May 10, 2026

“Hujan di Bulan Ramadhan”: Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

lina5

Ilustrasi "Hujan di Bulan Ramadhan": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA). Sumber Gambar: 925-289 (Assisted by AI).

Editor: Leni Marlina

/1/

Hujan di Bulan Ramadhan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan mengetuk daun jendela,
tangannya bening, bibirnya gemetar.
Ia membawa sunyi dari langit jauh,
sebuah surah yang tak terbaca,
sebuah doa yang terlambat dilantunkan.

Di atas atap-atap yang haus,
ia bercakap dengan bulan yang menipis,
berbisik tentang malam yang melipat lapar,
tentang tanah yang menyimpan jejak para musafir,
tentang waktu yang rebah di sajadah basah.

Adzan menggema di sumsum kota,
bergetar dalam sumur cahaya.
Hujan mendengar, lalu memejam,
membiarkan titik-titiknya jatuh
seperti tasbih yang terurai,
seperti rindu yang mengalir ke muara.

Di sudut jalan, lampu-lampu kabur,
puasa dan lapar menyatu dalam kabut.
Di rumah-rumah kecil yang menghangatkan malam,
hujan duduk di ambang pintu,
menghitung sisa embun di lidah bumi.

Dan ketika ia akhirnya reda,
aroma tanah menjadi ayat,
udara menjadi selembar mushaf,
dan manusia kembali membaca—
tentang yang fana,
tentang yang kekal.

Padang, Sumatera Barat
2017

/2/

HUJAN

Puisi oleh Anto Narasoma

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumsel, Kreator Era AI]

hujan datang lagi
air dan sejuk yang kau bingkiskan, telah mencuci kekesalan hatiku

padahal mendung dan guruh sebelum kau tiba, telah mencatat lintasan kilat semerah api

hujan,
airmu menelusup
ke ruang-ruang teduh atas bunga dan kelopak bibirmu yang sejuk setelah mengucap ribuan zikir

hujan,
kau telah mencairkan tubuh ini di sepanjang sungai dan danau
yang mengutarakan doa-doa setinggi Langit

karena percikan sujud yang kau sungkurkan setipis angin, telah menantikan kehadiranmu yang jauh

maka izinkan aku memeluk rindu-Mu setelah berkubang pada hujan yang basah penuh makna

Palembang
Sumatera Selatan
30 Mei 2020

—————————————
Anto Narasoma merupakan penyair nasional, jurnalis senior, mentor senior komunitas PPIPM, anggota Poetry-Pen International Community.
Penulis menerima Anugerah Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol tahun 2022.

/3/

Langit Menahan Dahaga

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Langit menahan dahaga di bibir fajar,
awan-awan berpuasa dari hujan.
Di jalan setapak menuju subuh,
tanah menyerap sisa basah semalam
seperti tubuh yang menyimpan rindu.

Jendela-jendela menghafal sepi,
cahaya lampu membeku dalam doa.
Ada waktu yang berpuasa di antara detik,
menahan kenangan agar tak gugur
seperti embun yang takut disentuh matahari.

Lalu senja melepaskan azannya,
hujan turun tanpa suara.
Setetes demi setetes,
membasuh dunia yang letih
seperti kata-kata yang diucapkan
tanpa perlu lidah.

Padang, Sumatera Barat, 2017

/4/

Ramadhan dalam Sunyi dan Godaan

Puisi oleh Rizal Tanjung

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI]

dalam purnama yang dingin menyapa,
ramadhan tiba membawa cahaya,
namun di sudut kehidupan yang luka,
aku menunduk dalam dada yang nelangsa.

perut kosong menahan rintih,
kering tenggorok menelan sedih,
bukan hanya lapar yang menjerit,
tapi kemiskinan yang terus menghimpit.

sejak fajar hingga senja menjelang,
aku bersujud dalam kelaparan panjang,
tiada kurma, tiada hidangan mewah,
hanya seteguk air, itupun jika ada berkah.

