Dari Minangkabau -“Sumatera Barat, Nusantara, untuk Dunia: Baca Puisi Kemanusiaan Untuk Gaza – Palestina
Laporan Leni Marlina
–
PADANG, 12 Juni 2025 | suaraanaknegerinews.com.— Di tengah nyala duka dan bara penderitaan di Gaza, suara-suara dari Ranah Minangkabau menggema bagai genderang nurani. Di sebuah wilayah yang dikenal dengan adat dan iman, Sumatera Barat tidak tinggal diam. Ia menjawab luka dunia dengan senjata sunyi yang mengguncang: puisi.
Bertajuk “Save and Love Gaza”, aksi pembacaan puisi akan digelar Minggu pagi, 22 Juni 2025, di GOR Agus Salim, Padang. Ini bukan sekadar acara sastra—ini adalah panggilan jiwa lintas budaya, lintas agama, dan lintas bangsa. Sumatera Barat menjadi bagian dari World Poetry Movement (WPM), yang sejak 15 Mei 2025 telah menyuarakan pembacaan puisi serentak oleh 179 penyair dari 121 negara: dari Afrika hingga Eropa, dari Asia hingga Amerika Latin—dari manusia kepada manusia.
Aksi ini memperlihatkan bahwa dari ruang-ruang kelas, panggung-panggung rakyat, dan hati-hati yang remuk, masih ada perlawanan—tanpa senjata, tanpa kebencian—hanya dengan satu kekuatan: kata-kata yang jujur.
Dalam panggung solidaritas untuk Palestina yang akan digelar di Sumatera Barat, kehadiran para tokoh dari kalangan pemerintah dan organisasi perempuan menambah bobot dan makna acara ini. Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Azis, serta Dianita Maulin Vasko, Ketua BKOW dan Staf Ahli Tim Penggerak PKK Sumbar, akan tampil membawa suara moral dan empati. Dianita dijadwalkan membacakan puisi sebagai bentuk seruan kemanusiaan, menjadi simbol bahwa perjuangan dan doa untuk Palestina bukan hanya urusan politik, tetapi juga panggilan nurani.
Suara-suara dari para penyair dan seniman lintas generasi akan turut menggema, menyuarakan duka dan harapan melalui bahasa sastra. Nama-nama seperti Sastri Bakry, Andrea C. Tamsin, Yenni Ibrahim, Zamzami Ismail, Leni Marlina, Edrawati, Nofieana Gusti, Hesti Nelvia, Tyo Kurniawan, dan Rhein Eka Triana akan menghidupkan panggung dengan puisi dan pernyataan nurani. Ditambah dengan penampilan seni Islami dari Alfajr, Sumbar Talenta, dan Barabah Group, acara ini diharapkan menjadi ruang spiritual yang memadukan iman, cinta kasih, dan solidaritas, menjembatani langit doa dan tanah luka Palestina.
Panggung solidaritas untuk Palestina yang digelar di Sumatera Barat akan menjadi ruang pertemuan nurani, tempat di mana suara-suara empati dan kemanusiaan menggema dari berbagai kalangan. Dari unsur pemerintah, hadir Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Azis, bersama Dianita Maulin Vasko, Ketua BKOW dan Staf Ahli Tim Penggerak PKK Sumbar. Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa duka dan perjuangan rakyat Palestina tidak hanya menggugah hati rakyat biasa, tetapi juga menjadi kepedulian para pemimpin dan tokoh masyarakat. Dianita bahkan akan membacakan puisi, mengukir rasa dalam kata, menyampaikan solidaritas lewat estetika yang menyentuh kalbu.
