KESEMPATAN TERAKHIR
Oleh: Rizal Tanjung
–
Aku datang ke kotamu seperti pengembara,
bukan dengan kuda gagah, bukan dengan mahkota,
hanya hati yang menganga, luka menganga,
dan kau? Kau di sana, bersandar di singgasana,
mengukur cinta dengan timbangan emas dan kata-kata.
Beri aku kesempatan, sekali saja, katanya.
Tapi, kesempatan untuk apa?
Untuk melihat kau berpaling lagi?
Untuk menghitung detik sebelum kau pergi?
Atau sekadar membiarkan mataku jadi museum
tempat kunang-kunang harapan mati tenggelam?
Aku mencari, tapi kau suka sembunyi.
Seperti teka-teki yang jawabannya tak pernah pasti.
Kemana aku harus mencarimu?
Di antara janji-janji yang kau lempar lalu kau lupa?
Di lorong-lorong sunyi tempat rindu jadi hantu?
Atau di dalam hatiku sendiri, yang kau tinggalkan kosong begitu?
Dengar, wahai yang tak setia.
Beri aku kesempatan untuk bertanya:
Kenapa kau mencintaiku kalau akhirnya kau berpaling juga?
Kenapa kau menjanjikan surga, tapi menyuruhku hidup di neraka?
Atau mungkin, cinta bagi kita hanyalah komedi,
aku badutnya, kau penontonnya, dan setianya mati?
Malam ini, bibirku gemetar, bukan karena rindu,
tapi karena lelah menjilat luka yang kau buat sendiri.
Mataku ingin hujan, tapi bahkan air mata pun tahu,
kau tak layak mendapatkannya lagi.
Jadi, beri aku kesempatan terakhir, sekali saja.
Kesempatan untuk membalikkan punggung,
menghapus namamu dari puisi,
dan menertawakan cinta yang nyaris menjadi tragedi.
Padang, 29 November 2024.