May 1, 2026

“AIR MATA PALING SUNYI”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA)

/1/

AIR MATA PALING SUNYI

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Aku telah belajar
bahwa tidak semua luka harus diceritakan.

Ada yang cukup digendong
dalam diam,
seperti bayi yang belum sempat diberi nama—
tapi tetap kita doakan
dengan air mata paling sunyi
yang tak pernah jatuh di pangkuan siapa-siapa.

Melbourne, Australia, 2013

/2/

Seperti Tanah Mencintai Hujan

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Wahai Tuhan,
Mohon ajari kami,
menerima kekalahan.
Mohon ajari kami mencintai,
apa yang sudah menjadi
takdir kami.
Seperti tanah mencintai hujan
yang tak datang tepat waktu,
namun tetap disambut
dengan retak tanah yang riang.

Wahai Tuhan,
mohon ajari kami menerima kehilangan,
mohon ajari kami mencintai diri kami yag tersisa,
seperti batu mencintai air—
meski selalu kalah bentuk,
tetap menunggu kikisan
yang menjadikannya lebih lembut
dari waktu.

Wahai Tuhan
Mohon ajari kami menerima sakit dan luka,
tanpa memberi nama padanya.

Sebab barangkali luka dan sakit,
hanyalah perpanjangan,
dari doa yang tak tahu jalan pulang,
selain lewat air mata.

Melbourne, Australia, 2013

/3/

Bukan Karena Sujudnya Paling Lama

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kita semua pernah mengira terang itu tujuan,
padahal ia sering kali jebakan—
membutakan mata
yang seharusnya belajar melihat
dalam gelap.

Jalan pulang bukan selalu cahaya,
kadang ia lorong sempit
yang dipenuhi bayangan sendiri
yang engkau tolak bertahun-tahun.

Dan hanya mereka
yang tak sibuk menaklukkan
akan diwarisi langit:
bukan karena sujudnya paling lama,
atau zikirnya paling lama,
melainkan karena mereka pernah kalah
dan tidak malu untuk jatuh
di depan pintu rahmat-Nya.

Melbourne, Australia, 2013

/4/

Untuk Sahabat yang Menyembah Takhta

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Sahabat,
kau dirikan rumah di atas ombak tak bermazhab,
lalu mengadu:
mengapa lantaimu terus condong ke lubang?

Kau taburkan benih di punggung angin yang gelisah,
lalu menangis:
mengapa ladangmu tak pernah menumbuhkan pulang?

Kau ciumi nama-nama fana
yang tiap malam berganti wajah—
sementara Nama-Nya, yang kekal tak terganti,
kau sembunyikan di saku dada
sebagai cadangan terakhir
bila doa-doamu tak kunjung dibayar dunia.

Kau sembah kemenangan
seperti sapi emas yang dipoles prestasi,
dan berharap Musa tidak turun
membakar seluruh portofoliomu
dengan tongkat yang menyimpan wahyu.

Sahabat,
hidup bukan tangga menuju mahkota—
tapi gua.
Tempat engkau harus kehilangan segalanya
hingga cahaya yang tak bisa disentuh mata
menyentuh sesuatu yang lebih rapuh
dari sekadar air mata:
jiwa.

Tidakkah kau ingat Ibrahim,
dibaringkan dalam pelukan api—
agar cinta menjadi satu-satunya pakaian
yang tak hangus dalam ujian?

Dan tidakkah kau sadari,
betapa sering engkau bersujud
kepada grafik, panggung, algoritma,
dan anggukan manusia-manusia bercahaya palsu?

Padahal semua itu
tak lebih dari kupu-kupu plastik
yang tak bisa mati
karena tak pernah hidup.

Sahabat,
kekalahanmu bukan akhir.
Ia adalah kaligrafi tak kasatmata
yang ditulis malaikat
di punggung malam yang sujud.

Jangan kau koreksi.
Bacalah.

Karena bisa jadi,
dari retak itulah Allah mengajarkanmu
huruf-huruf yang tak ditulis tinta,
tak diajarkan di mimbar,
tak disalin ke kitab,
tapi tumbuh dari reruntuhan dirimu sendiri:

huruf-huruf kehancuran yang menjelma zikir,
mengeja makna yang hanya bisa dibaca
oleh ruh yang pernah pecah—
dan masih memilih kembali.

Melbourne, Australia, 2013

/5/

Ketika Doa Tidak Kunjung Dijawab

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kadang,
doa bukan untuk dijawab.
Tapi untuk menguji
apakah kita tetap percaya
pada keheningan.

Air tak langsung menjadi hujan.
Langit menyimpannya lebih dulu
dalam sunyi.

Mungkin doamu
sudah sampai,
tapi belum menetes.
Atau mungkin,
kau diminta menengadah sedikit lebih lama—
agar ketika tetes itu turun,
kau tidak sedang tertidur
dalam ragu.

Melbourne, Australia, 2013

/6/

Kepada Pejuang yang Mulai Meragukan Jalannya

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Pejuang,
kau tidak kalah.
Hanya sedang lupa
bahwa jalan ini
memang tidak pernah dibentangkan seperti karpet.

Ia penuh duri
karena Rasul pun berdarah
di balik selimut malamnya.

Jangan harap bintang
bila kau tidak siap berjalan
tanpa lentera.

Jangan takut gelap.
Mungkin Allah sedang matikan lampu
agar tak satu pun yang kau ikuti
kecuali cahaya dari dalam dada.

Melbourne, Australia, 2013

/7/

Wajah Tak Harus Sempurna

Puisi Oleh Leni Marlina

[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆

Kita semua pernah tersesat,
tapi hanya yang tak mencari jalan pulang
yang benar-benar menemukan-Nya.

Langit tak pernah menunjuk
mereka yang menuntut cahaya,
melainkan yang diam di malam
dan menjahit gelap
dengan seutas sabar.

Mereka yang belajar dari kaca retak,
bahwa wajah tak harus sempurna
untuk menampung pantulan rahmat-Nya.

Melbourne, Australia, 2013

——————————————

Leni Marlina: penulis, penyair, dan dosen di FBS, Universitas Negeri Padang. Ia merupakan Pendiri dan Ketua PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) & Poetry-Pen International Community. Leni juga merupakan anggota aktif ACC Shanghai Huifeng International Literary Association dan Satu Pena – Sumatera Barat. Sumber gambar: suaraanaknegerinews.com.

Leni Marlina sampai saat ini merupakan anggota aktif Organisasi Perkumpulan Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga ikut menjadi anggota Komunitas Penyala Literasi Sumbar, Forum Sitti Manggopoh (FSM); Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM – Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)