SEDIKIT MENIKMATI MUSIK, PUISI DAN LUKISAN
Oleh Denny JA
–
Suatu pagi yang kelabu di tahun 1916, kabut turun perlahan di sebuah kota kecil di Yorkshire, Inggris. Udara dingin seperti menahan napas.
Di jalanan yang basah, seorang perempuan berdiri terpaku, menggenggam secarik surat dengan tangan gemetar.
Ia belum membuka. Namun ia sudah tahu.
Nama suaminya, yang dahulu bernyanyi di gereja setiap Minggu, kini hanya tinggal tinta. Dingin. Diam. Final.
Di rumah lain, seorang ibu menutup jendela rapat. Ia tak sanggup lagi mendengar langkah kaki kurir. Setiap ketukan pintu bukan sekadar suara. Ia adalah ancaman yang bisa merobek hidup dalam satu detik.
Kota itu masih berdiri. Tapi jiwanya perlahan runtuh.
Lalu, di tengah duka yang menumpuk seperti musim dingin yang tak pernah selesai, beberapa orang berkumpul di sebuah aula tua. Mereka berdiri berderet. Tidak sempurna. Tidak siap.
Suara pertama pecah. Sumbang. Ragu. Namun suara kedua menyusul. Lalu yang ketiga. Perlahan, mereka menemukan satu sama lain.
Mereka bernyanyi.
Bukan untuk merayakan hidup.
Tetapi agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam kehilangan.
-000-
The Choral (2025) adalah karya yang lahir dari keheningan yang dalam.
Disutradarai oleh Nicholas Hytner, dengan naskah yang ditulis Alan Bennett, film ini menghadirkan pertemuan antara disiplin teater dan kepekaan sinema dalam bentuk yang nyaris tak bersuara, namun menghantam pelan.
Ralph Fiennes memerankan Dr. Henry Guthrie dengan intensitas yang ditahan. Ia tidak meledak. Ia menyimpan. Dan justru di situlah kekuatannya. Setiap tatapan matanya terasa seperti medan perang yang tak pernah diceritakan.
Didukung oleh Roger Allam, Mark Addy, dan Simon Russell Beale, film ini terasa seperti panggung yang hidup, tetapi tanpa batas dinding.
Sinematografi oleh Mike Eley memeluk kesunyian. Warna abu-abu, cahaya yang tertahan, ruang yang seolah enggan terang. Kamera sering diam terlalu lama, seakan menunggu emosi itu muncul sendiri.
Musik karya George Fenton tidak mengiringi cerita. Ia menjadi cerita itu sendiri.
Film ini tidak berusaha memukau. Ia memilih untuk tinggal. Lama. Sampai penonton tak punya pilihan selain merasakan.
-000-
Kisah dimulai dengan sebuah kota yang kehilangan suaranya. Para pria pergi ke perang. Paduan suara hampir mati. Yang tersisa hanyalah mereka yang menunggu tanpa kepastian.
Lalu datang Dr. Guthrie.
Ia tidak disambut. Ia dicurigai. Ia berbeda. Dunia sedang penuh dengan kecurigaan, dan ia membawa jejak yang tak mudah diterima.
Namun ia membawa sesuatu yang lebih langka daripada keberanian di medan perang. Ia membawa keyakinan bahwa manusia masih perlu mencipta.
Ia mengumpulkan siapa saja. Remaja yang belum sempat dewasa. Pekerja yang lelah. Tentara yang pulang dengan tubuh utuh tetapi jiwa yang retak.
Ia memilih karya besar, The Dream of Gerontius karya Edward Elgar, sebuah komposisi tentang perjalanan jiwa menuju kematian.
Di tengah latihan, kabar duka datang satu per satu.
Satu nama hilang.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Dan pada satu malam, di tengah kelelahan dan keputusasaan, Guthrie berdiri di depan mereka. Ia tidak berteriak. Ia hanya berkata pelan:
“Untuk tetap sehat, manusia harus memberi ruang pada musik, puisi, dan lukisan.”
Ia tidak sedang mengajarkan seni. Ia sedang menyelamatkan jiwa mereka. Konser akhirnya tiba.
Di tengah nyanyian itu, seorang ibu di barisan penonton tiba-tiba menutup wajahnya.
Air matanya jatuh tanpa suara. Lagu itu adalah lagu terakhir yang pernah dinyanyikan anaknya sebelum berangkat ke perang.
Dan di saat itulah, musik tidak lagi terdengar seperti musik. Ia menjadi perpisahan. Ia menjadi doa.
-000-
Lama saya terserap dalam kisah film ini. Merenungkannya, saya terus meresapi tiga gagasan utamanya.
Renungan pertama: manusia tetap mencari harmoni, bahkan ketika dunia runtuh.
Perang merenggut lebih dari sekadar nyawa. Ia merampas struktur makna. Ia membuat hidup kehilangan pola.
Namun manusia menolak hidup dalam kekacauan total.
Mereka menyusun suara.
Mereka mencari nada yang tepat.
Mereka mencoba selaras.
Bukan karena dunia sudah baik.
Tetapi karena tanpa harmoni, mereka akan hancur dari dalam.
Paduan suara itu bukan sekadar kelompok penyanyi. Ia adalah usaha kolektif untuk mengatakan bahwa hidup belum selesai.
Bahwa di tengah retakan yang tak bisa diperbaiki, masih ada bagian kecil yang bisa disatukan.
Dan mungkin, justru di bagian kecil itulah manusia menemukan alasan untuk terus berdiri.
