April 21, 2026

Indonesia Membangun Papua Tanpa Strategi – ( Bahkan Secara Nasionalpun Nampaknya Sami Mawon )

128551504_2432145927092616_1547178420035930880_n

Oleh: Alex Runggeary

Strategi itu seperti pepatah, sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui [ Teknik Menyusun Rencana Strategis, Bisnis dan Non – Bisnis, Alex Runggeary, Orbit, 2020 ]

Bicara strategi, suatu kata yang banyak kita dengar dan banyak orang nenerapkannya dalam pemahaman dalam berbagai konteks yang berbeda – beda yang mungkin saja mengaburkan- hakekatnya. Saya coba buka di google ternyata di sana lebih banyak menekankan kepada – tujuan – sebagai strategi.

Padahal pengertian tujuan sesungguhnya adalah suatu situasi pada masa depan yang akan kita tuju dan sampai disana pada waktu yang telah kita tetapkan. Bisa saja rumusan definisinya berbeda – beda tetapi hakekatnya seperti itu.

Lalu apa sesungguhnya hakekat strategi ?

Kita biasa dengar atau nonton pelatih sepak bola menyusun strategi untuk mengahadapi lawan. Kebanyakan strategi yang tepat, kesebelasannya memenangkan pertandingan, atau paling tidak menahan draw atau bisa juga kalah tipis kalau lawannya satu kelas di atasnya. Artinya, strategi dari lawan yang satu ke lawan lainnya bersifat khas dan berbeda sesuai dengan kemampuan secara tim maupun individu serta gaya bermain.

Jadi kita bisa bayangkan si pelatih sudah tahu kemampuan timnya. Ketika berhadapan dengan lawan tertentu strateginya harus seperti apa. Kita biasa juga dengar kata – taktik – yang bisa kita katakan bagian kecil tindakan dari keseluruhan strategi.

Sampai di sini saya berharap kita sepakat bahwa strategi adalah – upaya yang dipilih secara tepat – untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif dengan memperhitungkan situasi internal dan eksternal yang khas yang sedang dihadapi. Definisi ini tidak akan Anda temukan dalam buku manapun karena ini saya percaya kerjasama kita bersama di sini. Selanjutnya kita akan uji definisi ini dengan kasus sejarah.

Kita akan kaji lebih jauh untuk memperoleh pemahaman yang lengkap dengan memilah beberapa rangkai kata seperti: (1) Upaya yang dipilih secara tepat, (2) Untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif, (3) Dengan memperhitungkan situasi internal dan eksternal yang khas yang sedang dihadapi. Konsep dan praksis Strategi diterapkan mula – mula dari kalangan militer, kemudian merambah ke bidang lainnya termasuk – bisnis. Dalam bidang bisnis sudah hal yang biasa perusahaan – perusahaan merumuskan dan memilih strategi masing – masing untuk mencapai tujuan – tujuan mereka. DR. Michael Porter dari Harvard Unuversity, dengan bukunya yang terkenal di kalangan sekolah bisnis – Competitive Strategy -. Buku wajib waktu saya sekolah dulu. Dan tentu saja bidang – Pembangunan Masyarakat – yang tidak banyak kita dengar. Mungkin ini sebabnya kita lebih banyak gagal di bidang yang satu ini.

Pada masa Perang Dunia ke – 2, setelah pemboman secara brutal Pangkalan Militer Amerika di Pearl Harbor di Hawai oleh Jepang secara brutal, Amerika mengerahkan segala kemampuannya. Termasuk secara diam – diam merencanakan menjatuhkan bom Atom.

Adalah Jenderal Doughlas Mac Arthur yang melakukan strategi – lompat katak – sampai melalui pulau terbesar di Samudra Pasifik, Nieuw Guinea atau Papua sekarang. Melewati Holandia atau Jayapura. Rumah tempat tinggal Mac Arthur waktu itu berada kompleks Univeritas Cenderawasih yang lama di Abepura Jayapura. Tentu saja setelah melewati Ifar Gunung untuk menguasai Bandar Udara Sentani dan pendaratan bersejarah di Pantai Hamadi.

Setelah melewati Filipina, ia sampai ke Jepang yang sudah menyerah. Ia membangun Base di sana bersiap menyerang pasukan Rusia di Semenanjung Korea. Ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ia mengumpulkan informasi intelijen tentang di mana titik – titik kekuatan musuh. Mempelajari peta dengan cermat di mana pantai – pantai yang bisa didarati. Pasang – Surut air laut, kedalaman air bahkan suasana berkabut tebal sepanjang Semenanjung setiap pagi. Pihak musuhpun sudah tahu akan ada penyerangan, tetapi tidak pasti kapan. Harus menunggu dan pekerjaan menunggu itu melelahkan bahkan bisa sampai lengah.

Tiba – tiba saja suatu pagi berkabut tebal, pasukan Amerika mendarat di pantai yang telah ditentukan dengan cermat. Mereka bahkan sudah mencapai jauh ke daratan Semenanjung itu. Begitu kabut tebal itu sirna, nampak puluhan, mungkin ratusan kapal itu berjajar menghujani dengan meriam sasaran sasaran musuh dengan gencar. Perlawanan musuh menjadi tidak berarti ketika mereka terkepung di daerah pertahanan mereka sendiri. Jenderal Mac Arthur menang dengan mudah.

