Berbakti di Jalan Ilahi Akan Mendapatkan Kebahagiaan Yang Hakiki: Refleksi Berkhidmat
Agenda Pembangunan Maskam Sirnarasa PPKN III Berkhidmat
Oleh Deni Kusuma)*
–
Kegiatan berkhidmat yang tengah kita jalani dalam kehidupan ini terkadang tak selalu mulus. Selalu ada saja goresan ke dalam benak dada kita meskipun hanya sedikit atau sekedar selentingan saja. Ketika kita sudah fix dengan suatu keyakinan bahwa open minded dan laku lampah yang jujur dan sederhana, berlandaskan ala khidmat yang biasa tak megah-megahan, akan tetapi teman-teman kita menunjukkan sikap yang terasa tidak enak, menusuk, dan melontarkan kata-kata yang tak menyenangkan di hati. Terkesan angkuh sekali rasanya. Dan di situlah poin ujiannya.

Ternyata setelah diterima dengan hati ikhlas dan ridho sembari kita mengerjakan khidmat yang hasanah, kemudian Tuhan yang Maha Esa memberikan penawarnya dengan ilmu pengetahuan yang bertabur hikmah yang bijaksana laksana taburan bintang gemintang di malam hari. Inilah bukti kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa terhadap kita sosok-sosok yang berkhidmat di jalan-Nya. Kerapkali selentingan itu ibarat panah kesasar. Ketika mereka melesatkan ujaran-ujaran kebenciannya dengan amat sangat piawai, dengan ujaran bahasa lokalnya, tanpa mempertimbangkan aspek nasionalisme, lantas menjadi puas hatinya sedangkan orang lain yang di panahnya menjadi terluka. Sakit, malu dan perih di dada.
Seolah inilah pertarungan hawa nafsu dan cahaya Ketuhanan yang Maha Esa. Kita yang sedang bersungguh-sungguh di jalan khidmat sedang diajarkan untuk mendapatkan kesegaran air sumur ruhani yang dapat membasuh luka-luka di dada. Karena tanpa luka bukanlah khidmat. Poinnya kita jangan membayangkan agenda khidmat adalah alfmart atau indomart dan juga pasar modern yang di sana kita sedia uang yang banyak untuk dapat membeli segala sesuatu yang kita inginkan. Memang terkesan itu sangatlah hebat. Tetapi, itu juga bisa jadi hanyalah sebatas fatamorgana.
Ketika penampilan sudah cakep dan cantik, segala properti bisa didapatkan, tetapi kita lupa diri dan bagian angkuh dengan atas apa telah kita dapatkan, apalagi mendiskriminasi saudara dan tetangga kita secara fisik dan mental, maka semua itu yakinlah, tak kan ada faedahnya. Mengapa? Karena Raja Ramles Fir’aun pun adalah seseorang yang sangat cerdas dan kaya raya dengan segala kepiawaian dan kekayaannya lantas ia mengaku sebagai Tuhan yang Maha Kuasa, dan tidak mau berkhidmat bersama di jalan Alloh dengan nabi Musa alaihis salam, dan membiarkan dirinya sendiri bergelimang harta, bersikap sewenang-wenang kepada masyarakat kecil, akhirnya ia ditenggelamkan oleh Alloh SWT.
Begitu pun dengan Qorun yang hartanya pun tenggelam bersama dirinya. Bukankah semua itu adalah nilai spiritual dalam kitab suci Al-Qur’an dengan pendekatan kisah, tanpa secara langsung menilai tentang khidmat kita, kitab suci ini telah memberikan nilai-nilai yang nyata untuk dapat dijadikan pegangan dalam menggunakan perspektif. Sehingga kita dapat melalui berbagai macam tantangan dalam berkhidmat, baik itu dalam sekala mikro atau pun makro.
Dengan tantangan-tantangan ini pun, akhirnya kita menjadi terasah kepekaan hati nurani kita, bahkan hal yang kita anggap sangat sepele, seperti menghina orang lain dengan hanya beberapa kata, di luar sana bisa sampai berujung pada kasus pembunuhan seperti dalam berita di televisi. Nah, dengan pengalaman yang terus Alloh curahkan kepada kita sejatinya janganlah terhenti hanya sebatas pada kata-kata stimulus and respon, seperti dalam teori psikologi yang mengasah tentang kepiawaian. Memang tampak cerdas, ketika dihina kemudian kita cepat-cepat membalas.
Tetapi itu teori psikologi untuk masyarakat industri. Sedangkan masyarakat di Indonesia sangatlah beragam variannya; kota, pedesaan, dan semi kota dengan tingkat keragaman budaya di sektor nasional sehingga disebut bangsa yang multikultural. Kalau kita tidak menyertakan unsur penjelasan atau verstehen dalam pemikiran kita, dalam arti kita berpikir sempit, maka pasti akan cepat menimbulkan api emosi buka ilmu yang berguna. Sedangkan, jalur khidmat yang kita tempuh terutama dalam ranah pendidikan, bukanlah semata-mata mempertahankan kedaulatan jasmaniah, akan tetapi juga memperkuat mentalitas ruhaniah dengan ilmu laduniyah.
*(Sejarawan Muslim. Khodim di Universitas Saefulloh Maslul Sirnarasa PPKN III. Berdomisili di Pesantren Sirnarasa-Indonesia.