Bukan Ular atau Kepompong
Yusuf Achmad
Ketika ditanya makna puasa,
Banyak ragam etika, cara, dan kala.
Ketika puasa disamakan dengan ular,
Kepompong protes, puasanya paling sukses.
Puasa berbaju ṣaum atau ṣiyām,
Dan pakaian puasa temanku Lent, Vrata, atau tanpa busana.
Boleh-boleh saja berganti rupa kapanpun jua,
Puasaku bukan puasa ular atau kepompong.
Mereka tak makan dalam tapa berkepanjangan,
Kutak mampu begitu, karena benam mentari memarahi.
Aku berdiri di bawah sinar yang membakar,
Menghitung detik hingga akhirnya bisa berbuka.
Apalagi dapat wejangan ustad atau kiai pasti,
Meski kutak seperti ular atau kepompong.
Mereka lebih mulia dari celeng yang tak kenal,
Masa durasi yang penting gasak dan perut terisi.
Di benak ular dan kepompong kudalami,
Mereka diam dalam lapar dan dahaga, hanya itu mereka bisa.
Dalam ajaran kumengerti puasa lebih dari benak ular dan kepompong,
Yang berganti kulit dan menjadi indah.
Puasaku terbang bak kupu-kupu menuju ridhonya, kutunggu.
Surabaya, 16-1-2025