April 22, 2026

“Hujan Dalam Surat Kosong”: Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI)

lina hujan

Ilustrasi "Hujan Dalam Surat Kosong": Kumpulan Puisi Pilihan (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI). Sumber Gambar: Starcom Indonesia Artworks No. 925-93 (Assisted by AI).

/1/

Hujan Dalam Surat Kosong

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kutulis hujan dalam selembar kertas,
ia menetes dari ujung pena,
melebur huruf-huruf penuh gelisah.
Surat ini menggenang,
hanyut dalam dirinya sendiri,
tak pernah tiba di tanganmu.

Di luar, hujan menggumam pada kaca,
menyanyikan elegi yang tak pernah kita selesaikan.
Ia menyusup di antara genting,
merayapi dinding,
mencari celah di hatimu.

Barangkali ia lebih setia dari doa,
lebih gigih dari janji,
lebih lantang dari kenangan.
Namun kau tetap menutup jendela,
membiarkan hujan mengetuk dalam sia-sia.

Maka ia pun reda,
dan di pagi buta,
kau temukan surat itu,
kosong begitu saja.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

/2/

Cerita Hujan

Puisi
Muliaty Mastura Yusuf

[Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat: PPIPM-Indonesia, IPMI Sulsel, Satu Pena, Kreator Era AI]

Dari air menjadi air.
Dari semua sumber air,
air laut, danau, sungai,
menguap menuju atmosfer.

Pada atmosfer
terjadi perubahan bentuk dari gas menjadi cair,
lalu membentuk awan.
Awan menggantung di udara kian tebal,
pertanda hujan akan turun.

Bayangkan bila dimusim kemarau,
tanaman kering kerontang kekurangan air.
Bila musim hujan tiba, petani bersuka-cita, menyambut damai aliran air dari langit,
menyiram tanaman menyambut swasembada pangan.

Air hujan,
dambaan insan,
setelah sekian bulan mengalami kemarau.
Hujan pun menimbulkan genangan dan banjir
di mana-mana.

Hujan tiada henti.
Jalanan tergenang bak lautan lorong-lorong tergenang.
Longsor pun terjadi
Sungai meluap,
mahasiswa pun hanyut.

Hujan membuat tidurku nyenyak.
Namun tiba-tiba,
titik-titik air menetes. Setetes demi setetes, membasahi kasurku.

Air hujan menembus plafon,
dan menetes dengan tenang.
Di dapur,
air hujan menembus sela-sela dinding.
Air mengalir mencari tempat rendah,
sampai ke bawah tembus mesin cuci.

Dari lantai dua,
tetes-tetes air menembus ke lantai satu.
Air hujan ditadah dengan waskom.
Namun, semakin banyak titik-titik tetesan,
waskom pun habis terpakai.

Baju lama habis terpakai,
semua basah mengelap lantai,
dan menahannya agar tak merembes.

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Cerita hujan di sana lebih parah.
Air masuk ke rumah hingga semeter,
bahkan lebih.
Mereka mengungsi ke masjid.
Tidur tak nyenyak,
dingin menggigil dan antre memeroleh makanan, anak-anak diare,
gatal-gatal kulit menambah sulit tidur.

Hujan tak kunjung reda, berujung banjir menghanyutkan rumah, pohon tumbang,
longsor, tanaman rusak, gagal panen hingga harga sayur-mayur melonjak.
Harga kangkung seikat
dibanderol dua puluh ribu.

Selepas hujan,
perlahan air surut ,
mereka kembali ke rumah,
membersihkan tumpukan lumpur yang numpang lewat.

Aku bersyukur.
Hujan tiada reda,
tak mengganggu siklus keseharian.
Disaat di luar sana, terendam dan makan di tengah genangan air dalam rumah.
Aku berdoa pada Yang Maha Kuasa.
Agar siklus hidrologi di bumi,
tidak merusak sendi-sendi kehidupan manusia dan segala isinya.

Cerita hujan,
Menyadarkan diriku untuk selalu berdoa berlindung pada-Nya.

_ Somba Opu
Sulawesi Selatan
Jumat, 31 Januari 2025

————————–
Muliaty Mastura Yusuf adalah penulis aktif berdomisili di Somba Opu, Gowa, Sulawesi Selatan.

 

/3/

HUJAN

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan turun seperti ibu berusia senja,
meniti malam dengan doa,
menyebut nama kita dalam rintik-rintiknya,
menyusuri jalanan yang pernah kita tinggalkan,
mengetuk jendela yang tak lagi terbuka.

Di tubuhnya,
kenangan mengalir tanpa muara,
di dadanya,
dendam tak sempat jadi sungai.
Ia mengetuk bumi dengan sabar yang lirih,
memanggil kita pulang sebelum debu mengambil haknya.

