January 23, 2026

“Bersama Dalam Luka dan Cinta: 25 Tahun Dalam Genggaman Kasih Tuhan” (3)

Oleh: Maria Sakka’ Tandiayu’

Tujuh tahun menjalani kehidupan pernikahan saat itu bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak hal kami lalui bersama, dalam suka dan duka. Namun satu hal yang kami pegang teguh: pengharapan bahwa Tuhan akan memampukan kami melewati setiap proses kehidupan. Kami terus berjuang dalam rumah tangga, menjadi orang tua yang tak mengenal lelah demi memenuhi kebutuhan anak kami satu-satunya saat itu.

Tahun 2006 menjadi titik awal perubahan besar dalam rumah kami. Vernal, putra kecil kami, memasuki jenjang pendidikan taman kanak-kanak. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, bahkan sejak dini. Sekalipun sering dibully karena tubuhnya yang gempal—dijuluki “Endut-Endut”—ia tetap cuek. Sejak bayi, dia tak pernah bangun kesiangan. Pukul setengah lima pagi adalah waktu wajib bangunnya, dan yang pertama ia cari adalah buku. Dulu, kebiasaan itu tampak biasa saja, namun kini kami sadar, itulah awal ia jatuh cinta pada ilmu pengetahuan.

Sebagai ibu, saya sangat tegas dalam urusan pendidikan. Saat mengajarinya membaca di TK, dan dia tidak bisa, sepotong kayu ada di depan, siap mendarat di jari-jarinya. Kakak saya sampai marah, “Didikanmu seperti Belanda!” Tapi saya bergeming. Bagi saya, anak saya harus bisa. Walau ketegasan itu sering membuat hati ini sedih, saya tahu apa yang saya perjuangkan.

Saat ia memasuki SD, saya mulai melonggarkan cara mendidik. Saya hanya mengarahkan dan terus memantau. Hasilnya? Vernal terus membanggakan kami. Dari kelas 1 hingga tamat SD, peringkat 1 selalu menjadi miliknya. Lulus dari Sekolah Bala Keselamatan Palu, ia berhasil masuk ke SMA Model Terpadu dengan peringkat dua dari seluruh peserta tes. Saya sempat khawatir jarak sekolah yang jauh, tapi dia bahagia dan yakin bisa melaluinya.

Tiga tahun di SMA ia lewati dengan prestasi membanggakan. Ia menyumbangkan piala ke sekolah, mewakili provinsi dalam ajang Nalaria Matematika di Bogor, dan tetap memegang teguh cita-citanya sejak kecil—menjadi seorang pilot. Ia pun lulus sebagai peringkat dua terbaik se-Sulawesi Tengah.

Mengikuti serangkaian tes masuk Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI), dari awal sampai akhir, Vernal selalu menjadi pemuncak nilai. Tes SKD di Sulawesi Tengah, tes akademik, psikotest—semuanya ia lalui dengan nilai tertinggi. Tes kesehatan di Palu menjadi ujian terakhir di daerah. Setelah itu, ia melanjutkan serangkaian ujian di Tangerang dan Jakarta, hingga akhirnya sampai ke tahap akhir: tes Bakat Terbang. Sekali lagi, dia memimpin nilai teratas. Namun pengumuman akhir membuat kami kecewa—ia tidak diterima di jurusan penerbangan, melainkan di Keselamatan Penerbangan, meskipun dengan peringkat kelima tertinggi secara nasional. Dunia tak selalu adil, namun kami percaya rencana Tuhan selalu baik.

Vernal menimba ilmu di STPI Curug, Tangerang. Tahun 2022, ia lulus dengan predikat cumlaude dan mulai meniti karier di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto, Samarinda. Semua ini berkat doa, ketekunan, kedisiplinan, dan kasih yang menopang sejak awal. Para pendeta, jemaat, dan keluarga besar kami adalah penyokong yang tak henti mendoakan.

