April 23, 2026

Paus Fransiskus Menunjuk Pastor Dr. Bernard Baru Sebagai Uskup Timika, Menggantikan Mgr. Saklil

ukusp timika baru dan pastor paroki

New Bishop of the Diocese of Timika, Father Dr. Bernard Baru, OSA (left), and Parish Priest of the Christ the King Cathedral in Timika, Father Amandus Rahadat, Pr (right).

Dilaporkan oleh Paulus Laratmase

Biak-suaraanaknegerinews.com,- Paus Fransiskus Menunjuk Pastor Bernard Baru Sebagai Uskup Timika, Menggantikan Mgr. Saklil Pada Sabtu, 8 Maret 2025, Paus Fransiskus resmi mengangkat Pastor Bernard Bofitwos Baru, OSA, sebagai Uskup Keuskupan Timika. Pengumuman ini disampaikan tepat pukul 12.00 waktu Roma atau pukul 20.30 WIT di Papua. Penunjukan ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Keuskupan Timika, yang telah mengalami kekosongan kepemimpinan selama lima tahun setelah wafatnya Uskup pertama Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, pada tahun 2019.

Uskup Baru, yang berasal dari Dusun Bakrabiy, Mare, Papua Barat, adalah seorang biarawan Agustinian yang telah berpengalaman dalam pelayanan gereja di Indonesia. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Superior Ordo Santo Agustinus Keuskupan Manokwari-Sorong. Pendidikan teologi dan misiologinya pun sangat mumpuni, dengan gelar doktor bidang Misiologi yang diraihnya di Universitas Kepausan Urbaniana, Roma, pada tahun 2017. Penunjukan ini menandai awal perjalanan baru bagi Keuskupan Timika, yang memiliki tantangan besar, baik dari sisi sosial, budaya, maupun geografi.

Keuskupan Timika, yang merupakan bagian dari Keuskupan Agung Merauke, terletak di wilayah Papua Tengah, tepatnya di lereng Gunung Nemangkawi. Wilayah ini dikenal memiliki keragaman budaya yang sangat tinggi serta tantangan sosial yang kompleks. Oleh karena itu, sebagai Uskup baru, Pastor Bernard Baru diharapkan dapat memberikan arahan pastoral yang bijaksana, sekaligus melanjutkan perjuangan sosial yang telah digalang oleh Mgr. Saklil dalam memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi umat Katolik di tanah Papua.

Pengumuman Penunjukan di Gereja Katedral Timika

Pengumuman penunjukan Uskup Bernard Baru sebagai Uskup Timika disampaikan dalam Misa yang dipimpin oleh Administrator Keuskupan Timika, Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr. Misa digelar di Gereja Katedral Tiga Raja Timika pada pukul 20.00 WIT dan juga disiarkan langsung melalui live streaming Komsos Keuskupan Timika serta Keuskupan Jayapura.

Dalam kesempatan tersebut, Pastor Marthen membacakan surat dari Mgr. Piero Pioppo, Nuncio Apostolik Indonesia, yang mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan kepada seluruh umat dan komponen Keuskupan Timika atas dedikasi mereka dalam menjaga gereja tetap berjalan meskipun dalam masa kekosongan kepemimpinan.
“Sukacita saya semakin besar saat mengumumkan bahwa Bapa Suci Paus Fransiskus telah memilih Pater Bernardus Bofitwos Baru, OSA, sebagai Uskup Timika yang baru,” ujar Pastor Marthen, yang disambut tepuk tangan meriah dari umat yang hadir. Mgr. Pioppo juga menyampaikan terima kasih kepada Pastor Administrator atas kerjasamanya dalam memimpin Keuskupan Timika selama masa transisi ini.

Tantangan Baru dan Harapan untuk Keuskupan Timika

Dalam sambutannya, Uskup Bernard Baru menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada umat di Papua atas doa dan dukungan yang terus mengalir selama lima tahun terakhir, terutama selama masa kekosongan jabatan Uskup. Ia mengungkapkan bahwa penunjukannya sebagai Uskup Timika adalah sebuah panggilan yang penuh tanggung jawab, meskipun pada awalnya ia merasa ragu, mirip dengan pengalaman Santo Agustinus yang menolak jabatan Uskup karena merasa terbebani oleh tanggung jawab besar yang menyertainya.

Uskup Bernard menceritakan bagaimana Santo Agustinus menolak untuk menjadi Uskup karena takut akan godaan kesombongan dan kekuasaan. Namun, akhirnya Agustinus menerima panggilan itu karena merasa itu adalah kehendak Tuhan. Begitu pula dengan dirinya, meskipun pada awalnya ia lebih memilih untuk hidup dalam kontemplasi sebagai seorang biarawan, ia merasa terpanggil untuk melayani umat di Keuskupan Timika. “Saya tidak punya cita-cita menjadi Uskup. Saya lebih suka hidup dalam doa dan keheningan. Tetapi, gereja Papua membutuhkan saya, dan saya siap menerima tugas ini sebagai panggilan dari Kristus,” ujarnya.

Perjalanan Pendidikan dan Pengabdian Pastor Bernard Baru

Perjalanan hidup Uskup Bernard Baru adalah perjalanan yang panjang dan penuh dedikasi. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD YPPK Suswa, ia melanjutkan ke SMP Santo Don Bosco di Fakfak dan SMA Agustinus di Sorong. Pada tahun 1995, ia melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Pastoral Katolik (STPKat) di Semarang, Jawa Tengah, sebelum akhirnya melanjutkan studi teologi di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur di Abepura. Pada 2017, ia meraih gelar doktor dalam bidang Misiologi dari Universitas Kepausan Urbaniana, Roma.

Pengalaman panjangnya di Ordo Santo Agustinus dan Keuskupan Manokwari-Sorong memberinya banyak wawasan tentang kehidupan rohani dan pastoral di Indonesia. Setelah kembali ke Indonesia, ia terlibat dalam berbagai tugas pelayanan gereja dan membantu memperkuat struktur gereja di Papua. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Superior Ordo Santo Agustinus Keuskupan Manokwari-Sorong selama dua periode, antara 2010-2012.

Mengganti Mgr. Saklil dan Menatap Masa Depan

Uskup Bernard Baru menggantikan posisi Mgr. John Philip Saklil, Uskup pertama Keuskupan Timika, yang wafat pada 3 Agustus 2019. Keuskupan Timika yang memiliki tantangan pastoral di tengah keragaman budaya dan geografi Papua, kini memiliki harapan baru dengan dilantiknya Uskup Bernard. Ia diharapkan dapat melanjutkan misi pastoral dan sosial yang telah dilakukan oleh Mgr. Saklil dan mengarahkan Keuskupan Timika menuju kedamaian, keadilan, dan pengembangan iman di tengah masyarakat Papua.

Dengan penunjukan ini, umat Katolik di Keuskupan Timika kini memiliki pemimpin baru yang akan membimbing mereka dalam iman, menghadapi tantangan zaman, dan meneruskan pelayanan gereja di Tanah Papua. Semoga Uskup Bernard Baru diberkati dalam tugas pastoralnya yang penuh tanggung jawab ini, membawa terang bagi umat di Keuskupan Timika dan sekitarnya.