April 27, 2026
WhatsApp Image 2026-04-26 at 19.01.27_11zon

Oleh: Reiner Emyot Ointoe

“Apa pun yang dilakukan satu orang, seolah-olah semua orang melakukannya. Karena alasan itu, tidaklah tidak adil jika satu ketidaktaatan di taman Eden mencemari seluruh umat manusia; karena alasan itu pula tidaklah tidak adil jika penyaliban seorang Yahudi saja sudah cukup untuk menyelamatkannya.” — Jorge Luis Borges(1899-1986), Labyrinths(1962).

Sejarah planet bumi sejak lahir, telah menyimpan rahasia gaib yang masih terselubung kabut mitos dan eskatologis. Namun, di sisi evolusi banyak aib(infamia) yang juga terselip di sela-sela riwayat panjang bumi ini.

Namun di lain hal, sejarah aib dalam sastra dan politik dapat dibaca sebagai dua wajah dari teks yang sama‑sama mengusik batas antara fakta dan fiksi.

Jorge Luis Borges, sastrawan dunia yang lahir di Buenos Aires pada 24 Agustus 1899 dan wafat di Jenewa pada 14 Juni 1986, melalui Historia universal de la infamia(1935) menampilkan biografi fiksi para penjahat, penipu, dan bajak laut.

Terjemahan Inggris, A Universal History of Infamy(1999), oleh Norman Thomas di Giovanni dan Penguin Classics pada 2004 dengan judul A Universal History of Iniquity, oleh Andrew Hurley.

Buku ini merupakan koleksi pertama Borges yang sepenuhnya berupa fiksi. Sebagian besar kisahnya awalnya dimuat di majalah Crítica antara 1933–1934, lalu dikumpulkan dalam edisi 1935 oleh Editorial Tor.

Borges kemudian merevisi dan menambah cerita pada edisi 1954 yang diterbitkan oleh Emecé, sehingga versi definitifnya berisi empat belas cerita.

Terjemahan Inggris, A Universal History of
Infamy (1999), diterjemahkan oleh Norman Thomas
di Giovanni dan Penguin Classics pada 2004
dengan judul A Universal History of Iniquity,
diterjemahkan oleh Andrew Hurley.

Dalam kumpulan ini, Borges menulis ulang kisah nyata para penjahat dan tokoh bersejarah dengan gaya yang sengaja menyimpang dari fakta, menciptakan semacam “sejarah aib” yang lebih bersifat literer daripada dokumenter.

Tokoh-tokoh yang muncul antara lain Lazarus Morell, penipu yang mengaku membebaskan budak; Tom Castro, seorang impostor; Ching Shih, janda bajak laut yang memimpin armada besar; dan Billy the Kid.

Borges tidak sekadar menyalin kisah mereka, melainkan memelintir detail, mengubah nama, dan menambahkan nuansa ironis sehingga menghasilkan potret yang ambigu: para penjahat digambarkan sekaligus sebagai sosok tragis, licik, dan kadang heroik.

Dalam kata pengantar edisi 1954, Borges sendiri menyebut karya ini sebagai “permainan barok” dari seorang penulis pemalu yang belum berani menulis cerita pendek murni.

Ia mengakui bahwa kisah-kisah tersebut adalah “olahraga tak bertanggung jawab” yang lahir dari kesenangan memutarbalikkan cerita orang lain.

Secara ringkas, sejarah aib dalam karya ini adalah upaya Borges untuk menampilkan sisi gelap manusia—penipuan, pengkhianatan, kekerasan—dalam bentuk cerita yang penuh ironi dan fantasi.

Ia menjadikan infamia sebagai bahan seni, bukan sekadar catatan kriminal, sehingga membuka jalan bagi gaya yang kelak dikenal sebagai realisme magis.

Dalam Latin, kata infamia(aib) sejak awal
mengandung makna hilangnya kehormatan. Lanjut
dalam sejarah, a adalah status hukum yang nyata;
dalam fiksi, ia menjadi simbol reputasi buruk yang
abadi.

Borges sendiri sering menyebut karya ini sebagai “permainan barok” dan “olahraga tak bertanggung jawab,” serta menunjukkan bahwa infamai(aib) di tangannya bukan catatan sejarah, melainkan bahan estetika yang membuka jalan bagi realisme magis.

Ia mengakui bahwa kisah-kisah tersebut adalah “olahraga tak bertanggung jawab” yang lahir dari kesenangan memutarbalikkan cerita orang lain.

Dengan demikian, Historia universal de la infamia bukanlah catatan sejarah yang dapat diandalkan, melainkan eksperimen literer yang menyingkap bagaimana “aib” dapat menjadi bahan estetika.

