doa, menembus batas tradisi, menunggu saat untuk diterima.

Di wajah Anas dan Anisa terpantul sinar yang tak mudah padam: harapan bahwa kampung ini bisa berubah, bahwa cinta bisa menjadi jalan pulang bagi mereka yang tersesat dalam silsilah. Di tengah aroma gulai kacang hijau Sarkam dan riuh lorong tua, mereka merasakan ada ruang bagi ketulusan untuk tumbuh, bertahan, dan akhirnya dimuliakan.

“Puisi tetap peduli, meski tak dipeduli… ia menjelma pelita yang tak padam.”

Untuk tulisan lain silakan kunjungi: