April 21, 2026

Dari Mihrab ke Literasi : Kemenag Sawahlunto Gerakkan Digitalisasi Perpustakaan Masjid

Sawahlunto, 17 Oktober 2025 Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto melalui Seksi Bimas Islam menggelar kegiatan Pembinaan Validasi dan Pendataan Perpustakaan Masjid yang berlangsung di aula Kemenag. Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus perpustakaan masjid dari empat kecamatan di Sawahlunto, dengan total peserta sebanyak 20 orang atau masing-masing lima orang per kecamatan.

Dalam kegiatan tersebut, dibahas perkembangan program Elektronik Literasi Pustaka Keagamaan Islam (Elipski), yang hingga kini baru terdaftar sebanyak dua masjid, yakni Masjid Taqwa Talawi dan Masjid Ijtihad Sikalang. Sementara itu, tercatat sebanyak 18 perpustakaan masjid dan mushala telah ada di wilayah Kota Sawahlunto, namun belum semuanya terdaftar secara digital melalui aplikasi Elipski.

Kepala Kantor Kemenag Sawahlunto, Dr. H. Dedi Wandra, turut memberikan arahan. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pustaka masjid merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan rumah ibadah. “Perpustakaan adalah sumber ilmu pengetahuan, media dakwah, sekaligus sarana peningkatan wawasan masyarakat. Kami yakin di setiap masjid sudah ada pustaka, hanya saja belum terdaftar di aplikasi. Melalui pendataan ini, kita ingin semua pustaka masjid terintegrasi secara digital dan bisa diakses pemerintah pusat, sehingga ada kesempatan bagi masjid untuk memperoleh bantuan,” ujarnya.

Dr. Dedi juga menyoroti pentingnya inovasi dalam pengelolaan masjid agar lebih ramah dan terbuka bagi masyarakat. Ia mencontohkan program “Masjid Ramah Musafir” yang pernah dijalankan pada masa libur Idul Fitri di Masjid Al Falah, Masjid Raya Silungkang, Masjid Taqwa Talawi, dan Masjid Agung Sawahlunto. “Ini sebuah terobosan yang mengikuti tren zaman. Rumah ibadah harus memberikan kenyamanan dan kecintaan bagi masyarakat, terutama yang berada di jalur lintas seperti Masjid Syuhada Palangki yang buka 24 jam dan memiliki fasilitas lengkap,” tambahnya.

Lebih lanjut, Kakankemenag menyoroti kebiasaan sebagian masjid yang dikunci di luar waktu salat. Ia mengingatkan bahwa masjid bukanlah rumah pribadi, melainkan rumah Allah yang seharusnya terbuka untuk umat.

Terkait kendala keterbatasan koleksi buku, Dr. Dedi mendorong agar pengurus masjid menjalin kerja sama dengan penerbit, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan lain.“Kita bisa upayakan pengadaan buku melalui wakaf, kerja sama, atau penggalangan dana. Koleksi buku tidak hanya seputar agama, tapi juga bidang lain seperti pertanian dan bisnis yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Ia menutup arahannya dengan harapan agar masjid menjadi pusat aktivitas dan sumber solusi bagi masyarakat. “Keinginan kita, masyarakat terpaut hatinya ke masjid, menjadikan rumah Allah sebagai tempat mencari ilmu dan menyelesaikan urusan kehidupan,” pungkasnya.

Kontributor : Puji Fadhlan Muttaqi