di sudut gubuk berdinding rapuh,
aku menunggu waktu yang berlabuh,
sedang tetangga berpesta nikmat,
aku menelan pahit dalam sepi yang pekat.

tuhan, betapa berat ujian ini,
lidah basah mengucap doa tanpa henti,
namun di dalam hati yang perih,
godaan dunia terus mengiris pedih.

aroma makanan melayang ringan,
menyentuh hidung, menggoyahkan iman,
sedang tangan ini masih kosong,
kantung kumal tanpa selembar uang.

aku tahu ini jalan menuju surga,
menahan nafsu, menahan dahaga,
namun godaan bagaikan bara,
membakar lemah hati yang hampa.

oh ramadhan, bulan penuh berkah,
tapi bagiku kau datang dengan lelah,
rindu berbuka dalam riang tawa,
namun yang kudapati hanya air mata.

malam-malamku sunyi tanpa lentera,
tarawih tertatih dalam doa yang sederhana,
sajadah lusuh basah air mata,
mengadu pada-Nya tentang hidup yang hampa.

Tuhan…
jika lapar ini adalah ujian,
maka kuatkanlah hati yang kesepian,
jika kemiskinan ini adalah jalan,
maka tuntunlah aku menuju pengampunan.

biarlah perut ini kosong malam ini,
asalkan hati tetap penuh iman suci,
karena aku tahu, di balik segala kesulitan,
ada janji-Mu yang tak pernah ingkar dalam penantian.

ramadhan…
aku memelukmu dalam duka,
dalam kemiskinan, dalam godaan yang menyiksa,
namun aku tahu, ada bahagia yang menunggu,
di akhir penantian yang panjang, di sisi Tuhanku.

Padang, Sumatera Barat
2025

——————————————
Rizal Tanjung merupakan seorang seniman, penyair, penulis dan budayawan kelahiran Padang, 5 Februari 1959, yang telah mendedikasikan hidupnya di dunia seni sejak tahun 1975. Menempuh pendidikan di Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) Padang, Rizal Tanjung terus menapaki perjalanan berkesenian dengan mendirikan Teater Moeka pada tahun 1979, yang kemudian bertransformasi menjadi Old Track Teater pada tahun 2004.

Rizal telah menyutradarai 63 pementasan drama di berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, ia aktif menulis di berbagai media cetak lokal dan nasional, dengan karya yang mencakup naskah lakon, cerpen, cerbung, puisi, artikel kebudayaan, serta makalah pengembangan seni tradisional, modern, dan kontemporer.

Dalam bidang organisasi, Rizal Tanjung pernah menjabat sebagai Ketua Teater Moeka Padang, Ketua Lembaga Kesenian Old Track, Ketua Lembaga Pendidikan Sekapur Sirih, dan Ketua Forum Komunikasi Media Tradisional (FK-METRA) Padang. Ia juga pernah menjadi pengurus di Dewan Kesenian Sumatera Barat dan Dewan Kesenian Padang, serta aktif di Lembaga Bumi Kebudayaan.

/5/

Hujan yang Membasahi Ubun-ubun Kota

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan tiba sebelum adzan
seperti tangan yang meraba wajah waktu.
Ia menampung seluruh bayang-bayang
yang jatuh dari tubuh langit,
membasahi ubun-ubun kota
dengan doa yang belum selesai diucap.

Di jalanan, lampu-lampu melarung sunyi,
siluet pejalan kaki mengambang dalam basah.
Jejak-jejak mereka larut di aspal,
menjadi riak kecil yang mencari muara,
menjadi puisi tanpa nama di sungai Ramadan.

Dan ketika malam membuka pintunya,
hujan menepi di genggaman bumi—
di telapak tangan anak kecil
yang menggenggam separuh kurma
dan doa ibunya yang belum larut dalam air.

