May 16, 2026
WhatsApp Image 2026-05-15 at 17.32.50

(Novel Fantasi)

DETAK JAM DAN BURUNG LAUT (1)

Oleh Leni Marlina

Malam sebelum perang benar-benar tiba di kota Lunara, semua jam di kota itu berdetak mundur selama sepuluh detik. Tidak seorang pun menyadarinya kecuali Ilan. Dan sepuluh detik itu mengubah seluruh hidupnya.

Pagi di Lunara selalu lahir dari laut. Bukan dari matahari. Matahari hanya datang belakangan, malu-malu, seperti anak kecil yang terlambat memasuki ruangan penuh orang dewasa.

Tetapi laut, laut selalu bangun lebih dulu. Ia mengirim bau garam ke jalan-jalan batu. Menggoyangkan jaring-jaring ikan yang digantung para pelaut. Membawa suara burung camar yang melingkar rendah di atas pelabuhan. Dan menyelipkan embun asin pada jendela-jendela rumah tua Lunara.

Kota Lunara itu kecil. Rumah-rumahnya dibangun dari batu pucat yang mulai dimakan usia dan udara laut. Atap-atap kayunya dipenuhi lumut tipis kehijauan. Lorong-lorong sempitnya berliku seperti urat tua di telapak tangan seorang nelayan.

Tetapi bagi orang-orang yang tinggal di sana, Lunara bukan sekadar kota. Lunara adalah cara mereka bertahan dari dunia.

Di tempat-tempat lain di wilayah Elarin, perang telah mengubah manusia menjadi angka. Tetapi di kota Lunara, orang masih mengenali satu sama lain dari suara langkah kaki. Masih mengirim sup hangat kepada tetangga sakit. Masih menyalakan lentera kecil setiap malam untuk orang asing yang mati jauh dari rumah.

Sebab mereka percaya: jiwa yang mati sendirian akan tersesat di laut. Dan mungkin karena keyakinan itu pula, Lunara terasa seperti sisa kecil dunia lama yang lupa ikut hancur.

Pagi itu, kabut tipis menggantung rendah di pelabuhan. Para perempuan menjemur lavender di depan rumah mereka. Aroma bunganya bercampur dengan asin laut dan bau kayu basah.

Anak-anak kecil berlari sambil membawa ikan kecil hasil curian dari keranjang nelayan. Teriakan mereka terdengar seperti suara camar muda.

Di dekat dermaga utama, seorang lelaki tua memainkan akordeon reyot sambil menyanyikan lagu pelaut yang sudah begitu tua hingga tak seorang pun lagi tahu siapa penciptanya.

Lagu itu tentang seorang istri yang menunggu suaminya pulang dari laut selama tiga puluh tahun. Dan ketika lelaki itu akhirnya kembali, sang istri sudah terlalu tua untuk mengenalinya.

Orang-orang di kota Lunara menyukai lagu sedih. Mungkin karena kota pelabuhan selalu akrab dengan kehilangan.

Di ujung gang dekat mercusuar tua, berdiri sebuah toko kecil dengan papan kayu kusam bertuliskan: “TOKO JAM ILAN”

Huruf-hurufnya mulai memudar. Tetapi jendela toko itu selalu bersih.

Dan setiap pagi, sebelum membuka pintu, Ilan selalu menyeka debu pada lonceng kecil yang tergantung di atas kusen.

Ia tidak tahu sejak kapan kebiasaan itu dimulai. Mungkin sejak ibunya meninggal. Mungkin sejak ia mulai takut bahwa benda-benda kecil yang tidak dirawat perlahan akan merasa dilupakan.

Pagi itu, ketika ia membuka pintu toko, suara ratusan jam langsung menyambutnya.

Tik. Tik. Tik. Bunyi-bunyi kecil yang berbeda ritme namun anehnya tetap harmonis.

Kadang Ilan merasa toko itu lebih hidup daripada sebagian manusia. Jam-jam tidak pernah berteriak. Tidak berbohong. Tidak berpura-pura kuat. Mereka hanya terus berjalan sampai pegasnya lelah. Lalu berhenti. Sesederhana itu.

Ilan meletakkan tas kainnya di meja kerja. Tangannya kurus dan penuh luka-luka kecil akibat logam. Ia belum genap dua puluh tahun, tetapi matanya sering tampak lebih tua dari usianya. Terutama sejak perang mulai mendekati selatan.

Selama lima puluh tahun terakhir, perang di wilayah Elarin bergerak seperti penyakit. Kadang jauh. Kadang dekat. Kadang terdengar hanya sebagai berita dari pelaut. Kadang hadir dalam bentuk kapal pengungsi penuh mayat.

Tetapi perang tidak pernah benar-benar pergi. Dan semakin lama, manusia semakin terbiasa mendengar tentang kota yang terbakar.

Pada awal perang, orang-orang menangis ketika mendengar satu desa dihancurkan. Sekarang?

Orang hanya bertanya: Berapa korban?

