Suara dari Seminari Manila: Pesan Paskah Seorang Imam Tanimbar
Oleh : joko
http://suaraanaknegerinews.com | Manila, Filipina – Di tengah hiruk-pikuk ibukota Filipina, suara teduh penuh refleksi terdengar dari Central Seminary Universitas Santo Tomas (UST) Manila, Sabtu 24 Mei 2025.
Di tempat yang menjadi pusat formasi imam Katolik itu, seorang putra daerah Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku, RD. Domincs Baldawins Masriat, menyampaikan secercah renungan iman kepada media Sejenak Sabda yang menjadi saluran spiritualitasnya bagi banyak umat.
Sebagai Pastor Mahasiswa UST Manila, Romo Domin, demikian ia akrab disapa, tak henti menyulut harapan melalui pesan-pesan rohaninya.
Dalam edisi reflektif bertajuk Pesan Tuhan Hari Ini, ia mengangkat makna penghayatan akan penderitaan dan kebangkitan, merujuk pada bacaan liturgi hari itu: Kisah Para Rasul 16:1-10 dan Injil Yohanes 15:18-21.
“Kita bukanlah anak-anak dunia lagi karena pembaptisan,” ungkapnya mengawali pesan harian. “Kita adalah anak-anak Allah, dan karena itu apa yang dialami Yesus pun akan kita alami.”
Bagi Romo Domin, jalan salib bukan sekadar sejarah Yesus, melainkan juga realitas hidup orang beriman.
Pencobaan, penganiayaan, hingga penderitaan dianggapnya sebagai bagian wajar dalam kehidupan kristiani.
Namun, ia mengingatkan bahwa akhir dari semua itu bukan keputusasaan, melainkan kebangkitan bersama Kristus.
“Kristus menerima kita, bahkan ketika dunia menolak kita. Maka tetaplah bersabar, tetaplah bersemangat mewartakan kebaikan dan kebenaran,” katanya.
Sambungnya dalam sapaan yang diselingi dengan doa sederhana namun mendalam: “Ya Yesus, semoga kami mampu bertahan dalam penderitaan yang kami alami.”
Dalam balutan kesederhanaan dan kerendahan hati, RD. Domincs terus menyalurkan kekuatan spiritual kepada sesama, tidak hanya bagi umat Katolik Indonesia di Filipina, tetapi juga mereka yang haus akan penguatan iman di mana pun mereka berada.
Di akhir pesannya, ia menutup dengan salam penuh kasih: “Salam kasih dan doaku.”
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, suara dari seminari di Manila ini menjadi oase rohani yang menyejukkan.
Sebuah pengingat bahwa iman bukanlah tentang bebas dari penderitaan, melainkan tentang keberanian untuk tetap setia di tengah penderitaan itu, bersama Kristus yang telah bangkit.