Padang, Sumatera Barat, 2017

/6/

Kekasih di Labirin Rindu

Puisi oleh Zulkifli Abdy

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Aceh, Kreator Era AI]

Kekasih, kau datang lagi
Ketika aku teramat merindukanmu
Kusambut kehadiranmu
Dengan pergi ke pekan yang ramai
Mencari bekal untuk perayaan kita
Ternyata kau tak pernah ingkar janji
Hanya saja aku terkadang ragu
Apakah aku masih berada di sini
Manakala kau menjelang
Atau aku telah pergi sebelum kau tiba
Oh, selamat datang, Ramadhan

Kau datang lagi, kekasih
Kuingin memadu kasih denganmu
Di sepertiga akhir
Pada malam-malam ganjil
Sungguh, kau terlihat cantik jelita
Raut wajahmu penghapus dosa
Kami bersepakat hari ketibaanmu
Inilah penantian berbunga rindu
Berdiamlah di sini, kekasih
Hingga malam bertabur seribu bulan
Sebelum nanti, aku kau tinggalkan.

Lamteumen Timur,
Aceh, 1 Maret 2025

————————————
Zulkifli merupakan penulis/penyair senior kelahiran Jambi dan berdomisili di Aceh sejak 1970. Ia seorang Sarjana Ilmu Komunikasi; menekuni dunia kepenulisan secara otodidak sejak remaja; menghasilkan artikel dan menulis puisi dengan semangat sastra yang kuat. Menulis baginya bukan sekadar aktivitas, tetapi juga cara menuangkan perasaan dan menggantikan catatan harian.

/7/

Doa dan Harapan

Puisi oleh Saunir Saun

[PPIPM – Indonesia; Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar]

Tahun baru telah menyadarkan kita
Untuk menyampaikan doa-doa
Serta harapan-harapan juga
Tapi sebagiannya tidak menyebutkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa
Hanya lafal doa dan harapan saja

Doa dan harapan yang ditulis dan diucapkan
Adalah refleksi dari kelemahan
Bahwa diri sendiri saja tidak dapat mewujudkan
Inilah pengakuan bahwa perlu campur tangan Tuhan

Laman-laman Facebook dan lain-lain kini dipenuhi oleh permohonan-permohonan
Dalam bentuk doa-doa dan harapan-harapan
Mengharap tahun baru ini membawa keberkahan
Dalam kehidupan

Semoga Tuhan mengabulkan
Aamiin.

Rumahku, Padang, Sumbar, 1 Januari 2025

————————————–

Saunir Saun merupakan seorang penulis dan juga pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua” dan novel “Lelaki yang Berhijrah”. Selain itu ia sudah menulis
7 buku kumpulan puisi berjudul 55 Puisi-Puisi Berhikmah (jilid 1-7) dan masih ada ratusan judul puisi yang belum dibukukan.

/8/

Sajadah Basah

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Langit menangis sebelum takbir berkumandang.
Rintiknya jatuh di sajadah-sajadah basah,
menggenangi bayangan tubuh yang sujud,
mengaliri kelopak mata yang menyimpan luka.

Malam di bulan suci serupa sungai
di mana setiap rintik hujan
adalah riwayat yang hanyut,
adalah nama-nama yang dihapus gelombang,
adalah doa-doa yang tersimpan dalam sunyi.

Di sudut kota, seorang lelaki tua
mengangkat wajahnya ke langit—
menadah hujan seperti menadah rahmat,
menunggu air menghapus usia,
menunggu malam mencatatnya
di kitab waktu.

Padang, Sumatera Barat, 2017

/9/

Selagi Tawamu Masih Berbunyi

Puisi oleh Safdayanti

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]

Apa arti semua ini
Negeri seperti apa ini
Membuat rakyatnya mati
Dengan semua tipu muslihat yang menipu tiada henti

Oplosan dimana -mana
Apapun di olpos asal jadi dana
Tak penting apa kata dunia
Ini negara kita katanya

Yang kaya semakin kaya
Yang jelata semakin merana
Di tindas sampai terpana
Tidak ada tempat bagi terpidana
Hidup enak, meski pakai baju tahanan negara

Bersekongkol membagi harta
Jelata menangis penuh derita
Mencari makan saja
Mengemis di jalanan kota

Ini negeri apa
Kita di bantai dalam kebisuan
Yang bicara hilang tanpa nama
Semua dilakukan demi cuan
Dan takkan ada pengaduan

Tangis darah pun takkan ada arti
Percuma saja karena ini mimpi
Bagi kita rakyat sejati
Nikmatilah dunia tipu-tipu ini
Sampai matipun tetap akan korupsi
Tujuh turunan pun takkan berhenti.