Perjalanan rumah tangga kami bukan hanya tentang tangis, tapi juga sukacita. Setiap proses kehidupan mengajarkan kami banyak hal—dan semua itu tidak mungkin kami lewati tanpa penyertaan Tuhan. Di bulan April 2011, Tuhan mempercayakan kembali kehamilan kedua kepada saya. Berat, tapi saya tetap berusaha menjalaninya. Namun tak kami duga, pada usia kandungan enam bulan, saya dinyatakan mengalami gawat janin. Dokter menyarankan agar kandungan segera diangkat demi keselamatan saya.

Rasanya dunia runtuh. Jika saya menyerah, berarti saya harus kehilangan empat anak—tiga keguguran sebelumnya dan satu yang sedang saya kandung. Tapi saya memilih percaya. Dokter adalah manusia. Saya teringat kisah iman Bunda Maria ketika Malaikat Gabriel menyampaikan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Dengan iman itu, saya, yang berlatar Katolik, mulai melakukan Doa Novena Rosario selama tiga malam penuh. Saya bernazar: anak ini akan saya beri nama Novena Rosario.

Tuhan mendengar. Pada 19 September, Novena Rosario Putri Kinanti lahir secara prematur di usia kandungan 6 bulan 9 hari, dengan berat hanya 900 gram. Nyaris mustahil secara medis, tapi Tuhan tidak pernah gagal. Ia tumbuh sehat, lincah, dan ceria. Tahun demi tahun berlalu, ia masuk TK Kristen Bala Keselamatan, lalu SD selama 6 tahun, dan kini menempuh pendidikan di SMP yang sama. Prestasi demi prestasi ia raih, dan kami percaya masa depannya akan gemilang.

Tahun 2013 kami mulai membangun rumah sendiri. Berkat Tuhan tidak pernah terlambat. Di tahun 2015, tepat pada ulang tahun Vernal tanggal 15 Januari, kami mensyukuri dan mendoakan rumah baru kami. Betapa besar anugerah itu—hidup bersama dua anak yang luar biasa, dengan restu kedua orang tua dari dua belah pihak. Kami hanya bisa berkata: terima kasih, Tuhan.

Namun, tahun 2014 menjadi awal perjuangan fisik bagi saya. Penyakit datang bertubi. Saya harus menjalani delapan kali operasi, keluar masuk rumah sakit menjadi bagian dari hidup saya. Ketakutan, kelelahan, bahkan keputusasaan sering datang, tapi saya tetap bertahan—demi keluarga saya tercinta. Suami saya tak kenal lelah, bahkan rela cuti kerja untuk merawat saya.

Anak-anak kami juga luar biasa. Vernal, yang sudah lebih dewasa, mulai memahami situasi kami. Kinanti, meskipun masih kecil, juga belajar menjadi kuat. Di saat anak-anak seusianya berlari mengejar prestasi, Kinanti memilih menemani kami. Namun Tuhan tetap memberkati—prestasi akademik mereka tetap gemilang, meski harus membagi waktu antara rumah sakit, belajar, dan pelayanan rumah.

Tahun 2023, badai datang kembali. Suami saya terkena serangan jantung. Belum pulih sepenuhnya, ia mengalami sariawan berkepanjangan selama 10 bulan dan harus dirujuk ke RS Wahidin Makassar. Kami berjuang kembali—kali ini bersama. Hingga April 2025, proses pengobatan masih berlangsung. Doa kami satu: Tuhan beri kekuatan untuk menjalani semuanya.

Dua puluh lima tahun kami bersama bukan dibangun dari janji-janji manis, tapi dari pengorbanan, air mata, tawa, dan doa. Ini bukan kisah sempurna, tapi kisah nyata tentang iman, harapan, dan kasih yang dibungkus dalam kasih karunia Tuhan. Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain. Berkat Tuhan hadir dalam banyak rupa—kadang bukan harta atau jabatan, melainkan kemampuan untuk tetap bersyukur dalam segala keadaan.

Kami bersaksi: berkat terbesar adalah ketika kita tetap memiliki cinta, meski hidup penuh luka.

Tuhan memberkati kita semua.

The End!

Editor: Paulus Laratmase