-000-
Renungan kedua: seni bukan pelarian, melainkan keberanian untuk merasakan sepenuhnya.
Musik dalam film ini tidak menenangkan. Ia membuka luka.
Ia memperbesar kehilangan.
Ia membuat yang tersembunyi menjadi tak terelakkan.
Namun di situlah letak kekuatannya.
Karena yang paling berbahaya bukanlah rasa sakit. Yang paling berbahaya adalah mati rasa.
Para penyanyi itu tidak bernyanyi untuk melupakan. Mereka bernyanyi agar tetap bisa merasa.
Dan selama manusia masih bisa merasa, ia belum sepenuhnya kalah.
Seni menjadi cara terakhir untuk mempertahankan kemanusiaan.
Ia tidak mengubah dunia.
Tetapi ia menjaga agar jiwa manusia tidak ikut hancur bersama dunia.
-000-
Renungan ketiga: kita tidak memilih zaman, tetapi kita memilih bagaimana hadir di dalamnya.
Para pemuda itu tahu mereka mungkin tidak akan kembali. Mereka berdiri di antara dua dunia. Yang satu adalah kehidupan yang mereka kenal. Yang lain adalah kematian yang menunggu.
Namun mereka tetap hadir.
Mereka tidak menunda hidup.
Mereka tidak menunggu dunia membaik.
Mereka memilih untuk hidup sekarang. Dengan segala ketidakpastian. Dengan segala ketakutan.
Dan dalam pilihan sederhana itu, terdapat sesuatu yang sangat dalam. Martabat.
Bahwa manusia tetap manusia, bukan karena ia selamat dari nasib, tetapi karena ia berani menjalani nasib itu dengan kesadaran penuh.
-000-
Dua buku ini memperkaya pemahaman kita tentang apa yang terjadi dalam film ini.
The Healing Power of Music menjelaskan bahwa musik bekerja jauh melampaui telinga. Ia masuk ke sistem saraf, memengaruhi ritme jantung, bahkan membantu tubuh menghadapi trauma dan penyakit.
Gaynor menunjukkan bahwa musik memiliki kekuatan terapeutik yang tidak selalu disadari. Ia bukan sekadar hiburan, tetapi mekanisme penyembuhan yang bekerja di tingkat biologis dan emosional.
Dalam konteks The Choral, apa yang dilakukan para penyanyi bukan sekadar aktivitas seni. Mereka sedang, tanpa sadar, menyembuhkan diri mereka sendiri. Setiap nada menjadi ruang untuk bernapas.
Setiap harmoni menjadi jembatan antara rasa sakit dan penerimaan. Buku ini membantu kita memahami bahwa ketika kata-kata gagal menjelaskan penderitaan, musik mengambil alih sebagai bahasa yang lebih jujur.
-000-
Dalam Man’s Search for Meaning, Frankl menulis dari pengalaman paling ekstrem sebagai tahanan kamp konsentrasi.
Ia menyaksikan bagaimana manusia kehilangan segalanya, namun tetap bisa bertahan jika menemukan makna. Ia menegaskan bahwa penderitaan tidak selalu bisa dihindari, tetapi sikap terhadap penderitaan selalu bisa dipilih.
Film The Choral menjadi ilustrasi hidup dari gagasan ini. Para tokohnya tidak bisa menghindari perang. Mereka tidak bisa mengubah kenyataan. Namun mereka memilih untuk memberi makna pada penderitaan itu.
Mereka memilih untuk bernyanyi. Dalam pilihan itu, mereka menemukan alasan untuk tetap hidup secara utuh.
Buku ini mengajarkan bahwa makna bukan sesuatu yang datang dari luar, tetapi sesuatu yang dibangun, bahkan dalam kondisi paling gelap sekalipun.
-000-
Film ini justru terasa lebih kuat karena berakar pada inspirasi nyata: Huddersfield Choral Society, kelompok paduan suara legendaris Inggris yang tetap bernyanyi melewati masa perang dan kehilangan.
Dari sana, film ini menyerap denyut sejarah, menjadikan fiksi ini berakar, bernapas, dan terasa seperti ingatan kolektif yang hidup.
Pada akhirnya, The Choral bukan hanya tentang perang, atau musik, atau kehilangan.
Ia adalah tentang apa yang tersisa ketika hampir semua diambil.
Dan jawabannya ternyata sederhana.
Sedikit musik.
Sedikit puisi.
Sedikit lukisan.
Cukup untuk menjaga jiwa tetap bernapas. Di Ambon, Aceh, Palu, hingga lereng Merapi, kita berulang kali menyaksikan hal serupa: ketika rumah roboh dan tatanan runtuh, justru musik, doa, dan gambar sederhana yang pertama kali menyatukan kembali manusia.
Karena mungkin, harapan tidak selalu datang sebagai kemenangan besar.
Kadang ia hanya hadir sebagai satu suara kecil, yang berani tetap bernyanyi di tengah dunia yang runtuh.
Pada akhirnya, seni adalah jejak yang kita tinggalkan saat raga menyerah. Ia membuktikan bahwa meski hidup bisa dihentikan oleh peluru, getaran harmoni akan selalu menemukan cara untuk tetap abadi.**
Jakarta, 11 April 2026
REFERENSI
1.Man’s Search for Meaning, Viktor E. Frankl, Beacon Press, 2006
2.The Healing Power of Music, Mitchell L. Gaynor, Shambhala Publications, 2002
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/1E4X3aDFnn/?mibextid=wwXIfr