Lebih baik kita nikmati
Waktu yang sesaat ini
Membekali diri dengan ilmu yang kita punyai
Agar tetap hidup diberkahi
Biarlah sedikit asal selalu disyukuri
Akan ada kehidupan lain setelah ini
Dimana kelakuan diri
Akan diterima tanpa negosiasi.

Tertawalah kau penipu negeri,
Selagi tawamu masih berbunyi.

Tapi, ingat!
Ibu pertiwi akan tetap bertahan,
akan tetap melahirkan anak bangsa,
yang cinta dan setia pada negeri ini,
Ibu pertiwi takkan biarkan anak bangsanya terus kau bodohi,
Ibu pertiwi takkan biarkan penipu dan pengkhianat mendapat tempat di tanah air ini.
Itu pasti.

Padang, Sumatera Barat
28 Februari 2024

—————————————-
Safdayanti (Isar) terlahir di Jakarta, 25 Mei 1987, dari rahim seorang ibu pejuang, tumbuh dalam kesederhanaan di mana sekolah sering bergantung pada uang hasil jualan siang. Kuliah terasa mustahil, tapi takdir berkata lain—ia kini seorang guru berdedikasi di SDN 19 Pulai, Padang, Sumatera Barat.

Di antara hiruk-pikuk kelas, ia adalah ibu dari dua anak, istri Yuliandi sejak 21 Desember 2012, dan penjaga kata yang dulu hanya berbisik di sudut hati. Puisi adalah ruang sunyinya, tempat ia merajut keberanian, menaklukkan ketakutan.

Hidup telah mengajarinya arti jatuh dan bangkit. Pernah hampir menyerah, kini ia menjadi suara bagi mereka yang lelah. Bagi Isar, takdir bukan untuk dilawan, melainkan untuk diterima dan ditulis ulang dengan tekad—dengan syukur, dengan cinta, dengan puisi.

/10/

Hujan Membaca Jejak

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Langit pecah, menumpahkan hujan
di jendela-jendela kaca tinggi,
di atap-atap rumah yang diam
seperti kepala-kepala yang tertunduk
bukan dalam khusyuk,
tapi karena takut nama mereka
muncul di lembaran basah berita.

Mereka berwudhu dengan air suci,
namun anggaran yang dicuri tetap melekat
di garis tangan mereka.
Mereka mengangkat tangan dalam doa,
tetapi hujan mengenali bau kertas
yang dulu adalah hak anak-anak
yang kini menghafal kelaparan
bukan ayat-ayat kebaikan.

Hujan membaca jejak—
pada aspal yang dipadatkan dengan janji,
pada bendungan yang retak oleh angka-angka,
pada ladang yang kering karena airnya
disalurkan ke perjamuan para tamu
di meja yang tak mengenal kata cukup.

Ramadan datang dengan ujian,
tetapi mereka mengira
puasa adalah sekadar menahan lapar,
bukan menahan rakus.
Mereka lupa bahwa hujan ini
bukan hanya air,
tapi tinta langit yang mencatat
nama-nama yang akan dihanyutkan
ke dalam sungai sejarah
yang menolak untuk mengering.

Padang, Sumatera Barat
2017

/11/

Negeri yang Semakin Ringkih

Puisi oleh Ahkam Jayadi

[PPIPM-Indonesia; Poetry-Pen IC, Satu Pena Makassar, Kreator Era AI]

Di tanah yang kaya akan harapan,
Rakyat hidup dalam kesengsaraan,
Jalan berlubang, sekolah runtuh,
Sementara istana berdiri utuh.

Di meja-meja megah mereka berpesta,
Menikmati hasil dari dosa,
Menguras hak orang kecil,
Membiarkan derita mengalir pilu.

