April 20, 2026
mote

Bupati dan Wakil Bupati Teripilih Kabupaten Waropen 2024-2029

Refleksi oleh: Paulus Laratmase

Marle Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 menulis, “Setelah tahun baru, 1 Januari 1546 dia naik kapal dari Malaka ke Ambon. Sepanjang tahun 1546-1547, Xaverius bekerja di tengah-tengah orang Ambon, Ternate, dan Morotai (Moro) serta meletakkan dasar-dasar bagi suatu misi yang tetap di sana.”

Fransiskus Xaverius hadir di tengah-tengah masyarakat yang oleh Leo Soekoto Sang Uskup, kala itu Maluku secara keseluruhan telah dikuasai oleh Kesultanan Ternate dan Tidore. Bahkan Mgr. Soekoto menggambarkan bahwa di Ambon telah hadir gereja protestan mendahului kehadiran Fransiskus Xaverius.

Drs. F.X. Mote, M.Si: Hidup Dalam Lindungan Tuhan, Selalu Mengandalkan Tuhan Dalam Seluruh Aktifitas Hidup Semua Orang

Kehadiran Fransiskus Xaverius hadir sebagai pembawa misi kemanusiaan dalam hadirat Tuhan yang diimaninya. Fakta Sejarah menunjukkan bahwa kehadirannya tidak significan dengan jumlah mayoritas umat katolik di tempat di mana ia berkarya. Justeru di sana kemanusiaan dihadirkan pada pemahaman “Manusia Ciptaan Tuhan Yang Satu dan Sama” bagi semua orang.

Gagalkah Santo Fransiskus Xaverius dalam karya misinya di dunia? TIDAK! Ia justeru menjadi pendiri Serikat Jesus yang karya-karya misyonernya tersohor di seluruh dunia.

Adalah Drs. Fransiskus Xaverius Mote,M.Si, sosok seorang Putera Papua dari Kabupaten Paniai Provinsi Papua Tengah yang mengalami jatuh bangun dalam berbagai karier politiknya.

Anggota MRP Papua Tengah periode 2023-2028 yang mendapat rekomendasi Keuskupan Timika mewakili golongan Agama Katolik, pada akhirnya dieliminasi sendiri oleh pemberi rekomendasi dengan berbagai alasan yang tidak jelas.

Sebagai kandidat Calon Bupati Nabire beberapa waktu lalu, namun ia gagal dari lawan politiknya. Ia tidak merasa diri kalah, karena Fransiskus Xaverius Mote mengimani Tuhannya sebagai “Pemenang” dalam perjalanan menuju Golgota. Yesus jatuh dan jatuh… Namun Yesus tetap bangkit menyelesaikan perjalanan menggapai bukit Kalvari.

Kematian Yesus di Bukit Kalvari, oleh kaum Herodian, sebuah kekalahan telak bagi pembuktian dirinya sebagai Raja Agung, Raja Semesta Alam. Namun Kebangkitan Yesus dari Alam Maut dan Naik ke Surga dengan Mulia, menggambarkan sebuah kemenangan mutlak atas prediksi politis kaum pembenci yang digambarkan Para Penginjil sebagai kaum berjubah ala Farisi.

Karya-karya misyoner Santo Fransiskus Xaverius dan karya-karya Drs. Fransiskus Xaverius Mote, M.Si sudah pasti tidak sama. Namun sebuah kesamaan yang patut dicatat sebagai actus humanus adalah “Diam Dalam Hadirat Tuhan” dalam seluruh karya mereka.

Mencari dan mencari apa kehendak Tuhan dalam seluruh karya misyonernya, adalah sebuah Kebajikan (virtus) memaknai panggilan hidup kekatolikan, sebuah realitas iman akan penyelenggaraan Ilahi dalam hidup mereka.

Waropen memanggilnya pulang. Pulang untuk mengantar rakyat yang beberapa tahun lalu, benih-benih kemanusiaan itu telah ditabur. Bukan persoalan Fransiskus Xaverius Mote dari “Gunung” dan Waropen identik dengan “Pantai” dalam sebuah dikotomi kemanusiaan memanusiawikan manusia Papua.

Fransiskus Xaverius Mote, sebuah pengorbanan setitik atom tidak dilupakan rakyat Waropen sebagai bagian dari proses pemanusian manusia. Ia pun dipanggil melalui pesta demokrasi pemilihan kepala daerah 27 November 2024 sebagai pemenang.

Pagi ini, Minggu 1 Desember 2024, minggu pertama di masa Adven, Fransiskus Xaverius Mote mengirimkan sebuah nats Kitab Suci berbunyi, “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemohkan barisan dari pada Allah yang hidup? (1 Samuel 17:26b).

Identifikasi diri bangsa Filistin tak jarang bermakna theologis kaum Farisi, memakai jubah panjang, berdiri di sudut-sudut jalan strategis sambil berdoa, untuk menyombongkan diri bahwa orang lain tidak seperti mereka yang suci tak bernoda.

Fransiskus Xaferius Mote, kini tampil sebagai “Pemenang” bukan karena kuat dan gagahnya seperti seorang Goliat. Ia justeru tampil sebagai pemenang karena “Sandarannya Pada Penyelenggaraan Tuhan Yesus dalam Seluruh Hidupnya.”

Ia jatuh dan jatuh… Namun bangkit dan berjalan dalam pengharapan akan Tuhannya. Tuhan Andalannya Yang Mengantarkan Fransiskus Xaverius Mote menjadi Pemimpin di Waropen 2024-2029 mengantarkan Rakyat 1000 Bakau menuju kesejahteraan yang menjadi visi kepemimpinannya lima tahun ke depan.