Lalu melanjutkan makan malam. Ilan membenci kebiasaan itu. Tetapi diam-diam ia takut dirinya juga mulai berubah.

Ia sedang memperbaiki jam saku tua ketika lonceng pintu berbunyi. Seorang perempuan tua masuk sambil menggigil kecil.

Namanya Miren. Ia selalu memakai mantel wol abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya. “Pagi, Ilan,” katanya.

“Pagi, Nenek Miren.” Perempuan tua itu mengeluarkan jam kecil dari sakunya.

“Ia berhenti lagi.” Ilan tersenyum samar.

“Mungkin ia bosan hidup di dunia ini.” Miren tertawa pendek. Orang-orang Lunara sering bercanda tentang kesedihan agar mereka tidak tenggelam di dalamnya.

Ilan membuka penutup jam itu. Lalu alisnya sedikit bertaut. Jarumnya berhenti tepat pukul 01:01. Ia terdiam. Tiga jam lain minggu itu juga berhenti pada waktu yang sama.

“Ada yang salah?” tanya Miren.

“Mungkin cuaca,” jawab Ilan cepat.

Tetapi sesungguhnya ia mulai gelisah. Sudah beberapa malam terakhir ia mengalami mimpi aneh. Ia bermimpi berjalan di dasar laut. Langit hitam. Sunyi. Dan di kejauhan ada sesuatu yang sangat besar bergerak perlahan di antara bangkai kapal.

Ia tidak pernah melihat bentuknya dengan jelas. Tetapi setiap kali bangun, dadanya terasa penuh kesedihan yang bukan miliknya sendiri.

Setelah Miren pergi, Ilan keluar toko untuk mengambil udara. Pelabuhan semakin ramai. Namun ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Burung-burung camar terbang lebih rendah dari biasanya. Anjing-anjing tampak gelisah. Dan langit utara terlihat terlalu kelabu meski matahari mulai naik.

Di dekat toko roti, suara keributan terdengar. Ilan berjalan mendekat. Seorang lelaki pengungsi tertangkap mencuri roti. Tubuhnya sangat kurus. Janggutnya penuh garam laut. Matanya cekung seperti orang yang terlalu lama tidak tidur. Pemilik toko mencengkeram bajunya.

“Anak-anak kami juga lapar!” bentaknya.

Kerumunan mulai berkumpul. “Mereka terus datang!”

“Kota ini akan habis kalau semua pengungsi diterima!”

“Perang mereka bukan urusan kita!”

Lelaki pengungsi itu terus meminta maaf. “Anakku belum makan tiga hari…”

Suaranya pecah. Tetapi orang-orang terlalu lelah untuk mendengar penderitaan baru. Seorang anak kecil berdiri di belakang lelaki itu. Tubuhnya menggigil. Ia memeluk sepotong kain lusuh seperti harta terakhir di dunia. Ilan memandang mereka. Sesuatu yang kecil namun berbahaya muncul dalam dirinya.

Mengapa kami harus ikut hancur karena perang mereka Pikiran itu membuatnya malu. Tetapi ia tidak mampu mengusirnya. Karena ketakutan manusia sering menyamar sebagai kemarahan.

Dan perang pandai sekali menanam benih-benih kecil kebencian dalam orang biasa.
“Sudahlah,” kata Ilan akhirnya.

Ia mengeluarkan beberapa koin. “Berikan rotinya.”

Pemilik toko mendengus kesal tetapi menerima uang itu. Lelaki pengungsi itu menunduk berkali-kali sambil menangis. Ilan tidak menjawab. Ia hanya pergi. Namun langkahnya terasa berat. Karena ia sadar: ia membantu mereka bukan karena benar-benar tulus. Sebagian dirinya hanya ingin keributan itu selesai. Dan kesadaran itu lebih menyakitkan daripada rasa marah.

Saat melewati pelabuhan, ia melihat kapal pengungsi lain tiba. Orang-orang turun perlahan. Tubuh mereka tampak seperti bayangan manusia.

Seorang perempuan membawa bayi yang terlalu diam. Seorang lelaki tua memeluk sangkar burung kosong. Dan seorang anak perempuan duduk sendirian di ujung kapal sambil menatap laut tanpa berkedip. Rambutnya hitam. Mantelnya kebesaran. Tangannya menggenggam sesuatu. Peluit kayu.

Ketika salah satu relawan mencoba menyentuh bahunya, gadis itu langsung menjauh ketakutan. Tatapannya liar. Seperti binatang kecil yang terlalu sering dipukul. Ilan tidak tahu namanya. Belum. Tetapi entah mengapa, ada sesuatu dalam mata anak itu yang membuat dadanya sesak. Bukan ketakutan. Lebih mirip kelelahan yang terlalu tua untuk tubuh semuda itu.

Menjelang siang, kabut dari utara mulai turun lebih rendah. Para pelaut saling berpandangan.

“Kabut Morva,” bisik salah satu dari mereka.