Anak-anak belajar tanpa buku,
Di bangku reyot yang nyaris rubuh,
Sementara dana yang seharusnya tiba,
Raib entah ke mana rimbanya.

Rumah sakit sepi tanpa obat,
Orang miskin menahan sakit berat,
Sebab uang yang mestinya ada,
Telah direnggut oleh serakah.

Korupsi bukan sekadar kejahatan,
Tapi belati yang merobek kehidupan,
Menghisap darah, merampas masa depan,
Meninggalkan luka yang tak tersembuhkan.

Sampai kapan rakyat harus menanggung?
Sampai kapan keadilan dipasung?
Jika yang berkuasa terus berpaling,
Maka negeri ini akan semakin ringkih.

Makassar, 2025

———————————————
Ahkam Jayadi merupakan akademisi hukum tinggal di Makassar, anggota Satupena Makassar.

/12/

Hujanpun Berhenti Bicara

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ada air yang jatuh dari langit,
mengalir melewati atap masjid,
melewati lorong-lorong di mana sujud
menjadi rutinitas tanpa makna.

Air itu berbisik,
tapi tak ada yang mendengar.

Air itu berkata:
“Aku telah membersihkan debu jalanan,
tetapi aku tak bisa mencuci dosa
yang disembunyikan di balik jas mewah,
di balik kertas bertanda tangan
yang memindahkan rezeki
dari yang lapar ke yang sudah kenyang.”

Mereka berwudhu sebelum berdoa,
tapi air itu tak lagi percaya
bahwa sujud bisa menghapus apa yang mereka rampas.

Di bulan ini, malam-malam bercahaya,
tetapi di satu sisi dunia,
ada lampu-lampu yang dimatikan
karena tagihan yang tak bisa dibayar,
sementara di sisi lainnya,
cahaya berkilau dari meja perjamuan
yang tak mengenal batas kenyang.

Dan hujan pun berhenti bicara.
Ia lelah menjadi saksi.
Ia menunggu malam terakhir,
di mana ia akan turun sekali lagi
untuk melihat:
adakah yang benar-benar bersuci,
atau hanya sekadar membasuh wajah?

Padang, Sumatera Barat, 2017

/13/

Hanya Satu Hasrat, Kepada Mu Pasti

Puisi oleh Wisye Paula Deja

[PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM]

Dalam sujudku malam ini, hanya ada nama Mu, satu
Di atas sajadah panjang terbentang
Kuhambakan diri di alam yang lapang
Hatiku yang hitam untuk diputihkan
Wajahku yang keruh untuk dijernihkan
Langkahku yang terseok untuk ditegapkan
Jiwaku yang sakit untuk disehatkan

Lafaz doa lamat-lamat kupanjatkan menjangkau arash yang tinggi
Meniti benang sehalus rambut
Menusuk kalbu yang terdalam
Sampai ke dasar jantung hati
Oh nama Mu

Berikan aku jalan lapang menuju arash
Mencuci segala kesalahan
Melunaskan segala janji
Menunaikan segala nazar
Membayarkan segala beban
Hanya untuk menghambakan diri pada Mu

Dalam sujudku malam ini
Tiada lagi hasrat kelain hati
Tiada lagi menduakan Mu
Hanya satu doa tulusku : ampuni aku Tuhan
Engkau pengabul segala doa di dunia ini
Pasti

Padang, Sumbar
Januari 2025

—————————————–
Wisye Paula Deja merupakan aktivis dan pengurus Forum Siti Manggopoh dan beberapa organisasi di Sumbar. Ia juga merupakan anggota Satu Pena Sumbar, anggota PPIPM-Indonesia, berdomisli di Padang.

/14/

Ketika Langit Menumpahkan Hujan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Langit menumpahkan hujan,
tapi tak semua jatuh ke bumi.

Ada yang tertahan di atap-atap kaca,
di bendungan kepentingan,
di saringan-saringan yang membedakan
mana yang layak dialirkan ke ladang
dan mana yang dialirkan ke kursi kekuasaan.

