Oleh : Ririe Aiko
(Puisi esai ini didramatsisasi dari semakin banyaknya anak-anak yang terpaksa mencari nafkah dijalanan, hak asasi anak-anak dirampas oleh situasi kemiskinian yang menuntut mereka menjadi pencari nafkah untuk keluarga)(1)
—000—
Dibawah lampu trotoar yang basah oleh sisa hujan semalam, aku duduk, tubuhku menggigil, memeluk sebungkus tisu jualanku. Bukan karena dingin saja, tapi karena lapar yang semakin lihai menusuk pori-pori bertubuh kecil.
Namaku Adi, usiaku baru 10 tahun. Seharusnya aku mempelajari pecahan dan angka, bukan menghitung recehan sisa dari belas kasihan. Tapi aku bukan anak yang diberi pilihan—aku dilahirkan bukan sebagai buah cinta, melainkan sebagai semut pekerja di sarang miskin yang lapuk oleh pasrah.
Aku adalah anak sulung dari enam bersaudara. Setiap pagi, Ibu membangunkanku dengan doa dan daftar tugas: “Tisu harus habis, Adi, Beras untuk makan hari ini, menunggu kau pulang.” Aku mengangguk, mengerti maksud ibu. Meski dengan tubuh yang menggigil, aku tetap pergi.
Di negeri yang subur ini,demam tak bisa jadi alasan untuk berhenti mengais sisa kehidupan. (2) Kadang aku iri pada anak-anak berseragam yang lewat sambil bercanda, membawa bekal dan buku cerita. Dan Aku hanya membawa kantong plastik, dengan cerita penuh luka.
—000—
Langkah kakiku membawa ke pinggir pertokoan, tempat aroma roti menguap dari mesin pemanggang. Perutku keroncongan, kering seperti amplas digesek batu. Di sana, kulihat anak seusiaku duduk manja, tangannya menggenggam roti besar, tawanya membelah udara seperti lagu bahagia yang tak pernah bisa kunyanyikan.
Aku merogoh kantong celana, ada tiga lembar dua ribuan, hasil hari ini. Tapi roti itu—roti harum keemasan—berharga dua kali lipat. Aku duduk di trotoar, menunduk, diam. Air mataku menetes, bukan karena roti, tapi karena dunia yang tampaknya tak adil membagi lapar dan kenyang. Anak itu menyisakan rotinya dimeja.Sementara aku begitu menginginkan sepotong roti itu dibalik jendela.
“Apa memang harus seperti ini cara kerja dunia, Tuhan?”
Aku tak mendapat jawaban. Yang kudengar hanya detak waktu dan tubuhku yang semakin melemah.
Seorang bapak berjas, berjalan acuh. Tak ada yang melihatku duduk disini dengan rasa lapar yang kutahan sejak malam. Seorang ibu melewatiku, melirik sedikit lalu mengalihkan pandangannya. Semua manusia di Kota ini sibuk, (3) terlalu sibuk untuk bertanya, tentang apakah hidup baik-baik saja bagi mereka yang bukan siapa-siapa
Rasanya aku ingin memejam. Bukan karena kantuk, tapi karena tubuh ini tak sanggup menunggu keajaiban yang tak kunjung datang.
Dan di detik itu, saat napasku mulai renggang, aku masih berharap: untuk satu gigitan roti, satu rasa kenyang, satu detik kebahagiaan,
tapi… tak ada satupun yang datang bertanya pada anak pinggiran dijalanan. Hingga tubuhku semakin menggigil hebat lemas dan gelap. Aku tak lagi menghirup aroma roti disekitarku, Semua berubah..
Dan Tuhan pun mengabulkan doaku dengan caranya “Aku menikmati banyak roti dengan air sungai yang mengalir dari susu.
CATATAN :
(1)Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2024, sekitar 9,36% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Anak-anak dari keluarga seperti ini rentan menjadi pekerja anak demi membantu perekonomian keluarga.
(2)UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 1,5 juta anak di Indonesia terlibat dalam pekerjaan yang membahayakan kesehatan, pendidikan, dan perkembangan mereka secara keseluruhan. Situasi ini banyak ditemukan di kawasan urban miskin dan pedesaan terpencil.
(3)https://www.rri.co.id/lain-lain/1015836/pentingnya-empati-dalam-masyarakat-modern-yang- semakin-individualis