Secara ringkas, sejarah aib dalam karya ini adalah upaya Borges untuk menampilkan sisi gelap manusia—penipuan, pengkhianatan, kekerasan—dalam bentuk cerita yang penuh ironi dan fantasi.

Ia menjadikan infamia sebagai bahan seni, bukan sekadar catatan kriminal, sehingga membuka jalan bagi gaya yang kelak dikenal sebagai realisme magis tersebut sebelumnya.

Salah satu kisah aib yang ditulis Borges dalam Historia universal de la infamia adalah tentang Tom Castro, seorang penipu asal Inggris yang berpura‑pura menjadi Sir Roger Tichborne, pewaris kaya yang hilang.

Dalam kisah Morell pun Borges menulis:

“Lázarus Morell bernasib malang karena bukan seorang yang bertindak, melainkan seorang yang pandai berbicara. Takdirnya adalah memberi saran, bukan melaksanakan. Ia adalah pemimpin para penjahat, bukan penjahat itu sendiri.”

Delapan dekade kemudian, di Indonesia, muncul Jokowi’s White Paper(terbit 18 Agustus 2025 di Yogyakarta) karya Roy Suryo, dr. Tifauzia Tyassuma, dan Rismon Sianipar.

Buku setebal hampir 700 halaman ini menyajikan analisis digital forensik, telematika, dan neuropolitika atas keabsahan ijazah Presiden Joko Widodo.

Ia memuat kajian teknis seperti Error Level Analysis(ELA), perbandingan watermark, tanda tangan, hingga spektrum warna stempel ijazah.

Namun publikasi ini segera memicu polemik hukum dan politik karena dianggap menyebarkan tuduhan tanpa dasar yang jelas.

Klaim di luar teks, seperti tuduhan ijazah “99,9 persen palsu,” tidak ditemukan eksplisit dalam buku, sehingga menimbulkan kontroversi internal di antara para penulis sendiri, disertai tuduhan glorifikasi hoaks dan perselisihan soal keuntungan penjualan.

Selain itu, dr. Tifa menambahkan kajian neuropolitika yang mengaitkan perilaku politik dengan aspek neuro‑behavioral.

Entah apa? Kelak, Rismon Sianipar, salah satu penulis, kemudian menyatakan bahwa buku tersebut tidak pernah menyimpulkan kepalsuan ijazah dengan angka pasti, dan menuding adanya glorifikasi hoaks serta motif politik di balik publikasi.

Perselisihan internal antara Roy Suryo, dr. Tifa, dan Rismon pun pecah, disertai tuduhan penggelapan keuntungan penjualan buku yang disebut mencapai miliaran rupiah.

Selain itu, dr. Tifa menambahkan kajian neuropolitika yang mengaitkan perilaku politik dengan aspek neuro‑behavioral.

Buku ini juga menyinggung pernyataan Jokowi tentang IPK rendah yang memicu keraguan publik, serta menyebut tokoh lain yang sebelumnya mempertanyakan ijazah Jokowi namun kemudian menghadapi proses hukum.

Kontroversi muncul karena klaim yang disampaikan di luar buku—misalnya tuduhan ijazah “99,9 persen palsu”—tidak ditemukan secara eksplisit dalam teks.

Jika dibaca bersama, Borges dan Jokowi’s White Paper memperlihatkan bagaimana “sejarah aib”(history of infamy) dapat lahir dari dua ranah berbeda: fiksi literer dan fakta ilmiah yang diperdebatkan.

Borges menjadikan aib sebagai seni, mengolah penipuan dan kekerasan menjadi cerita penuh fantasi.

Sementara Jokowi’s White Paper mencoba menghadirkan aib dalam bentuk analisis teknis, tetapi justru menyingkap bagaimana klaim yang tidak teruji bisa berubah menjadi narasi politik yang kontroversial.

Keduanya menunjukkan bahwa sejarah aib bukan sekadar tentang kejahatan atau kebohongan, melainkan tentang bagaimana teks—baik fiksi maupun fakta—dapat membentuk persepsi publik, menimbulkan ironi, dan menguji batas antara kebenaran dan ilusi.

#coversongs:
“Everybody Hurts” adalah lagu REM yang dirilis sebagai single pada 5 April 1993 dari album Automatic for the People (1992).

Maknanya adalah pesan harapan dan solidaritas yang sederhana namun kuat: mengakui bahwa setiap orang mengalami penderitaan, tetapi menegaskan bahwa kita tidak sendirian dan harus bertahan.

#credit foto diunggahkan dari Youtuber Chronology of Police Calling Jokowi’s White Paper Unscientific, Rismon Dis.. KOMPASTV KENDARI dan The Remarkable Tales of Jorge Luis Borges @Fiction Beast disertai cover bukunya.