Obituari Drs. Ferry Lembong, M.MPd: Dalam Cahaya, Ia Telah Pulang
Oleh Paulus Laratmase
–
“Tulisan ini dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum Drs. Ferry Lembong, M.MPd. Semoga damai abadi menyertaimu”
Pada 3 Juni 2025, dunia pendidikan dan komunitas iman di Biak Numfor dilanda duka mendalam. Drs. Ferry Lembong, M.MPd, guru senior SMA Negeri 1 Biak dan tokoh penting dalam perintisan SMA Katolik Yosudarso di Biak, wafat di Manado. Setelah pensiun pada tahun 2024, ia tetap aktif berkarya dan bersosial hingga ajal menjemputnya. Kabar kepergiannya menyisakan duka yang sunyi, dan pada saat yang sama, membuka ruang refleksi akan makna kehidupan dan kematian dari seorang pendidik sejati.
Ketika kita berbicara tentang kematian, kita sesungguhnya tidak hanya bicara tentang berakhirnya kehidupan biologis. Dalam konteks keberadaan manusia, kematian adalah peristiwa eksistensial, sebagaimana dijelaskan dalam kajian filosofis dari teks puitik tiga penyair: Yusuf Achmad, Lasman Simanjuntak, dan Anto Narasoma. Mereka menyajikan kematian sebagai sebuah momen kehilangan kehadiran, in absentia.
Sebagaimana ditulis Yusuf Achmad:
“Para mata tanpa berkedip kosong, penuh kenangan, sepasang mata menjerit, ‘Terlalu cepat.’ Berpasang-pasang mata penuh warna putih sedikit hitam menyisakan penyesalan, kesedihan teramat dalam.”
Bait ini seolah menggambarkan suasana batin kita saat mendengar berita wafatnya Ferry Lembong. Para sahabat, murid, kolega, dan umat menatap hening ke langit, menyesap penyesalan dan duka. Momen perpisahan itu, sebagaimana tergambar dalam puisi, bukan semata karena tubuh yang telah terbujur kaku, tetapi karena kehadiran yang telah tiada, relasi yang tak akan kembali.
Lasman Simanjuntak bahkan lebih tegas dan puitis:
“Oi, rumah duka di sini, Sajakku Mengalirkan Genangan air mata agar kami semua para pelayat ingat giliran siapa, turun perlahan (pasti!) Ke dunia orang mati”
Melalui bait ini, kita disadarkan bahwa kematian adalah giliran yang pasti. Dan dalam giliran itu, Ferry Lembong telah menapakinya terlebih dahulu. Ia kini telah turun perlahan ke dunia sunyi para arwah, dan kita, para pelayat, menatap dari kejauhan, menyadari bahwa suatu hari, kita pun akan menyusul.
Kajian filosofis yang mengiringi puisi-puisi ini memberi kita dasar refleksi yang lebih dalam. Dalam perspektif eksistensial, kematian adalah fakta fundamental manusia (factum brutum). Ia adalah pemisahan jiwa dari tubuh “animatio” yang berhenti. Tubuh menjadi “corpus,” objek yang bisa diobservasi dan ditetapkan secara biologis telah mati. Namun, yang paling menyakitkan adalah kepergian “pribadi” dari dalam tubuh itu. Sosok yang kita kenal sebagai Ferry Lembong, bukan hanya tubuh, melainkan kehadiran, suara, gelak tawa, nasihat, dan doa.
Ferry Lembong adalah pribadi yang kehadirannya begitu nyata bagi dunia pendidikan Biak. Selama puluhan tahun mengabdi sejak di Pulau Numfor, Sowek Supiori Selatan, SMA Katolik Yosudarso Biak dan di SMA Negeri 1 Biak. Ia bukan hanya mengajar pelajaran formal. Ia membentuk karakter, menjadi inspirasi, membimbing yang tersesat, dan memberi teladan. Ia adalah guru dalam pengertian paling hakiki: yang membentuk bukan hanya pikiran, tetapi juga hati.
Setelah pensiun, ia tidak berhenti. Ia tetap menjadi cahaya dalam berbagai kegiatan gereja di Paroki Kerahiman Ilahi Biak, menjadi orangtua di komunitas basis, Wilauah Rohani bahkan komunitas rukun Manado di rantau. Bersama para tokoh Katolik, ia menjadi bagian dari berdirinya SMA Katolik Yosudarso di Biak, sekolah yang kini diperhitungkan dalam dunia pendidikan lokal karena integritas, mutu, dan nilai spiritualnya. Ferry Lembong percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang angka kelulusan, tetapi tentang menjadikan manusia utuh.
Kini, ia telah tiada. Tubuhnya telah kembali ke tanah, tetapi nilai-nilai yang ia wariskan tetap hidup. Kematian Ferry Lembong, jika dilihat dari puisi dan refleksi di atas, adalah bentuk kepergian yang sarat makna. Ia tidak hanya mengajarkan hidup, tetapi juga mengajarkan cara mati dalam kedamaian, dalam ketulusan, dalam penuh warisan yang membangun.
Dalam perspektif sosiologis, kematian Ferry Lembong adalah kehilangan relasional. Sosok yang selama ini hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam rapat guru, dalam misa, dalam bimbingan psikologis para siswa di SMA Negeri 1 Biak, kini telah absen. Namun justru karena absennya itulah, kita makin sadar akan kehadiran pentingnya semasa hidup.
Ferry Lembong telah pulang ke Sang Sumber. Tapi cahaya yang ia pancarkan, tetap menyala. Dalam ingatan murid-murid yang kini menjadi pemimpin, dalam doa umat yang pernah disentuh hatinya, dalam kelas-kelas yang dulu pernah ia ajar, bahkan dalam tawa ringan di lorong-lorong sekolah. Ia adalah “subjektivitas yang telah tiada secara fisik, tetapi tetap hidup secara simbolik.”
Kematian memang memisahkan tubuh dan jiwa. Tapi bagi yang hidupnya ditaburi kebaikan, kematian hanya memperluas ruang pengaruhnya. Kini, kita bisa menjumpai Ferry dalam kenangan manis, dalam nilai-nilai luhur yang ia tinggalkan, dan dalam setiap tindakan tulus yang mengikuti teladannya.
Selamat jalan, Pak Ferry. Engkau telah menjadi puisi yang indah bagi kami semua—puisi yang terus kami baca, kami hayati, dan kami wariskan.