Tapi kita berdiri di balik pintu,
menolak basah,
menolak ingatan.
Kita biarkan ia jatuh dan hilang,
seperti kasih yang tak pernah kita jawab.

Sampai akhirnya ia letih,
pergi dengan membawa separuh nama kita,
yang tertinggal di mimpinya.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

/4/

Jika Sudah Masanya

Puisi Muslimin

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jatim, Kreator Era AI]

Jika sudah masanya,
hujan turun tanpa dipaksa.
jika sudah masanya,
deras rinai bergantian menyuburkan.
jika sudah masanya, tetumbuhan meranum hijau bersuntingan.
jika sudah masanya,
doa-doa jadi kasunyatan,
mengalir bening tirta telaga,
kembang padma bermekaran
mengaca diri pagi membinar wajah keriangan.

Ternyata kepedihan bisa jadi tuntunan kehidupan,
ternyata tangisan bisa jadi tumpuan kelaraan,
dan kita bertahap tapi pasti,
melewati tikungan menurun mendaki,
curam jurang menghela kendali,
licin jalan meredam ambisi ilusi,
jika sudah masanya,
segalanya indah bisa terjadi.

_ Lamongan, Jatim
27 Januari 2025

—————
Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, Jatim, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.

/5/

Hujan Berjalan Menjauh Dari Ingatan

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan melangkah ke bumi dengan jubahnya yang koyak,
menyusuri jalan yang dulu menghafal jejaknya.
Namun kota-kota telah menghapus namanya,
atap-atap menutup diri, sungai menolak suaranya.

Ia mengetuk jendela,
tapi kaca hanya memantulkan sunyi,
ia menyapa pohon,
namun akar telah lupa bahasa air.
Di lorong-lorong lampu,
ia bertanya:
“Masihkah kau ingat aku?”

Maka hujan berjalan, menjauh dari ingatan dunia,
menjadi kabut di perbukitan asing,
menjadi embun yang ragu turun ke rerumputan.
Hanya pada malam,
ia menangis perlahan,
dengan air mata yang tak lagi dikenali bumi.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

/6/

Mau Hujan Tapi Tak Mau Basah

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Pernahkah kau melihat hujan tersungkur di trotoar,
dihina roda-roda yang bergegas pulang?
Pernah kau mendengarnya merintih di selokan,
terperangkap antara plastik dan dosa manusia?

Di atap-atap kaca pencakar langit,
hujan tak menemukan tempat bersandar,
ia hanya bisa jatuh lebih keras,
menjadi dentuman yang tak lagi romantis.

Di lorong-lorong malam,
ia memanggul doa yang tak sampai,
tertawa getir melihat manusia,
yang berdoa meminta hujan dan berkah,
namun tak mau basah.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

/7/

Hujan yang Mati di Udara

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan yang tak pernah sempat menjadi hujan,
menggantung di langit seperti janji yang diingkari.
Ia ingin jatuh,
memeluk bumi,
tapi angin menyergapnya, menamparnya ke balik awan.

Ia melihat kawanan burung melintas,
bertanya,
“Di mana rumahku?”
Namun mereka hanya mengepakkan sayap,
seperti bisikan tak ingin menjawab.

Di jantung langit ia membusuk,
menjadi gumpalan yang kehilangan warna,
menjadi rindu yang tak pernah sampai,
menjadi hujan yang mati di udara.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

/8/

Hujan Jatuh

Puisi Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan jatuh,
bukan sekadar air yang runtuh dari langit,
tetapi jari-jari halimun
yang menjahit kembali sobekan fajar.

Ia datang sebagai gema sunyi,
mengusap luka pada tanah yang lelah,
membangunkan aroma basah dari tubuh bumi
seperti doa yang lupa dititipkan pada angin.

Dedaunan bergetar dalam kantuknya,
menadah satu per satu kenangan yang larut,
sementara sungai menggeliat dari tidurnya,
melarutkan segala duka menjadi nyanyian bening.

Aku berdiri di bawah langit yang terbuka,
membiarkan setiap rintik menusuk kulit,
sebab hujan bukan sekadar dingin
tapi kehangatan yang datang dengan cara lain.

Dan saat mendung menggulung jubahnya,
menyingkapkan kembali wajah matahari,
aku pun tahu,
hujan tak pernah sekadar datang dan pergi,
ia merajut ulang dunia
di antara reruntuhan cahaya dan bayang-bayang impian.

_ Burwood, Melbourne Australia, 2011

——————–

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2011, saat penulis menjalani masa awal program Master of Writing and Literature (Literary Studies, Creative Writing & Children’s Literature) di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta mulai tahun 2024 dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)