April 19, 2026

Amanah sebagai Pimpinan untuk Membangun

IMG-20260126-WA0001

PADANG – Bagi banyak orang, sebuah jabatan kerap dilihat sebagai puncak karier, simbol prestise, atau akhir perjalanan. Namun, bagi Prof. Dr. Mahyudin Ritonga, S.Pd.I, M.A., jabatan adalah sesuatu yang sangat berbeda: sebagai amanah untuk membangun, sarana untuk menumbuhkan, dan platform untuk mengabdi. Prinsip Jabatan untuk Membangun inilah yang dipegang teguh selama dua periode kepemimpinannya sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, yang berakhir pada 10 Januari 2026. Baginya, kursi pimpinan bukanlah takhta, melainkan bengkel kerja untuk merakit masa depan pendidikan yang lebih baik.

Akar falsafah ini mungkin bersumber dari kampung halamannya, Desa Aek Urat (dulu Purbatua), di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebuah daerah yang mengajarkan ketekunan, kesederhanaan, dan pentingnya membangun dari apa yang ada. Nilai-nilai inilah yang dibawanya ke ranah pendidikan tinggi, mengubah Pascasarjana UM Sumatera Barat dari sebuah unit pengelola menjadi pusat pertumbuhan akademik yang berdampak nyata.

Membangun Pondasi: Dari Akreditasi hingga Jejaring

Bagi Prof. Mahyudin, membangun dimulai dari fondasi yang kokoh. Visi pertamanya adalah menegakkan kualitas sebagai pilar utama. Di bawah kepemimpinannya, upaya sistematis dijalankan untuk memperkuat legitimasi akademik. Hasilnya, Program Studi S2 Pendidikan Agama Islam meraih akreditasi UNGGUL, sebuah capaian tertinggi yang menjadi bukti konkret kualitas pengajaran dan kurikulum. Tak ketinggalan, S2 Ilmu Pertanian juga menyusul dengan akreditasi Baik Sekali pada akreditasi pertamanya yang jarang dicapai oleh lembaga PT lain.

Namun, membangun bukan hanya memperkuat yang lama, tetapi juga membuka jalan baru. Prinsip ini diwujudkan dengan ekspansi program studi yang visioner dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Dia mendorong pembukaan S2 Ilmu Hukum dan S2 Hukum Keluarga Islam (Ahwal al-Syakhshiyyah), menjawab kebutuhan spesifik di tengah masyarakat. Puncak dari fase pembangunan infrastruktur akademik ini adalah dibukanya Program Doktor (S3) Studi Islam. Keberhasilan ini bukan sekadar menambah jenjang, melainkan membangun menara intelektual yang menandai kedewasaan dan otonomi keilmuan UM Sumatera Barat.

Pembangunan juga bersifat eksternal. dia dengan cermat merajut jejaring kolaborasi nasional dan internasional di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Jaringan ini menjadi jembatan yang membawa dosen dan mahasiswa UM Sumatera Barat ke percakapan akademik yang lebih luas, sekaligus menempatkan UM Sumatera Barat di peta keilmuan global.

Membangun Manusia: Investasi Terbesar dari Sebuah Jabatan

Di sinilah inti dari filosofi “Jabatan untuk Membangun” Prof. Mahyudin paling terasa. Dia percaya bahwa institusi yang hebat dibangun oleh manusia yang hebat. Jabatannya digunakan secara maksimal sebagai pengungkit untuk mengembangkan setiap individu di sekitarnya.

Membangun Mental Peneliti Mahasiswa: dia mentransformasi lingkungan pascasarjana dari sekadar ruang kuliah menjadi laboratorium ide. Mahasiswa didorong aktif meneliti dan mempublikasikan karya. Tidak berhenti di motivasi, dia membuka akses dengan menghantarkan beberapa mahasiswa meraih hibah penelitian Magister, memberikan pengalaman nyata dalam mengelola riset kompetitif.

