Idul Fitri dan Ketulusan Cinta
Oleh Paulus Laratmase
–
Ia menarasikan berbagai argumentasi tentang realitas berdasarkan interpretasinya. Naluri keilmuannya mendorong sikap kritis terhadap fenomena yang baginya unlogic. Berbagai narasi karya-karyanya menggambarkan gejolak batin sekan-akan apa yang menjadi sikapnya harus diakui dan diterima sebagai hasil olah pikir yang paling benar yang belum tentu bagi orang lain menyetujuinya sebagai sebuah kebenaran ilmiah.
Sebulan penuh puasa mengajarkan kita tentang menahan hawa nafsu kedagingan manusiawi. Olah rohaniah pada tataran makna puasa mengarahkan kita pada bagaimana membangun sebuah relasi tentang “Yang Absolut” dan relasi habluminanas.
Diksi-diksi unlogic sudah saatnya ditinggalkan dan mari belajar dari mereka yang kecil, yang hidup tak mengadalkan yang rasional atau tidak, namun penyelenggaraan “Sang Absolut” dialaminya sebagai makna kepasrahan cinta penyelenggaraan-Nya.
Ririe Aiko menarasikan dengan baik makna Idul Fitri dan Ketulusan Cinta. Sebuah pepatah Latin mengatakan, cinta bukanlah sebuah realitas do ut des.
Cinta adalah pemberian diri seutuhnya pada relasi hablumin Allah dan Habluminanas. Demikian Ririe Aiko menarasikan makna Idul Fitri pada tataran cinta penyelenggaraan “Yang Absolut” yang dialami dan dirasakan sebagai sebuah kemenangan cinta di Hari Fitri sebagai berikut:
Selamat Idul Fitri 1446 H
Seperti fajar yang menghapus gelap malam,
hari ini cahaya kemenangan menyapa lembut jiwa.
Ramadhan telah mengajarkan kita arti ketulusan,
dan kini, Idul Fitri mengetuk pintu hati dengan maaf dan cinta.
Biarlah segala khilaf luruh bersama doa,
biarlah senyum menjadi jembatan menyatukan yang renggang.
Di hari yang suci ini, mari kita kembali pada fitrah,
penuh kasih, penuh damai, penuh keberkahan.
Dari hati yang tulus,
Saya mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1446 H
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga langkah kita selalu dalam ridha-Nya,
diberkahi cinta dan kebahagiaan tanpa batas.
-Ririe Aiko-