100 Hari Kepemimpinan F.X. Mote dan Yoel Boari: Dari Pinggiran Menuju Perubahan
Laporan Paulus Laratmase
–
Dalam hitungan waktu yang masih sangat muda—baru sebulan masa kerja—Bupati Drs. F.X. Mote, M.Si dan Wakil Bupati Yoel Boari telah menghadirkan angin segar yang begitu terasa bagi masyarakat Kabupaten Waropen.
Terpilih melalui proses demokrasi pada Pilkada 27 November 2024, keduanya tampil bukan sekadar sebagai pemimpin administratif, tetapi sebagai figur pelayan rakyat, yang merangkul semua golongan dan mendengar detak jantung masyarakat Waropen dari pusat hingga pelosok.
Waropen adalah daerah kaya akan sumber daya alam, namun kemiskinan struktural serta keterisolasian wilayah akibat minimnya konektivitas transportasi laut dan udara telah menjadi luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Masyarakat selama bertahun-tahun menanti kehadiran pemimpin yang benar-benar mampu menyentuh akar persoalan, bukan sekadar janji politik. Dan kini, harapan itu mulai terasa nyata.
Salah satu tonggak besar dalam 100 hari pertama adalah beroperasinya kembali KM. Doloronda di pelabuhan Waropen. Setelah bertahun-tahun vakum, kehadiran kapal ini tidak hanya menjadi simbol pembukaan akses laut, tetapi juga membuka keran ekonomi, perdagangan, serta rasa kehadiran negara bagi masyarakat pesisir dan pulau-pulau sekitar. Masyarakat yang selama ini harus menempuh rute sulit dan mahal kini kembali tersenyum melihat harapan baru berlabuh di dermaga Waropen.
Tidak hanya laut, udara pun mulai bersahabat kembali dengan Waropen. Pendaratan pesawat Twin Otter di Bandara Waropen pada 7 April 2025 menandai momentum penting dari perjalanan 100 hari kerja kepemimpinan baru. Ini adalah bukti nyata komitmen F.X. Mote dan Yoel Boari dalam membenahi infrastruktur vital yang selama ini tertidur.
Transportasi udara yang sebelumnya hanya mimpi, kini menjadi kenyataan yang membawa harapan lebih besar untuk mobilitas, pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi.
Lebih jauh, perhatian terhadap masyarakat adat menjadi cermin nyata keberpihakan mereka terhadap akar budaya dan identitas Waropen.
Dengan memberikan mandat langsung kepada Dewan Adat dan Lembaga Masyarakat Adat untuk melakukan pemetaan suku dan keret, serta menyelenggarakan Musyawarah Besar Masyarakat Adat pada Mei 2025 mendatang, mereka menjadikan masyarakat adat bukan hanya simbol, tetapi subjek pembangunan. Pendekatan ini mencerminkan bahwa pembangunan Waropen tidak bisa dilepaskan dari kearifan lokal dan nilai-nilai tradisional.
Kepemimpinan yang responsif juga terlihat saat menangani kebakaran pasar beberapa waktu lalu. Tidak hanya hadir secara fisik, keduanya menunjukkan empati serta langkah cepat dalam memastikan warga terdampak mendapat perhatian.
Begitu pula saat pelaksanaan Idul Fitri 1446 H yang berjalan penuh kedamaian, sebagai refleksi kuatnya toleransi antarumat beragama yang difasilitasi dengan arif oleh F.X. Mote dan Yoel Boari.
Dari sisi birokrasi, Mote dan Boari menunjukkan kelasnya. Alih-alih melakukan perombakan instan terhadap pejabat-pejabat ASN pasca Pilkada, mereka mengambil sikap sebaliknya. Tidak ada balas dendam politik. Yang ada adalah dorongan moral bagi semua ASN untuk bekerja lebih baik. Perubahan, jika terjadi, akan berbasis pada evaluasi kinerja, bukan kepentingan politik. Ini menjadi bukti integritas mereka dalam meletakkan fondasi birokrasi yang bersih, loyal dan melayani.
Tak ketinggalan, langkah berani mereka dalam memperkuat peran Kabupaten Waropen di Bank Papua menunjukkan visi jauh ke depan. Dengan menghadiri langsung RUPS Bank Papua, mereka mengukuhkan posisi Waropen dalam pengambilan kebijakan ekonomi regional, menjadikan Bank Papua sebagai salah satu motor utama penggerak pembangunan ekonomi daerah.
Aksesibilitas sebagai Prioritas Dalam 100 hari pertama, F.X. Mote dan Yoel Boari menunjukkan bahwa membuka keterisolasian Waropen lewat transportasi laut dan udara adalah prioritas utama. Ini menjadi dasar kemajuan di berbagai sektor lainnya. Pelibatan Masyarakat Adat dalam Pembangunan Langkah strategis dengan melibatkan lembaga adat membuktikan bahwa kepemimpinan mereka menghargai identitas lokal sebagai kekuatan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Kepemimpinan Partisipatif dan Bebas Dendam Politik Dengan tidak melakukan perombakan birokrasi secara emosional, keduanya membangun budaya kerja berdasarkan kinerja dan loyalitas terhadap negara, bukan sekadar loyalitas politik.
Waropen kini tidak lagi diam di persimpangan. Di bawah kendali Drs. F.X. Mote- Yoel Boari, kabupaten Waropen mulai bergerak ke arah yang lebih terang, dengan semangat pelayanan, kolaborasi, dan semangat “Bersatu Itu Kuat.”