Bumikan Protas Berdampak : Ka.Kankemenag Dedi Wandra Launching 38 Inovasi GTK MAN Sawahlunto
SAWAHLUNTO (Humas), 19 Januari 2026 pagi itu Di halaman MAN kota Sawahlunto, denyut harapan terasa hidup mengalir dari para pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik yang berkumpul dalam satu tujuan mulia: menghadirkan pendidikan yang berdampak nyata bagi kehidupan.
Di tengah suasana penuh khidmat dan optimisme itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Sawahlunto, Dedi Wandra, secara resmi melaunching 38 inovasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) MAN Sawahlunto, sebuah ikhtiar kolektif untuk membumikan program prioritas (Protas) Kementerian Agama agar tidak berhenti sebagai kebijakan di atas kertas, melainkan hadir sebagai denyut nyata di ruang-ruang kelas dan lorong kehidupan peserta didik.
“Pendidikan tidak boleh berjalan di tempat. Ia harus bergerak, menyentuh, dan memberi dampak,” ujar Dedi Wandra dalam sambutannya, dengan nada yang menegaskan komitmen sekaligus harapan. Baginya, inovasi bukan sekadar kata kunci, tetapi ruh yang menghidupkan madrasah agar relevan dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Inovasi yang Tumbuh dari Akar Madrasah
Ke-38 inovasi yang diluncurkan bukanlah gagasan instan. Ia lahir dari pergulatan panjang para GTK MAN Sawahlunto dalam membaca kebutuhan peserta didik, menjawab tantangan era digital, serta menanamkan nilai moderasi beragama, karakter, dan kecakapan hidup. Mulai dari inovasi pembelajaran berbasis proyek, penguatan literasi dan numerasi, digitalisasi layanan madrasah, hingga program pengembangan karakter dan kepedulian sosial semuanya dirancang untuk satu tujuan pendidikan yang berdampak.
Inovasi-inovasi itu ibarat benih yang ditanam dengan penuh kesadaran. Tidak sekadar tumbuh, tetapi diharapkan berbuah memberi manfaat bagi siswa, madrasah, dan masyarakat sekitar.
Launching ini menjadi penanda penting bahwa program prioritas Kementerian Agama tidak berhenti pada slogan dan dokumen kebijakan. Di MAN Sawahlunto, Protas dibumikan melalui kerja nyata, kreativitas, dan keberanian untuk berubah.
Dedi Wandra menegaskan bahwa madrasah harus menjadi lokomotif peradaban—tempat nilai keagamaan bertemu dengan kecakapan abad ke-21. “Inovasi adalah cara kita menjaga madrasah tetap berakar pada nilai, namun menjulang ke masa depan,” tuturnya.
Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro mengucapkan terimakasih kepada seluruh GTK MAN Kota Sawahlunto yang telah mampu melahirkan inovasi – inovasi untuk kemajuan pendidikan di Madrasah ini.
Lebih dari sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi refleksi bersama bahwa madrasah adalah ruang harapan. Di sanalah karakter dibentuk, nalar diasah, dan masa depan disemai. Para guru dan tenaga kependidikan bukan hanya pengajar, melainkan arsitek peradaban yang bekerja dalam senyap namun berdampak panjang.
Dengan diluncurkannya 38 inovasi ini, MAN Sawahlunto menegaskan posisinya sebagai madrasah yang hidup, bergerak, dan berani melangkah. Sebuah madrasah yang tidak hanya mengikuti arus perubahan, tetapi ikut mengarahkan ke mana perubahan itu bermuara.
Kontributor : Nofri Hendra
Editor : DTB