Dari dunia sastra, barisan penyair dan seniman lintas generasi turut angkat suara. Nama-nama seperti Sastri Bakry, Andrea C. Tamsin, Yenni Ibrahim, Zamzami Ismail, Leni Marlina, Edrawati, Nofieana Gusti, Hesti Nelvia, Tyo Kurniawan, hingga Rhein Eka Triana akan tampil, membawa puisi-puisi yang lahir dari keprihatinan dan cinta kemanusiaan. Mereka bukan hanya membacakan sajak, tetapi menyuarakan luka dan harapan, mewakili nurani yang tak sanggup diam saat derita kemanusiaan terus berlangsung. Masing-masing membawa perspektif unik—dari ranah akademik, gerakan sastra, hingga suara muda yang progresif—menyatukan kata demi menyalakan harapan.
Tak hanya itu, acara ini juga akan disemarakkan dengan penampilan seni Islami dari Alfajr, Sumbar Talenta, dan Barabah Group. Lantunan shalawat, nasyid, dan musik spiritual akan menambah kesyahduan, menjembatani iman dengan cinta kasih universal. Panggung ini menjadi ruang kesaksian iman dan kemanusiaan, tempat langit doa bertemu dengan tanah luka Palestina, menghadirkan cahaya harapan dari ujung Barat Nusantara untuk saudara-saudara di Timur Tengah yang masih terjajah.

Ketua panitia, Eka Fitriyah Fauzar, menegaskan: “Ini bukan soal politik. Ini soal anak-anak yang kehilangan ibu dan ayah. Tentang orang tua yang kehilangan anak dan cucu. Tentang rumah dan tempat berlindung yang jadi abu. Tentang umat manusia yang diuji nuraninya. Gaza adalah luka kita semua, tak peduli dari mana kita datang, siapa Tuhan yang kita sembah.”
Pernyataan Eka disambut oleh Suryenti dan Basnurida (Ketua Asosiasi Siti Manggopoh), yang menyatakan bahwa puisi adalah bentuk perlawanan spiritual: bukan untuk melukai, tetapi untuk membangunkan dunia yang tertidur.
Sejumlah puisi yang akan dibacakan diantara berjudul:
1. Gaza Kota yang Terluka – Sastri Bakry
2. Di Antara Retakan Tanah – Leni Marlina
3. Langit Merah di Ufuk Palestina – Edrawati
4. Selamatkan Cinta: We Love Palestina – Nofieana Gusti
5. Duka Anak-anak Palestina – Hesti Nelvia
6. Berselimut Awan, Berbantal Doa – Tyo Kurniawan
7. Berikan Kami Senjata, Wahai Dunia” karya Pipiet Senja – Rhein Eka Triana.
8. Ketika Kita Diam Saja Melihat 1300 Anak-anak Dibunuh – Yenni Ibrahim
Acara baca puisi bertajuk “Save and Love Gaza” ini diselenggarakan oleh: World Poetry Movement Indonesia dan Tonggak Nagari, berkolaborasi dengan sejumlah organisasi dan komunitas seperti SatuPena Sumbar, BKOW Sumbar, FKPPI, DHD 45, Asosiasi Siti Manggopoh, Forkasmi dan HWK Sumbar.
Acara ini juga didukung oleh komunitas puisi dan literasi seperti PPIPM- Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat); Poetry-Pen International Community; World Children’s Literature Community (WCLC); dan Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia
Minangkabau mengenal prinsip: “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Tapi lebih jauh dari itu, masyarakatnya juta menjunjung nilai yang dikenal oleh semua agama dan bangsa: keadilan, kemanusiaan dan perdamaian.
Keadilan dan kemanusiaan hari ini, bersajak dalam ribuan suara. Bukan untuk mencaci, tetapi untuk menghidupkan empati dunia agar mampu berdamai. Karena ketika dunia bungkam, puisi akan bicara. Ketika doa tak terdengar, kata akan menembus langit.
Acara ini terbuka untuk umum. Semua umat, semua kepercayaan, semua hati yang peduli. Karena Gaza bukan milik satu agama, satu bangsa, atau satu bahasa, Gaza adalah luka umat manusia.