April 1, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

Di suatu pagi yang lembap, di tepi halaman rumah yang sepi, seekor ulek bulu merayap perlahan di antara rerumputan. Tubuhnya kecil, mungil, seolah tak berdaya—hanya sebesar ujung lidi. Namun punggungnya dilapisi bulu-bulu halus yang seperti benang tipis cahaya, bergetar setiap kali angin lewat. Keindahan itu menipu; ia tak bersuara, tak bergigi tajam, tapi di balik kelembutannya, ia membawa racun tak terlihat.

Ketika bulu itu beterbangan, ia mencari kulit yang lengah. Menempel tanpa bunyi, menyalakan rasa gatal yang merayap dari pori-pori hingga ke sumsum. Gatal itu menjalar, mengubah tubuh menjadi ladang merah yang bengkak, membuat tidur terganggu dan kesabaran tergerus. Inilah ironi alam: tak semua yang kecil tak berbahaya, dan tak semua yang lembut menenangkan jiwa.

Namun, alam bukan satu-satunya panggung bagi ulek bulu. Di gelanggang seni, di pasar ide, dan di halaman sejarah, ia menjelma dalam rupa lain—manusia ulek bulu. Lebih tepatnya: seniman ulek bulu.

Mereka tak memegang kuas, tak menulis puisi, tak memahat patung, tak menggubah musik. Namun mereka rajin hadir di pertemuan para kreator, menghirup aroma pengakuan yang bukan miliknya. Mereka memungut serpih-serpih percakapan orang berkarya, lalu memolesnya di lidah seolah milik mereka sendiri. Mereka adalah penumpang di kapal seni, tapi tidak pernah membantu mengayuh.

Ketika perdebatan berlangsung, seniman ulek bulu ini fasih bicara tentang teori, estetika, bahkan moral—meski hanya dari buku yang dibacanya sambil setengah mengantuk. Dan ketika logika mereka kalah, ketika argumen mereka runtuh, mereka mengeluarkan senjata terakhir: fitnah.

Fitnah adalah jurus pamungkas para pecundang—mereka yang sudah kehabisan logika namun masih ingin terlihat benar di hadapan dunia yang bahkan tak peduli. Sejak ribuan tahun lalu, Socrates telah menyentil penyakit ini: ketika akal buntu, mulut mulai memuntahkan racun. Yang tak sanggup berpikir akan menyerang pribadi, bukan ide.

Peradaban tidak membusuk karena serangan dari luar. Ia membusuk dari dalam—oleh dusta yang diulang-ulang, oleh kebiasaan membangun opini dari kabut, oleh manusia yang lebih mencintai kemenangan instan daripada kebenaran abadi.

Perdebatan sehat menuntut integritas; ia seperti duel pedang yang menuntut keahlian dan kehormatan. Tapi si ulek bulu memilih pisau kecil beracun yang disembunyikan di lengan baju. Ia menusuk diam-diam, lalu pura-pura tak tahu. Publik, jika lengah, akan menelan racunnya mentah-mentah.

Membasmi ulek bulu di halaman rumah sederhana: injak dengan telapak sepatu, tekan hingga tubuhnya menyatu dengan tanah, lalu gosokkan alas sepatumu di rerumputan agar tak ada bulu yang tertinggal. Tetapi membasmi seniman ulek bulu jauh lebih sulit, karena ia bukan sekadar tubuh yang bisa diinjak—ia adalah kebiasaan, cara hidup, dan penyakit lidah.

Fitnah tidak mati dengan sekali pukul. Ia beranak-pinak di mulut-mulut yang haus perhatian. Ia menyamar sebagai bisikan ramah, sebagai gurauan ringan, bahkan sebagai “kritik konstruktif” yang ternyata penuh jebakan.

Di beberapa kampung tua, ada cerita yang diwariskan dari nenek-nenek mereka: tentang Ulek Bulu yang pernah menjadi manusia. Konon, ia adalah seorang makelar kesenian yang tamak. Ia menghasut para seniman agar saling mencurigai, hingga peradaban hancur dan silahturahmi terputus. Sebagai kutukan, ia dinobatkan menjadi seniman ulek bulu, agar setiap kali ia mengibaskan tubuhnya, orang-orang merasakan perih seperti luka batin yang ia taburkan.

Dongeng itu adalah peringatan: fitnah bukan hanya merusak lawan, tapi meruntuhkan diri sendiri. Mereka yang menanam dusta, kelak akan dipanen oleh keturunannya sebagai aib.

Lidah seniman ulek bulu ibarat bulu-bulu halus itu: nyaris tak terlihat, nyaris tak terdengar, tetapi mampu merobek harga diri dan persahabatan. Ia tak berteriak; ia berbisik. Ia tak menghantam; ia menyentuh perlahan hingga gatal itu menjadi luka.

Peradaban akan hancur bukan oleh dentuman meriam atau longsoran batu, melainkan oleh. kelembutan yang penuh racun. Oleh mereka yang menyamar sebagai teman, tapi diam-diam menanam gatal di tubuh sejarah.

Jika engkau ingin menjaga kesenian, kebudayaan, atau martabat, waspadalah pada ulek bulu di sekitarmu. Waspadalah pada kelembutan yang menyembunyikan duri, pada senyum yang menyimpan racun, pada kata-kata yang dibuat manis untuk menyamarkan busuk.

Dan jika suatu hari engkau menemukan ulek bulu—baik di halaman maupun di meja rapat ide—jangan beri ia waktu untuk berkembang. Karena sekali ia mulai menyebarkan bulu, gatalnya akan mengganggu tidur generasi.

Maka, ingatlah: tidak semua yang menggelitik itu mengundang tawa. Ada yang menggelitik hanya untuk mengundang luka.

Sumatera Barat,2025