Yang lain langsung menyuruhnya diam. Di kota Lunara, nama itu jarang diucapkan keras-keras. Morva adalah cerita lama. Dongeng laut. Kutukan. Sebagian orang percaya Morva adalah makhluk yang lahir dari perang pertama manusia. Sebagian lagi berkata Morva hanyalah khayalan pelaut mabuk.

Tetapi hampir semua anak Lunara tumbuh dengan satu peringatan:
jika laut mulai terlalu sunyi, jangan melihat terlalu lama ke arah utara. Karena sesuatu mungkin sedang melihat balik.

Sore hari, Ilan pergi ke rumah Taref. Lelaki tua itu tinggal dekat mercusuar dalam rumah kayu penuh buku lembap dan peta perang. Angin laut membuat pintunya selalu berderit.

Taref sedang duduk di kursi sambil membersihkan lentera tua ketika Ilan datang.
“Kau terlihat seperti seseorang yang baru kalah berjudi,” katanya.

“Pelabuhan makin penuh pengungsi,” jawab Ilan. Taref diam sesaat.

“Perang selalu membuat manusia berpindah seperti burung yang kehilangan musim.”

Ilan duduk. Ruangan itu berbau teh pahit dan kayu tua. Di dinding tergantung pedang berkarat yang tidak pernah lagi disentuh Taref. Semua warga Lunara tahu lelaki tua itu pernah menjadi tentara. Tetapi hampir tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia lakukan selama perang.

Malam mulai turun perlahan. Dari jendela kecil rumah itu, cahaya lentera Lunara mulai menyala satu per satu. Seperti bintang kecil yang sengaja diletakkan manusia agar dunia tidak terasa terlalu gelap.

Taref menuang teh. Tangannya sedikit gemetar. “Apa kau pernah merasa manusia mulai terlalu terbiasa melihat penderitaan?” tanya Ilan tiba-tiba.

Taref tidak langsung menjawab. Lelaki tua itu memandang api cukup lama sebelum akhirnya berkata: “Pada musim dingin pertama perang, aku pernah menembak seorang anak kecil.”

Ilan membeku. Suara kayu terbakar terdengar pelan di ruangan. “Kupikir ia membawa bom,” lanjut Taref.

“Ternyata hanya boneka kayu.” Napas Ilan terasa berat.

“Apa yang terjadi setelah itu?” Taref tersenyum pahit.

“Tidak ada. Perang tetap berjalan.” Kalimat itu jatuh pelan.

Dan justru karena itulah ia terasa menghancurkan. Tidak ada. Seorang anak mati. Dan dunia terus bergerak.

“Aku dulu mengira manusia terbiasa membunuh karena mereka kejam,” kata Taref.

“Tetapi sebenarnya sebagian besar manusia menjadi kejam karena mereka terlalu lelah merasa sedih.”

Ilan menunduk. Di luar, angin mulai menguat. Laut nampak lebih gelap dan terdengar lebih sunyi dari biasanya. Saat Ilan pulang malam itu, seluruh Lunara telah menyalakan lentera.

Cahaya kecil bergetar di sepanjang jalan batu. Seorang ibu sedang menyanyikan lagu tidur. Beberapa pelaut mabuk tertawa di dekat dermaga. Dan dari kejauhan, mercusuar tua terus memutar sinarnya ke arah laut.

Kota Lunara tampak damai. Terlalu damai. Ketika Ilan memasuki tokonya, ia mendengar sesuatu. Detak jam. Tidak biasa. Ia menoleh. Seluruh jam di tokonya bergerak mundur.

Satu detik. Dua.Tiga. Jantung Ilan berdegup keras. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh. Lalu semuanya berhenti. Sunyi. Sesaat kemudian seluruh jam kembali berdetak normal. Ilan berdiri kaku. Tangannya dingin. Lalu seluruh lonceng kota berbunyi bersamaan.

Suara lonceng itu mengguncang kota Lunara. Orang-orang membuka jendela. Anjing melolong. Dan seekor camar tiba-tiba jatuh mati tepat di depan toko Ilan. Ia keluar perlahan. Burung itu masih hangat Tetapi matanya kosong.
Di paruhnya tersangkut sesuatu. Sehelai rambut manusia.

Angin laut mendadak berhenti. Dan jauh di utara, di balik kabut hitam yang perlahan bergerak turun ke laut, sesuatu membuka matanya.

…… (✍️Cerita bersambung. Nantikan kelanjutannya di BAB II Novel Fantasy “Kabut Morva di Atas Kota Lunara” karya Leni Marlina. Sampai jumpa di kisah berikutnya)

——
Silahkan baca juga prolog novel di link resmi berikut:

1. https://suaranegerinews.com/edukasi/kabut-morva-di-atas-kota-lunara/

2. https://negerinews.com/sastra/morva-di-atas-kota-lunara/

3. https://suaraanaknegerinews.com/kabut-morva-di-atas-kota-lunara/

4. https://www.suaraanaknegeri.com/sastra/kabut-morva-di-atas-kota-lunara