“Dari Garis ke Lingkaran”: Dr. Rudolf Wirawan Serukan Tata Dunia Regeneratif di Tengah Krisis Legitimasi PBB
*(Laporan Paulus Laratmase
–
Dalam Diskusi Publik yang digelar Analisis Papua Strategis (APS), Dr. Rudolf Wirawan mengajak dunia meninggalkan paradigma kekuasaan linear menuju tata dunia regeneratif berbasis keseimbangan, kesadaran ekologis, dan keadilan global.
Kegagalan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan konflik Palestina–Israel menjadi titik tolak refleksi tajam dalam Diskusi Publik yang diselenggarakan Analisis Papua Strategis (APS), Kamis (2/10). Acara bertajuk “Dari Garis ke Lingkaran: Reimajinasi Tata Dunia Regeneratif dalam Pemikiran Dr. Rudolf Wirawan” ini menghadirkan pemikir dan diplomat independen Dr. Rudolf Wirawan, yang dikenal lewat gagasan BIMA Framework, sebuah model tata dunia alternatif yang menempatkan keseimbangan sebagai dasar legitimasi global.
Diskusi yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif APS, Laus D.C. Rumayom, S.Sos., M.Si, itu turut menampilkan dua akademisi ternama: Dra. Suzie Sudarman, M.A (Pusat Kajian Amerika, UI) dan Dr. Broto Wardoyo, Ph.D (Ketua Departemen Hubungan Internasional FISIP UI). Ketiganya berdialog intens tentang masa depan diplomasi dunia di tengah krisis legitimasi lembaga internasional dan meningkatnya gejolak geopolitik global.
“PBB Lumpuh oleh Warisan Kekaisaran”
Dalam paparannya, Dr. Wirawan menguraikan bahwa krisis PBB bukanlah kegagalan teknis, melainkan cacat struktural yang diwarisi sejak 1945. “PBB dibangun di bawah bayang-bayang kolonialisme, di mana Dewan Keamanan menjadi ruang eksklusif bagi lima pemenang perang,” tegasnya.
Menurutnya, hak veto menjadi simbol ketimpangan moral global. “Satu veto bisa meniadakan suara ratusan negara. Dalam kasus Palestina, kita menyaksikan bagaimana satu tangan bisa membatalkan aspirasi seluruh umat manusia,” ujarnya, menyoroti peran Amerika Serikat dalam menghalangi resolusi pro-Palestina.
Ia menilai sistem ini mempertahankan “ilusi persatuan” yang menutupi realitas dominasi. “PBB menjadi panggung diplomasi simbolik, bukan ruang pemulihan kemanusiaan,” tambahnya.
Imperialisme Baru dan Mentalitas Linear
Lebih jauh, Dr. Wirawan menjelaskan bahwa dinamika global masih dikendalikan oleh pola pikir imperialistik yang ia sebut “mentalitas linear.” Dalam logika ini, dunia selalu dibagi antara pemenang dan pecundang, pusat dan pinggiran, kekuatan dan subordinasi.
“Sejak Inggris menginstrumentalisasi Zionisme hingga Amerika Serikat menjadikannya proyek moral pasca-Holocaust, dunia dijalankan melalui strategi pecah-belah. Ini bukan hanya politik luar negeri; ini adalah pola pikir kolonial yang berulang,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa konflik Palestina–Israel hanyalah gejala dari penyakit global: tatanan dunia yang masih berpikir dalam garis lurus, bukan dalam siklus kehidupan yang seimbang.
Kembali ke Lingkaran: Belajar dari Alam
Dalam bagian yang lebih reflektif, Dr. Wirawan menawarkan cara pandang baru: dunia harus belajar dari “kebenaran sirkular alam.” Alam, katanya, tidak mengenal pemenang dan pecundang. Ia hidup dari siklus regenerasi: lahir, tumbuh, mati, dan diperbarui kembali.
“Ketika manusia meninggalkan logika lingkaran ini dan memaksakan garis lurus kekuasaan, kita membuka gerbang kehancuran perang, kolaps, dan kepunahan,” tuturnya.
Paradigma regeneratif ini kemudian ia wujudkan dalam BIMA Framework (Balance, Intelligence, Mindfulness, Awareness), sebuah struktur konseptual yang menggabungkan rasionalitas ilmiah, kesadaran ekologis, dan etika spiritual.
