April 22, 2026

Belajar Sopan Santun dari Jepang, Mengingat Kembali Ajaran Minangkabau

Oleh Eka Theresia

Keluarga adalah madrasah pertama dan utama dalam membentuk etika dan karakter seorang anak. Dari lingkungan rumah inilah adab, sopan santun, dan penghargaan terhadap orang lain ditanamkan sebagai fondasi hidup. Sekolah kemudian hadir untuk melanjutkan tugas mulia tersebut, menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur dalam ruang yang lebih luas. Di Jepang, pendidikan karakter ini dikenal sebagai Doutoku-kyoiku. Sementara di tanah Minangkabau, yang kaya dengan filosofi adat, ajaran tentang kesopanan dikenal melalui sumbang 12.

Sebagai seorang guru yang selalu ingin belajar, saya beruntung mendapat pelajaran berharga dari Taku, seorang mahasiswa magang asal Jepang. Hampir dua bulan bersama, saya menyaksikan betapa ia menghidupi nilai kesopanan itu dalam keseharian. Ratusan kali ucapan “terima kasih” meluncur tulus dari bibirnya, bahkan untuk hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele. Dari hal sederhana itu, saya belajar bahwa sopan santun bukan sebuah formalitas belaka,  melainkan kebiasaan yang lahir dari hati.

Satu peristiwa begitu membekas di ingatan saya. Saat itu, saya hanya memberinya sepotong kue biasa, bukan sesuatu yang istimewa, apalagi khas dari negerinya. Namun reaksinya sungguh luar biasa. Ia menundukkan badan tiga kali, berterima kasih dengan penuh hormat, lalu memuji rasa kue tersebut sebanyak tiga kali. Saya bisa melihat kebahagiaan yang tulus dari matanya, seolah-olah pemberian sederhana itu adalah hadiah paling berharga.

Kebiasaan kecil Taku mengajarkan bahwa penghargaan terhadap orang lain bukan diukur dari besar kecilnya pemberian, melainkan dari ketulusan sikap kita. Ia tak pernah menyisakan makanan yang diberikan, seakan menghargai bukan hanya pemberi, tetapi juga rezeki yang hadir. Di situ saya belajar bahwa sopan santun sejati bukanlah basa-basi, melainkan cerminan karakter yang sudah tertanam dalam-dalam sejak kecil.

Pengalaman ini membuat saya bertanya pada diri sendiri dan pada kita semua: sudahkah kita berlaku santun dan tulus menghargai sesama? Ataukah justru lebih sering membiarkan mulut kita penuh dengan keluhan, hujatan, bahkan penghakiman atas hal-hal kecil? Padahal, adat Minangkabau dengan ajaran sumbang 12 sejak lama telah menekankan pentingnya sopan santun, menjaga lisan, serta menghargai orang lain. Ironisnya, nilai luhur ini sering terlupakan dalam keseharian kita.

Karena itu, mari kita kembali belajar dari adat dan kesopanan, baik dari warisan leluhur kita sendiri maupun dari bangsa lain yang mampu menjaga nilainya dengan baik. Jadikan setiap hal positif yang kita lihat sebagai teladan. Dengan begitu, dalam perjalanan usia, kita tidak meninggalkan luka di hati orang lain, melainkan kenangan indah, kesan yang santun, dan jejak kebaikan yang akan selalu dikenang.