Di masjid-masjid besar,
adzan menggema bersama gemuruh hujan.
Di gang-gang kecil,
gemuruh perut yang kosong lebih nyaring,
tapi tak ada yang mendengarnya.

Di podium mereka bicara tentang kebaikan,
di meja mereka bicara tentang angka.
Air jatuh di kedua tempat itu,
tetapi hanya di podium ia disebut rahmat,
sementara di meja ia dihitung ulang,
dikalkulasi, dipotong, dialihkan.

Ramadan ini,
hujan tetap turun.
Tapi apakah kita sudah menadahnya
dengan tangan yang bersih?
Ataukah kita hanya membiarkannya mengalir,
mencari jalan sendiri
ke muara yang tak pernah kita ketahui?

Padang, Sumatera Barat, 2017

/15/
Berbenahlah Sebelum Mentari Tenggelam

Puisi Oleh Zaleka HG

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Pagi tiba, seperti biasa—
matahari membalut harapan
dan segudang masalah.
Langkah-langkahku terjerat
di lorong hati yang gelap,
bergema bisikan:
“Cari kesenangan, cari kekayaan, raih jabatan.”

Namun di sisi lorong yang lain,
ada suara halus mengingatkan:
“Semua ini untuk siapa?
Akan kau bawa ke mana?
Apakah ini abadi, atau hanya fatamorgana?”

Tiba-tiba, seperti kilat yang menyambar,
aku membaca firman-Nya:
“Kehidupan dunia hanya sebentar,
yang abadi adalah akhirat.”

Aku terpaku.
Mengapa aku terus memburu dunia
yang akan terjungkal pada akhirnya?
Mengapa jabatan, kesenangan,
masih menjadi takhta di hati ini?
Mengapa aku begitu lengah
menyiapkan perjalanan menuju
kehidupan yang lebih mulia?

Matahari belum tenggelam,
masih ada waktu, meski sebentar.
Mari berbenah,
menyulam tobat dalam doa,
menyatukan langkah untuk-Nya,
sebelum senja datang,
sebelum gelap memeluk segalanya.

Padang, Sumbar, 2024

——————————————
Zaleska HG merupakan anggota dari: 1) Forum Siti Manggopoh; asosiasi Penulis Indonesia, 2) SATU PENA cabang Sumatera Barat; 3) Komunitas PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat): https://shorturl.at/2eTSB & https://shorturl.at/tHjRI

Penulis merupakan salah seorang praktisi hukum, lulusan Fakultas Hukum Universitas Andalas (1986) dan Magister Hukum Universitas Bung Hatta (2016). Pernah menjabat sebagai Komisioner Komnas HAM Sumatera Barat (2006–2009) dan Hakim Tindak Pidana Korupsi (2011–2021). Ia juga pernah aktif sebagai pembela kaum perempuan (Ketua Lembaga Bantuan Hukum Perempuan APIK Sumbar dan juga pernah mengajar di perguruan tinggi. Saat ini, ia berperan sebagai konsultan hukum dan mengelola layanan haji serta umroh di sebuah PT Farhana Mulia Wisata.

/16/

Hujan Tak Sekadar Air

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan Ramadan tidak sekadar air.
Ia adalah pertanyaan dari langit
tentang tangan-tangan yang mengambil lebih
dari yang mereka beri.

Ia adalah cermin,
tetapi siapa yang berani melihat bayangannya?

Dan jika hujan tak mampu mencuci semuanya,
maka pertanyaannya bukan lagi:
“Kapan air akan datang?”
tapi “Kapan kita akan belajar bersih?”

Padang, Sumatera Barat, 2017

———————————————

Biografi Singkat

Kumpulan puisi Leni Marlina di atas (puisi no.1, 3, 5, 9, 10, 12, 14, 15, 16) di atas awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2017. Setelah beberapa tahun kemudian, puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina merupakan anggota aktif Komunitas Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA (Shanghai Huifeng International Literary Association). Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial-digital, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)