April 17, 2026
Copilot_20260417_055434

Yusufachmad Bilintention

Sederajat dalam Iman dan Kebangsaan

Dalam percakapan sederhana antara Nova dan Enggar, tersimpan pesan mendalam tentang persamaan derajat, nilai kemanusiaan, dan semangat kebangsaan. Dialog ini bukan sekadar tanya jawab, melainkan refleksi tentang bagaimana Islam dan Pancasila sama-sama menegaskan pentingnya kesetaraan.

Nova membuka dengan pertanyaan tentang warna—putih atau hitam—yang kemudian berkembang menjadi renungan tentang mengapa ada manusia atau kelompok yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Enggar menanggapi dengan mengingatkan bahwa dalam Islam, semua manusia sederajat. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, karena keduanya memiliki hak dan tanggung jawab masing-masing.

Percakapan ini kemudian mengalir ke Pancasila, dasar negara Indonesia. Nova menegaskan kebanggaannya pada sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang adil dan beradab. Enggar menambahkan bahwa sila ini dijiwai oleh sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, derajat manusia bergantung pada sejauh mana ia beriman dan mengamalkan ajaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dialog ini menegaskan bahwa Indonesia tidak menerima perbudakan atau superioritas. Semua warga negara memiliki kedudukan yang sama. Kesetaraan ini menjadi fondasi persatuan bangsa, yang diperkuat oleh ajaran Islam tentang saling mengenal dan menghormati.

Pesan yang lahir dari percakapan Nova dan Enggar adalah ajakan untuk hidup beradab: mematuhi aturan negara, menjunjung tinggi adab Islam, dan menjaga persatuan. Dengan begitu, kita dapat menjadi manusia yang benar-benar beradab, sesuai dengan semangat Pancasila dan ajaran agama.

Untuk tulisan lain silahkan buka:

https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en 
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211

Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly