April 21, 2026

Buya sebagai Guru Peradaban : Dari Lisan Hikmah ke Literasi Digital

Oleh: Dafril, Tuanku Bandaro

Kepala MAN Kota Sawahlunto dan Mahasiswa Program Doktoral Studi Islam, UM Sumatera Barat, Alumni PPMTI Talawi dan PPMTI Batang Kabung Padang

Dalam khazanah budaya Minangkabau, panggilan Buya bukan sekadar gelar kehormatan. Ia adalah pancaran adab dan akhlak, lambang kecendekiaan, sekaligus penanda kemuliaan seorang ulama yang berperan sebagai guru peradaban. Dari surau ke madrasah, dari pidato di lapau hingga tulisan di media, sosok Buya hadir sebagai penunjuk jalan menyalakan lentera ilmu di tengah gelap zaman.

Sebutan Buya lahir dari kata Arab “Abuya”, yang berarti ayahku, simbol penghormatan bagi tokoh berilmu dan berakhlak luhur. Dalam ranah Minangkabau, istilah ini melebur menjadi identitas khas bagi ulama yang bukan hanya berpengetahuan luas, tetapi juga berjiwa pengasuh dan penyantun umat.

Jejak Para Buya: Dari Surau ke Semesta Ilmu

Sumatera Barat dikenal sebagai Nagari Ulama. Di sanalah tumbuh tokoh-tokoh besar yang membawa Islam dengan kearifan budaya lokal. Dari surau kecil di tepi sawah, lahir guru-guru bangsa yang membangun jembatan antara agama, ilmu, dan peradaban.

Di antara tokoh besar itu, tercatat nama-nama seperti:

Syekh Sulaiman ar-Rasuli (Inyiak Canduang) Ulama karismatik pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), yang menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu syariat, tasawuf, dan akhlak.

Syekh Muhammad Jamil Jaho Cendekiawan ulama yang menjadi penggerak pendidikan Islam di Padang Panjang, memperkuat jaringan ulama tradisional Minangkabau.

Syekh Abbas Qadhi Ladang Lawas, Syekh Muhammad Djamil Djambek, dan Syekh Daud Rasyidi para penerus cahaya ilmu yang menghidupkan tradisi surau intelektual, tempat ilmu ditumbuhkan dengan adab dan hikmah.

Syekh. H. Salif Tuanku Sutan, Guru besar dan Pendiri Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung Padang

Dan tentu saja, Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) tokoh yang menyeberangkan ilmu dari lisan hikmah ke pena abadi. Melalui karya monumental seperti Tafsir Al-Azhar, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan Tasawuf Modern, Buya Hamka menjadikan literasi sebagai medan dakwah yang membentuk kesadaran umat dalam bingkai intelektualitas dan cinta kasih.

Lisan Hikmah: Warisan yang Menghidupkan

Dalam tradisi Minangkabau, ulama tidak hanya mengajar dengan kitab, tetapi juga dengan kata-kata yang hidup. Ceramah, petuah, dan nasihat yang disampaikan dengan kelembutan dan kecerdasan menjadi sarana mendidik jiwa masyarakat.

Lisan seorang Buya bukan sekadar untaian kalimat, melainkan energi moral dan spiritual. Petuah “Alim ulama indak lupo nan ampek, agama, adat, nagari jo budi pekerti” menjadi dasar etika sosial yang menata kehidupan masyarakat Minang agar seimbang antara dunia dan akhirat.

Kebijaksanaan lisan para Buya adalah bentuk literasi oral literasi yang menanamkan nilai sebelum huruf. Di surau, di pasar, di balai, bahkan di ladang, petuah Buya menjadi“universitas rakyat”yang menumbuhkan karakter umat.

Dari Pena ke Digital: Transformasi Literasi Buya

Kini, di era digital, peran Buya sebagai guru peradaban memasuki babak baru. Suara hikmah tidak lagi hanya bergema dari mimbar, tetapi juga dari layar. Kalimat petuah menjelma status media sosial, video ceramah diubah menjadi konten edukatif, dan tafsir disajikan melalui podcast serta kanal digital.

Namun, tantangan juga datang. Di dunia maya, arus informasi sering bercampur antara fakta dan fana, antara ilmu dan ilusi. Di sinilah ruh Buya harus kembali hidup bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk mendidik peradaban digital dengan adab digital.

Mewarisi semangat Buya Hamka berarti menjadikan pena (atau kini, keyboard dan kamera) sebagai alat dakwah yang menyebarkan hikmah, bukan hoaks; membangun kebijaksanaan, bukan kebisingan. Literasi digital sejatinya adalah kelanjutan dari literasi keilmuan klasik hanya berbeda medium, tapi sama misi: menyelamatkan manusia dari kebodohan dan kehampaan makna.

Analisis: Buya dan Etika Digital Umat

Jika para ulama klasik melawan gelap kebodohan dengan pena, maka Buya modern mesti melawan kabut disinformasi dengan etika literasi digital.

Etika ini berakar dari tiga fondasi utama:

1. Adab dalam berkata sebelum mengetik, tanyakan: “Apakah ini bermanfaat?”

2. Ilmu dalam menyebar jangan sebarkan yang tak pasti.

3. Akhlak dalam berdialog beda pandangan bukan alasan untuk saling menjatuhkan.

Inilah nilai yang diwariskan para Buya: ilmu yang menuntun, bukan menyesatkan; tutur yang menenangkan, bukan menebar amarah. Bila nilai-nilai ini merasuk dalam ruang digital, maka dunia maya pun akan menjadi surau baru peradaban.

Penutup: Menghidupkan Kembali Jiwa Buya

Seorang Buya bukan sekadar sosok berilmu, tetapi roh kearifan yang menuntun zaman. Di Minangkabau, Buya adalah simpul antara agama dan adat, antara teks dan konteks, antara masa lalu dan masa depan.

Kini, tantangan umat bukan lagi buta huruf, tetapi buta makna. Maka, saat dunia melaju dalam pusaran digital, peran Buya perlu lahir kembali dalam bentuk baru sebagai pendidik digital, penyebar nilai, penjaga nurani bangsa.

Dari surau tradisional hingga ruang maya global, suara Buya tetap sama:

”Ilmu tanpa adab adalah kehampaan, dan teknologi tanpa hikmah hanyalah kebisingan.”

Maka, marilah kita jadikan Buya bukan sekadar gelar, tetapi jiwa yang menghidupkan peradaban dari lisan hikmah ke literasi digital, dari surau masa lalu menuju dunia maya yang bermakna.

Artikel ini ditulis dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025