Swadaya Warga Saumlaki Perbaiki Jalan, Harap Perhatian Pemerintah
Jalan Rusak Bertahun-tahun, Warga Saumlaki Bergerak Sendiri
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – Warga RT 005/RW 05 di belakang Kantor Pengadilan Negeri Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, memilih bergerak sendiri memperbaiki jalan rusak yang telah mereka alami selama lebih dari satu dekade.
Kesabaran warga akhirnya mencapai batas setelah bertahun-tahun menghadapi kondisi jalan yang becek dan tergenang air setiap hujan turun.
Jalan tersebut menjadi satu-satunya akses penting menuju sekolah, kantor, hingga pasar, sehingga kerusakan yang terus berulang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perbaikan Swadaya Tanpa Dukungan Anggaran
Pada Sabtu (2/5/2026), warga melaksanakan gotong royong menimbun jalan menggunakan batu, tanah, hingga beton bekas. Tanpa alat berat dan tanpa dukungan anggaran pemerintah, perbaikan dilakukan secara swadaya dengan kemampuan terbatas.
Ketua RT setempat, Nikolaus Son Wailola (56), menyebut kondisi jalan tersebut sudah berlangsung lama tanpa penanganan memadai. “Jalan ini sudah 10 tahun lebih rusak, sudah 5 ret material yang digunakan untuk perbaikan jalan berlobang. Warga mengumpulkan uang Rp100.000 per kepala keluarga, ada 100 KK lebih,” ujarnya.
Harapan kepada Pemerintah Daerah
Ia menegaskan bahwa langkah ini diambil karena warga tidak lagi memiliki pilihan lain selain memperbaiki sendiri akses yang mereka gunakan setiap hari. “Kami sebagai ketua RT kami mohon pemerintah daerah bisa melihat kondisi jalan ini, di belakang kantor pengadilan negeri Saumlaki, RT 005/RW 05,” lanjutnya.
Apriyanto D. Wulang (46) warga setempat menggambarkan kondisi jalan sebagai akses vital yang tidak memiliki alternatif lain, terutama saat hujan turun dalam waktu lama. “Ini lokasi akses satu-satunya jalan yang sering dilalui masyarakat, bila hujan deras sampai 2 sampai 3 hari, mau ke sekolah, kantor, ke pasar dan lain sebagainya, ini jalan satu-satunya yang kami bisa lewati,” ungkapnya.
Keterbatasan Material dan Kendala Teknis
Warga mengumpulkan dana secara swadaya, dengan iuran sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per kepala keluarga. Dana tersebut digunakan untuk membeli material sirtu yang diangkut menggunakan truk, meski jumlahnya terbatas. “Dana terkumpul kami hanya bisa membeli material sirtu sekitar 4 ret… bila 4 ret sirtu ini tidak cukup kami akan lanjut lagi di bulan depan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa upaya perbaikan sebelumnya pernah dilakukan pemerintah daerah melalui dinas terkait, namun terkendala persoalan teknis di lapangan, termasuk status lahan yang masih milik perorangan. “Memang ada kendala tekhnis di lapangan terkait harga tanah, karena tanah ini milik perorangan sehingga memang agak sulit,” jelasnya.
Langkah swadaya ini menjadi potret nyata ketimpangan perhatian pembangunan di wilayah perkotaan Saumlaki, di mana warga harus menanggung sendiri perbaikan infrastruktur dasar.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah melalui dinas terkait belum memberikan konfirmasi.
Gotong royong yang dilakukan warga menjadi bukti kuat solidaritas masyarakat dalam menghadapi keterbatasan.
Namun di sisi lain, harapan tetap disuarakan agar pemerintah daerah dapat hadir memberikan solusi permanen, sehingga akses vital tersebut dapat berfungsi layak dan aman bagi seluruh warga.(rls:jk)