BIMA Framework: Jalan Baru Tata Dunia
Melalui BIMA Framework, Dr. Wirawan mengusulkan pergeseran legitimasi global dari domination menuju balance. Ia menjelaskan empat pilar utama BIMA: (1) Balance, menggeser dasar legitimasi dari kekuasaan menuju harmoni, (2) Intelligence, menekankan keputusan berbasis bukti dan transparansi, (3) Mindfulness, mengedepankan pengendalian diri dan martabat manusia, (4) Awareness, membangun kesadaran historis, ekologis, dan antargenerasi.
“Legitimasi sejati tidak berasal dari veto, tetapi dari keseimbangan,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Merancang Lembaga Global Baru
BIMA bukan hanya konsep, melainkan rancangan konkret tata dunia alternatif.
Dr. Wirawan menjelaskan lima institusi regeneratif yang ia usulkan: Majelis Rakyat Dunia, Dewan Negara tanpa hak veto, Kamar Bioregional dan Adat, Dewan Etika dan Generasi Masa Depan, serta Pengadilan Umum untuk laut, iklim, dan ruang digital.
“Ini adalah arsitektur dunia baru tanpa kekaisaran,” katanya. “Kekuatan tidak lagi diukur dari siapa yang bisa menghukum, tetapi siapa yang bisa memperbaiki.”
Penegakan Tanpa Kekaisaran
Salah satu gagasan kunci yang menarik perhatian peserta adalah konsep “enforcement without empire.” Dalam sistem ini, sanksi global tidak berupa hukuman destruktif, tetapi berbasis pemulihan dan kompensasi.
Negara pelanggar tidak diisolasi, tetapi diarahkan untuk memperbaiki dampak dan memulihkan keseimbangan. Dr. Wirawan juga mengusulkan pembentukan Peace and Protection Service, lembaga kemanusiaan global yang bertugas menegakkan perlindungan sipil tanpa intervensi militerisme.
Dukungan Akademisi: UI dan Pusat Kajian Amerika
Menanggapi paparan tersebut, Dra. Suzie Sudarman, M.A dari American Studies Center menilai gagasan BIMA sangat relevan untuk membaca ulang peran Amerika Serikat dalam tata dunia. “Kita tidak hanya berbicara soal hegemoni, tapi soal paradigma peradaban. Amerika hari ini menghadapi tantangan moral untuk meninjau ulang makna kepemimpinannya,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Broto Wardoyo, Ph.D, menilai kerangka BIMA membuka jalan bagi diplomasi transnasional baru yang melibatkan masyarakat sipil global. “Tata dunia regeneratif menempatkan manusia, bukan negara, sebagai pusat etika global,” katanya.
Refleksi Papua: Diplomasi dari Pinggiran
Direktur Eksekutif APS, Laus D.C. Rumayom, menutup diskusi dengan refleksi penting. Ia menyebut bahwa pemikiran Wirawan mengandung pesan kuat bagi kawasan seperti Papua, yang sering kali menjadi korban dari tatanan global yang timpang. “Dari pinggiran dunia, kita belajar bahwa harmoni tidak lahir dari kekuasaan, tetapi dari keberanian untuk memulihkan kehidupan,” ucapnya.
Rumayom menegaskan bahwa APS akan terus menjadi ruang reflektif bagi gagasan-gagasan alternatif yang mempertemukan keadilan global dengan kearifan lokal.
“The Line Breaks, The Circle Returns”
Menutup sesi, Dr. Wirawan menyampaikan kutipan yang menjadi roh dari keseluruhan gagasannya: “The line breaks, the circle returns, garis itu patah, lingkaran kembali.”
Kalimat itu menjadi simbol transformasi dari dunia yang berpusat pada kekuasaan menuju dunia yang berpusat pada keseimbangan.
Melalui BIMA Framework, Dr. Wirawan menyerukan bukan sebuah reformasi diplomatik, tetapi kebangkitan etis umat manusia untuk hidup kembali di bawah hukum regenerasi alam dan martabat kehidupan.
Diskusi Publik “Dari Garis ke Lingkaran” diselenggarakan oleh Analisis Papua Strategis (APS) sebagai bagian dari program reflektif bulanan yang menghubungkan kajian geopolitik global dengan konteks Papua dan Asia Pasifik. Kegiatan ini mempertegas peran APS sebagai jembatan pemikiran strategis antara kawasan Timur Indonesia dan percaturan global.
*(Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, tinggal di Biak Papua