Membangun Karir dan Kapasitas Dosen, inilah salah satu warisan terbesarnya. Prof. Mahyudin melihat potensi besar yang “tertidur” dalam kenyamanan jabatan fungsional. Dengan pendekatan yang persuasif namun penuh keyakinan, sejak 2022 ia mendorong puluhan dosen untuk keluar dari zona nyaman sebagai Lektor dan mengejar jabatan Lektor Kepala. “Ini artinya tinggal selangkah lagi mereka bisa mencapai Guru Besar,” ujarnya, menggambarkan betapa jabatannya digunakan untuk menyiapkan generasi penerus kepemimpinan akademik. Hal ini adalah tindakan pembangunan SDM yang strategis dan berorientasi masa depan.

Membangun Kepercayaan Masyarakat, keberhasilan membangun kualitas internal dan SDM berbuah pada kepercayaan eksternal. Pascasarjana UM Sumatera Barat menjadi pilihan utama masyarakat untuk melanjutkan studi Magister dan Doktor. Kepercayaan ini adalah modal sosial terbesar yang dibangunnya, sebuah fondasi yang kuat untuk keberlanjutan institusi.

Membangun Melalui Keteladanan, pemimpin yang Tetap Berkarya di Garisan Depan. Prof. Mahyudin memahami bahwa membangun perlu keteladanan. Meski memegang jabatan pimpinan, ia tidak menjadikannya alasan untuk berhenti berkontribusi pada khazanah keilmuan. Dia aktif sebagai reviewer untuk jurnal nasional dan internasional bereputasi (terindeks Scopus & WOS). Dengan ini, ia membangun kredibilitas tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk institusi yang dipimpinnya, sambil menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus tetap menjadi scholar di garis depan.

Warisan untuk Pembangun Selanjutnya: Pesan “Bergeraklah!”

Di akhir masa jabatannya, pesan yang ia tinggalkan adalah benih untuk pembangunan berkelanjutan. “Bergeraklah, kalau tidak Kita akan terlindas,” demikian pesannya yang tegas dan visioner. Pesan ini adalah intisari dari filosofi “Jabatan untuk Membangun”: bahwa kepemimpinan haruslah dinamis, pro-aktif, dan inovatif. Dia menekankan inovasi pada Caturdharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Pendidikan, Penelitian, Pengabdian, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan. “Merasa nyaman dengan yang kita capai hanya akan membuat stagnan. Yang dibutuhkan adalah berkembang terus-menerus,” tegasnya. Untuk menguatkan nasihatnya, ia mengutip QS Ar-Ra’d: 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Ayat ini menjadi penegas bahwa semangat membangun harus datang dari dalam, dan jabatan hanyalah fasilitas untuk mempermudah proses perubahan itu.

Jabatan yang Diabdikan untuk Lembaga dan Peradaban, perjalanan kepemimpinan Prof. Dr. Mahyudin Ritonga di Pascasarjana UM Sumatera Barat adalah studi kasus nyata tentang bagaimana sebuah jabatan eksekutif dapat dan harus dialihfungsikan dari sekadar posisi menjadi mesin pembangunan. Dari membangun program studi, akreditasi, dan jaringan, hingga membangun mental peneliti, karir dosen, dan kepercayaan publik.

Kini, dengan segudang capaian dan filosofi kepemimpinan yang kuat, keahlian Prof. Mahyudin dalam “membangun” institusi pendidikan tinggi menjadi aset berharga. Wajar jika namanya kini banyak dicari oleh universitas-universitas lain, baik nasional maupun internasional, yang ingin belajar atau mengundangnya untuk berbagi ilmu dalam membangun pascasarjana mereka. Dia telah membuktikan bahwa jabatan yang diisi dengan semangat membangun, akan meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi daripada kekuasaan itu sendiri. Dan warisan itu telah tertanam kokoh di Pascasarjana UM Sumatera Barat, siap untuk terus bertumbuh. “Tetap Semangat buat insan Akademik UM Sumatera Barat,” pesan penutupnya, menyemangati para penerus untuk terus memegang teguh semangat membangun.