April 21, 2026

“Hujan dan Usia Senja”: Kumpulan Puisi Leni Marlina “(PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

leni ulang tahun

Ilustrasi "Hujan dan Usia Senja": Kumpulan Puisi Leni Marlina "(PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-103 (Assisted by AI).

/1/

Hujan dan Usia Senja

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan turun seperti jarum
menjahit usia ke dalam tubuh bumi.
Kita berdiri di bawahnya,
membiarkan tahun-tahun yang basah
meresap ke kulit ini.

Tetes air jatuh satu per satu,
seperti detik yang berlalu,
tak bisa dicegah,
tak bisa ditahan.
Dan kita sadar,
kita bukan lagi anak kemarin,
yang berlari di bawah hujan
tanpa takut dingin,
usia kita menuju senja,
masih ingatkah kau ulang tahun kita?

Canberra, Australia, 2012

/2/

Meniup Lilin yang Berkedip di Cakrawala

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Angin datang dari utara,
menyusup ke dalam rongga-rongga waktu,
meniup lilin-lilin yang berkedip di cakrawala,
tapi tak bisa memadamkan cahaya dalam dadaku.

Aku tiup lilinku sendiri,
bukan untuk menghapus harapan,
tapi untuk membiarkan bintang
menjadi satu-satunya terang di malam ini.

Canberra, Australia, 2012

/3/

Pohon yang Menghafal Usiaku

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Di hutan yang sunyi,
pohon-pohon tak pernah lupa.
Mereka mengukir namaku dalam lingkar tahunan,
menghitung usia dengan urat yang tak terlihat.

Aku bersandar pada batangnya,
bertanya pada daun yang jatuh,
berapa kali aku telah lahir kembali
di antara musim yang berubah?

Canberra, Australia, 2012

/4/

Sungai yang Membawa Namamu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku lupa ulang tahunmu,
tapi sungai masih mengingat namamu.
Ia mengalir membawa serpihan cerita,
daun-daun doa yang terlambat kukirim,
rasa bersalah yang larut dalam arusnya.

Semoga air ini sampai ke tempatmu,
membasuh hari yang berlalu,
menyampaikan maaf yang tak pernah sempat
kukatakan dengan suara.

Canberra, Australia, 2012

/5/

Matahari yang Tak Pernah Lupa Ultahmu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Matahari tidak pernah lupa,
ia terbit tanpa perlu diingatkan,
ia bersinar tanpa menunggu perayaan.

Andai aku seperti matahari,
tak perlu kalender untuk mengingat,
tak perlu alarm untuk menyadari,
bahwa kau bertambah satu tahun hari ini.

Tapi aku bukan cahaya,
aku hanya manusia yang terlambat menyapa,
maka biarkan sinarnya menjadi ucapanku:
semoga kau terus bersinar,
lebih terang dari yang kau bayangkan.

Canberra, Australia, 2012

/6/

Ombak yang Mengulang Namamu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Lautan tak peduli angka,
tapi ia selalu mengulang namamu.
Dalam tiap ombak yang pecah di tebing,
ada bisikan yang tak berubah,
doa yang mengalun tanpa suara.

Aku lupa tanggal ulang tahunmu,
tapi gelombang tetap mengirim doa.
Semoga usiamu seperti samudra,
dalam, kuat, dan tak terbatas.

Canberra, Australia, 2012

/7/

Burung yang Membawa Tahun ke Langit

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Setiap tahun yang terbang,
burung-burung membawa angka ke langit.
Sayap mereka mengepak di antara awan,
meninggalkan jejak yang tak bisa dijangkau tangan.

Kau bertambah usia,
seperti burung yang semakin jauh dari sarang,
tapi tetap mencari angin yang benar,
agar bisa pulang dengan nyanyian yang baru.

Canberra, Australia, 2012

/8/

Gunung yang Menahan Rahasia Waktu

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Di puncak gunung,
usia tidak dihitung dengan lilin,
tetapi dengan batu yang tetap tegak
meski dihantam badai berulang kali.

Semoga usiamu seperti gunung,
teguh, tak gentar pada angin,
menyimpan rahasia waktu
tanpa harus takut runtuh.

Canberra, Australia, 2012

/9/

Bunga yang Mekar Tanpa Diminta

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Aku lupa ulang tahunmu,
tapi bunga di taman tetap mekar.
Mereka tak butuh pengingat,
tak menunggu perayaan,
hanya tumbuh karena waktu meminta.

Dan kau, seperti bunga itu,
tak perlu pesta untuk bersinar.
Kau mekar dengan sendirinya,
menjadi indah tanpa harus diminta.

Canberra, Australia, 2012

/10/

Kabut yang Membungkus Nama Kita

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen Indonesia, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Di pagi yang diam,
kabut menyelimuti segala yang ada,
menyembunyikan jalan,
memburamkan ingatan.

Aku lupa tanggal ulang tahunmu,
tapi namamu masih ada di udara.
Kabut membawanya ke langit,
menggantung di antara awan,
menunggu matahari untuk mengungkapnya lagi.

Canberra, Australia, 2012

—————

Kumpulan puisi di atas (No.1-10) awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani masa pertengahan program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)

rain-and-the-twi…ra-fsm-acc-shila

 

“Rain and the Twilight of Age”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)