April 16, 2026
WhatsApp Image 2026-04-16 at 08.20.03

oleh Reiner Emyot Ointoe

„Kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Mengingat kematian dapat menjadi pengingat untuk selalu memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjauhkan diri dari dosa.“ — Al Ghazali(1058-1111), Metode Menjemput Maut(2001).

Meski diliputi kabut misteri, kematian adalah keniscayaan eksistensial.

Sebagaimana kelahiran atau kehidupan, kematian pun mengandung filsafat eskatologi yang mengguncang sekaligus menakutkan.

Dengan refleksi-kontemplatif ini hendak menyingkap dua wajah kematian yang hadir begitu dekat, dalam rentang dua hari, melalui dua sosok Dr. Abdi Widjaja Buchari, MSi. dan Dr. Amir Zuhdi.

Dua sahabat dekat dengan lintasan hidup berbeda—seorang birokrat yang meniti jalan pengabdian publik, dan seorang dokter yang menyalakan obor neurosains dalam pendidikan keluarga—meninggalkan dunia dengan cara yang sama misteriusnya: tiba-tiba, tak terduga, namun sarat makna.

Kematian Abdi Buchari(66), 14 April 2026, birokrat yang sederhana dan dekat dengan rakyat, seakan menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat adalah warisan yang tak lekang oleh waktu.

Lahir di Manado pada 20 Oktober 1959, ia menempuh pendidikan di Universitas Sam Ratulangi, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Negeri Jakarta, yang membekalinya dengan pengetahuan dan keterampilan untuk meniti karier di dunia birokrasi.

Dengan latar belakang akademik yang kuat, ia kemudian dikenal sebagai sosok yang berkomitmen pada pelayanan publik dan pembangunan daerah.

Kariernya menonjol ketika ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Walikota Manado pada periode 2005–2008 mendampingi Walikota Manado, Jimmy Rimba Rogi.

Setelah itu, ia ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Walikota Manado pada 2008–2009 menggantikan Jimmy Rimba Rogi yang diberhentikan.

Dalam peran tersebut, Abdi Buchari menunjukkan dedikasi dan integritasnya sebagai pemimpin yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Sebagai seorang birokrat senior, ia dikenal luas karena komitmennya terhadap pelayanan publik.

Kehadirannya dalam pemerintahan Kota Manado memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan daerah, dan ia selalu menempatkan kepentingan masyarakat sebagai prioritas utama.

Dalam kehidupan pribadi, ia menikah dengan Rosmawaty Nasaru, SE, dan dikaruniai dua orang anak.

Ia meninggalkan jejak kepemimpinan yang bersahaja, teladan bagi generasi birokrat berikutnya.

Sementara itu, kepergian Dr. Amir Zuhdi(58), 15 April 2026, sang penggerak neurosains dalam parenting dan kepemimpinan, mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan pun tak mampu menunda kepastian ajal.

Dr. Amir Zuhdi adalah seorang dokter sekaligus tokoh yang dikenal sebagai penggerak pendidikan berbasis neurosains di Indonesia, khususnya dalam bidang parenting, kepemimpinan, dan pengembangan keluarga.

Ia merupakan pendiri Neuroparenting Indonesia serta deklarator Indonesia Neuroscience Society (INS).

Dr. Amir Zuhdi lahir dan meniti karier sebagai seorang dokter yang memiliki minat besar terhadap neurosains.

Ia aktif mengembangkan konsep brain-based parenting, yaitu pola pengasuhan anak yang berlandaskan pada kinerja otak.

Melalui gagasan ini, ia berupaya membangun model pengasuhan yang lebih ilmiah dan efektif, sehingga orang tua dapat memahami bagaimana otak anak bekerja dalam proses tumbuh kembang.

Selain itu, ia juga mendirikan NeuroLeadership Indonesia, sebuah wadah untuk mengembangkan kepemimpinan berbasis neurosains, serta menjadi co-founder komunitas Neuronesia, yang menghimpun para pencinta neurosains di Indonesia.

Dalam kiprahnya, Dr. Amir Zuhdi sering tampil sebagai pembicara seminar dan pelatih dalam bidang parenting neurosains.

Ia menekankan pentingnya integritas keluarga, pengelolaan emosi, serta pola asuh yang selaras antara guru dan orang tua.

Namun, gagasannya tetap hidup, menjadi cahaya bagi keluarga dan masyarakat yang ingin memahami tumbuh kembang manusia dengan pendekatan ilmiah.

Dua kematian ini, bila dilihat dari perspektif Quraish Shihab(82) dan Komaruddin Hidayat(72), menghadirkan ruang kontemplasi yang mendalam.

Quraish Shihab, melalui Kematian Adalah Nikmat(2018), mengajak kita melihat kematian sebagai fase baru yang patut disyukuri.

Ia menekankan bahwa kematian bukan kehancuran, melainkan transisi menuju kehidupan abadi.

Dalam konteks Abdi Buchari, kematian menjadi penutup yang indah bagi sebuah perjalanan pengabdian; dalam konteks Dr. Amir, ia adalah pintu menuju kelanjutan gagasan yang akan terus berdenyut dalam masyarakat.

Komaruddin Hidayat, lewat Psikologi Kematian(2005;2025), menekankan bahwa cara pandang terhadap kematian menentukan kualitas hidup.

Jika dipahami sebagai kembali kepada Tuhan, kematian menjadi sumber ketenangan.

Analogi “pulang kampung” yang ia gunakan memberi gambaran bahwa kematian bukan sekadar akhir, melainkan kepulangan penuh makna.

Abdi pulang dengan membawa warisan pengabdian birokrasi, Amir pulang dengan membawa warisan ilmu dan gagasan neurosains. Keduanya, meski berbeda jalan, sama-sama pulang dengan bekal yang kaya.

Refleksi atas dua kematian ini memperlihatkan bahwa takdir manusia memang beragam, tetapi ujungnya satu: kembali kepada Sang Pencipta, Ilaihi turja‘un.

Dari sudut pandang agama dan filsafat, kematian bukanlah tragedi semata, melainkan keniscayaan eksistensial yang menuntut penerimaan penuh tanpa reseref.

Kehidupan Abdi dan Amir menunjukkan bahwa yang paling penting bukanlah panjang atau singkatnya usia, melainkan kualitas pengabdian dan kontribusi yang ditinggalkan.

Dengan demikian, kematian mereka menjadi pelajaran bahwa hidup harus dijalani dengan kesadaran penuh, karena setiap langkah adalah persiapan menuju kepulangan yang tak terelakkan.

#cover Quran:
Surah Ar-Rahman versi Abdullah Al Bahar dirilis dalam bentuk EP pada 22 Juni 2024 di Apple Music, dan versi live stage/open air dirilis oleh Zikrullah TV pada 15 September 2025.

#credit foto diunggah dari laman facebook.