Apa strateginya bila kita simak lebih jauh. Penyusupan ke daerah musuh jauh sebelum serangan. Informasi menjadi kunci. Pendadakan dan memanfaatkan kabut tebal serta kelelahan musuh yang terus menunggu tanpa batas waktu. Ini yang namanya – serangkaian strategi – atau strategi terintegrasi, gabungan beberapa strategi.

Lain lagi kisah berikut ini. Pada tanggal 2 Mei 2011 terjadi satu kegiatan rahasia, Navy Seal Team Six, pasukan khusus terpilih untuk melakukan penyergapan pada malam hari di Abbottabad, bagian Utara Pakistan. Mereka bertugas melenyapkan teroris yang paling dicari Amerika Osama bin Laden. Betapa tidak Osama, orang yang paling bertanggung jawab atas serangan dua pesawat yang dibajak, terhadap dua gedung kembar tinggi megah World Trade Center itu yang kemudian rata dengan tanah dalam dua jam. 3.000 orang meninggal dalam peristiwa 11 September 2001 ini, yang kemudian dikenal dengan perististiwa 9/11 (nine eleven).

Jarak tempuh ke sasaran 190 km dengan dua helikopter. Operasi berlangsung 40.menit langsung keluar dari lokasi dengan membawa serta mayat Osama.

Strategi yang kemudian dikenal adalah strategi – pisau bedah – Membelah bagian yang sakit dan mengambil sumber penyakitnya tanpa mengganggu keseluruhan tubuh.

Lain lagi ketika Perang Teluk atau lebih dikenal dengan Desert Storm – badai gurun pecah tahun1991, gara – gara Irak menyerang dan menduduki negara tetangganya Kwait. Irak berniat merampas minyak bumi Kwait dan menghapus utangnya pada Kwait. Tapi sayangnya mereka harus berhadapan dengan Amerika dan sekutunya sebanyak 31 negara. Dengan keunggulan persenjataan Amerika dan penguasaan teknologi komunikasi membuat pasukan Irak kucar – kacir. Dibuka dengan serangan udara gencar mematikan ke segala penjuru sasaran diikuti dengan gerakan pasukan gabungan di darat, perang itu berakhir dengan cepat. Pasukan musuh dengan mudah menyerah bukan saja karena keunggulan Pasukan Gabungan tetapi lebih parah karena mereka kelaparan. Semangat mereka telah berakhir sebelum perang usai. Perang ini juga dikenal luas dengan keunggulan dalam – Supply Chain – Selain memotong garis supply logistik musuh, sebaiknya menyediakan logistik Pasukan Gabungan yang dapat diakses dengan mudah dan tepat waktu, utamanya ketersediaan makanan dan bahan bakar. Ratusan berbagai jenis pesawat dan kendaraan tempur digunakan dalam perang ini. Bisa dibayangkan faktor – Supply Chain – menjadi kunci kemenangan Pasukan Gabungan. Perang itu dimulai 7 Januari dan berakhir 28 February 1991. Komandannya Norman Schwarzkopf yang terkenal itu. Ia didukung oleh Join Chief Colin Powel.

Dapat kita simpulkan dengan mudah bahwa Strategi itu berbeda dari satu situasi ke situasi lainnya. Tiga medan perang, masing – masing dengan STRATEGI khasnya dengan dasar kajian sebagai mana definisi kita di atas: (1) Upaya yang dipilih secara tepat, (2) Untuk mencapai TUJUAN secara EFISIEN dan EFEKTIP. Dua kata terakhir ini mengandung makna yang selama ini diabaikan, yaitu bagaimana Sumber Daya dimanfaatkan secara optimal. Ingat Sumber Daya secara sifat alaminya adalah TERBATAS. Saya bisa paham kalau di Indonesia itu – bisa dihambur-hamburkan, bahkan boleh dikorupsi karena kita memiliki sumber andalan lain – Utang Luar Negeri. Just a joke. Sumber Daya yang biasa disebut dengan 4M 1T; Men, Money, Machine, Method dan Time. Dan, (3) Dengan memperhitungkan keadaan yang secara internal maupun eksternal yang khas yang sedang dihadapi. Ternyata definisi kita klop dengan tiga kasus dalam bidang militer di atas.

Kembali ke laptop, ternyata pembangunan di Papua dan juga secara nasional, saya belum lihat apa yang kita bahas di sini, Strategi. Hasilnya yang kita hadapi hari ini, Penduduk Papua termiskin seIndonesia [Sumber BPS[, dan ada 620.000 anak usia sekolah di Propinsi Papua Barat yang tidak bersekolah karena keterbatasan biaya. No argument here because facts speak for them-selves. So what !!!!
——————-
*) Penulis buku Strategi Terintegrasi Membangun Papua, Orbit, 2019

Jakarta, 2 Oktober 2024