Di Atas Peta yang Menggigil
Era Nurza
–
Di atas peta yang menggigil
namamu kembali kubaca dengan gemetar
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat
tiga luka yang menyatu
dalam satu garis air
yang tak berhenti mengaduh
Hujan turun seperti seribu cerita pahit
menyayat bukit merobek lembah
membawa lara yang tak sempat kita hindari
Di antara riuh angin yang kehilangan arah
kita mendengar bisik bumi
yang meminta kita memeluknya
meski tubuhnya penuh luka
Aceh
engkau menangis di antara patahan rumah
dan teriakan yang berpacu dengan arus
Rumah hanyut
seperti hela napas terakhir
yang tak sempat dititipkan pada pagi
Saudara-saudara kita terserat arus
ada yang kembali dalam sunyi
ada yang tak ditemukan
meninggalkan tanda tanya
yang menggantung di dada keluarga
Sumatera Utara
di dadamu jalan-jalan retak
seperti syair yang tak selesai ditulis
Kayu-kayu, rumah dan harapan hanyut bersamaan
membawa cerita yang terputus
di tengah derasnya takdir
Di sana-sini nama dipanggil
namun angin hanya membawa
gema kehilangan
Sumatera Barat
engkau kembali basah
oleh sejarah yang mengulang nestapa
Bukit runtuh seperti hati yang roboh
rumah hilang ditelan lumpur
menyisakan pakaian yang menggantung
pada ranting patah
sebuah puisi duka yang tak ingin kita baca
Ada yang pergi bersama arus
ada yang belum pulang hingga hari gelap
seolah sungai menyimpan
rahasia yang terlalu perih
untuk diceritakan
Dan kita
hanya bisa berdiri di tepi kenyataan
sambil meraba getar di dada
betapa rapuhnya hidup
betapa dekatnya air mata
dengan segala yang kita sebut rumah
Namun dari reruntuhan dan lumpur
selalu tumbuh harapan kecil
yang tak pernah mau padam
lentera yang disulut
dari gotong royong dari doa
dari tangan-tangan yang saling menggenggam
di tengah segala yang hilang
Wahai Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat
kami hadir di antara deritamu
membentangkan pelukan
yang tak mungkin menahan banjir
tapi mungkin cukup
untuk mengeringkan sedikit saja
air mata bumi
Padang, Desember 2025