April 30, 2026

Tanam Pohon, Rawat Alam, Buka Jalan Wisata: Langkah Nyata Sor Silai Tanimbar di Weturlely

Oleh : joko

http://suaraanaknegerinews.com | Latdalam, Tanimbar Selatan — Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Yayasan Sor Silai Tanimbar menggelar aksi nyata yang penuh makna: menanam pohon di kawasan sumber air Weturlely, Desa Latdalam, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (5/6/25).

Aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari gerakan jangka panjang untuk menciptakan kawasan agroforestri dan ekowisata berbasis komunitas.

Namun, yang dalam bahasa Yamdena berarti “udara yang keluar dari dalam tanah” selama ini menjadi sumber kehidupan bagi warga Latdalam.

Airnya jernih, alamnya asri, dan panoramanya menenangkan jiwa. Kini, kawasan itu perlahan menjelma menjadi destinasi wisata alam unggulan berkat kerja sama warga dan pemerintah desa, dengan dukungan berbagai pihak.

Namun, di balik pesonanya, ada tantangan besar: tekanan lingkungan yang meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia.

Menjawab tantangan ini, Yayasan Sor Silai Tanimbar menginisiasi penanaman puluhan bibit pohon kehutanan dan pohon buah. Langkah ini menjadi wujud komitmen yayasan untuk menjaga ekosistem sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui pendekatan agroforestri.

“Kami ingin agar Weturlely tidak hanya menjadi tempat wisata alam biasa, tetapi juga kawasan konservasi dan ketahanan pangan lokal,” ujar Ketua Yayasan Sor Silai Tanimbar, Simon Lolonlun .

Menurutnya, wisatawan kelak bisa menikmati buah segar langsung dari pohonnya, atau menyaksikan makanan khas buatan warga. Di sisi lain, masyarakat mendapat manfaat ekonomi yang nyata, tanpa harus merusak hutan.

Jenis pohon yang ditanam cukup beragam, dari pohon kehutanan seperti trambesi, gemelina, lenggua, hingga kayu besi, hingga pohon buah-buahan seperti nangka salak, alpukat, dan aneka mangga.

Kegiatan ini juga menjadi bukti sinergi antara pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, dan komunitas lokal.

Hadir dalam aksi ini antara lain: Staf Ahli Bupati , Wakapolres Kompol Wilhelmus Bernard Minanlarat , perwakilan Kodim 1507/Saumlaki, Kepala Dinas Pariwisata, camat, serta jajaran Forkopimcam dan pemuka desa.

Dalam sambutannya, Somalay Batlayery , mewakili Bupati Kepulauan Tanimbar, menegaskan bahwa upaya pelestarian lingkungan harus menjadi kerja bersama lintas sektor.

“Kegiatan ini bentuk nyata komitmen daerah dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan wisata berbasis masyarakat. Kami harap ikut menjaga pohon yang ditanam hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Wakapolres Kompol Wilhelmus Bernard Minanlarat menyisipkan pesan spiritual dalam refleksinya.

“Saya menanam, Apolos menyiram, tetapi Tuhan yang memberi pertumbuhan. Lingkungan yang bersih adalah bagian dari iman kita,” ujarnya mengutip Alkitab.

Agroforestri sebagai Strategi Jangka Panjang

Kegiatan ini juga menandai langkah awal Sor Silai sebagai salah satu penerima manfaat program restorasi hutan berbasis masyarakat tahun 2025.

Program ini mendukung target nasional FOLU Net Sink 2030 , yakni menjadikan sektor kehutanan sebagai penyerap karbon bersih.

Lebih dari sekedar menanam, pendekatan agroforestri yang diusung yayasan bertujuan menciptakan keharmonisan antara konservasi dan penghidupan.

Dengan model ini, kawasan Weturlely diharapkan bisa:

  • Melestarikan sumber udara dan vegetasi lokal
  • Menjadi pusat pangan berbasis buah-buahan tropis
  • Mendorong tumbuhnya UMKM berbasis wisata dan hasil hutan
  • Menjadi ruang edukasi lingkungan bagi masyarakat dan pelajar.

Yayasan Sor Silai juga menyampaikan harapan agar pemerintah daerah memberikan dukungan strategi, termasuk kebijakan perlindungan kawasan sumber air, pelatihan pengelolaan wisata desa, dan pengembangan Weturlely sebagai destinasi unggulan agroforestri dan ekowisata di Kepulauan Tanimbar.

Sekretaris Desa Latdalam, Ruben A. Marian , mengapresiasi inisiatif tersebut dan berharap komitmen ini terus berlanjut.

“Kami berterima kasih kepada Yayasan Sor Silai dan semua mitra. Semoga Weturlely bisa menjadi model pembangunan ekologis di Tanimbar,” katanya.

Menanam untuk Generasi Mendatang

Kegiatan ditutup dengan aksi simbolis: seluruh peserta memegang bibit pohon dan menyebarkan pesan bersama,
“Mari menanam pohon untuk anak cucu kita. Salam Hutan Lestari.”

Dengan mengusung tema “Tanam Pohon, Rawat Alam, Buka Jalan Wisata” , kegiatan ini menjadi penanda bahwa pembangunan tak harus mengorbankan alam. Justru dari alam yang lestari, masa depan yang berkelanjutan bisa tumbuh.