April 24, 2026
GAMBAR DR. BUDHY

*(Dr. Budhy Munawar-Rachman, Animator Laudato Si’ Indonesia. Dosen Etika Lingkungan Hidup S3 STF Driyarkara.

Oleh Dr. Budhy Munawar-Rachman)*

Pengantar Redaksi

Dalam semangat perayaan Jumat Agung, tulisan reflektif Dr. Budhy Munawar Rachman menghadirkan perspektif lintas iman yang mendalam tentang penderitaan Kristus dan penderitaan bumi. Drama kolosal yang dimainkan oleh Orang Muda Katolik Paroki Santa Maria Biak menjadi titik tolak narasi ini, menunjukkan keterhubungan antara spiritualitas dan tanggung jawab ekologis. Dalam momen sakral, umat diajak untuk merenungkan dosa ekologis yang tak kalah serius, yang turut menyakiti bumi sebagai rumah bersama ciptaan Allah.

Refleksi ini menjadi ruang perjumpaan antara teologi, kemanusiaan, dan ekologi. Dengan mengaitkan Jalan Salib Kristus dan luka-luka bumi, Dr. Budhy mengajak kita untuk melihat penderitaan Yesus sebagai simbol penderitaan ekologis akibat ketamakan manusia. Ini adalah undangan untuk bertobat, bersikap adil terhadap seluruh ciptaan, serta merawat bumi dengan kasih dan kepedulian yang mendalam.

Tulisan reflektif dari Dr. Budhy Munawar Rachman, memberi kontribusi lintas iman yang menyentuh, dalam rangka peringatan Jumat Agung. Terinspirasi dari drama kolosal Orang Muda Katolik Paroki Santa Maria Biak dan ensiklik Laudato Si’, tulisan ini menyuarakan panggilan pertobatan ekologis melalui Jalan Salib Kristus.

Tanpa mengubah isi aslinya, kami sajikan tulisan utuh ini sebagai bahan permenungan bersama—bahwa luka-luka bumi adalah luka kita juga. Semoga refleksi ini menggerakkan hati kita untuk bertindak, menjaga bumi sebagai rumah bersama seluruh ciptaan. Selamat membaca, semoga tulisan ini menjadi inspirasi untuk langkah nyata menjaga bumi sebagai rumah kita bersama.

Jalan Salib Ekologis

Jalan Salib Ekologis adalah sebuah bentuk doa dan refleksi mendalam yang menggabungkan penderitaan Yesus Kristus dengan penderitaan bumi, rumah kita bersama. Diadaptasi dari semangat ensiklik Laudato Si’ karya Paus Fransiskus, doa ini mengajak kita untuk memandang luka-luka bumi dalam terang salib Kristus. Bukan hanya sebagai kisah kesengsaraan Yesus, tetapi juga sebagai ajakan untuk bertobat dari dosa-dosa ekologis dan menghidupi semangat belas kasih terhadap seluruh ciptaan.

Kristus dan Ciptaan yang Menderita

Refleksi ini dimulai dengan menyadari bahwa bumi tidak hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga bagian dari ciptaan Allah yang suci. Namun kini, bumi mengalami penderitaan: pencemaran, pemanasan global, deforestasi, hingga kepunahan spesies. Sama seperti Yesus yang memanggul salib menuju Golgota, bumi pun kini memikul beban berat akibat keserakahan manusia.

Kita diajak untuk merenungkan penderitaan Kristus sebagai cermin dari penderitaan bumi, agar kita tersentuh untuk mengubah hidup, bertobat, dan bertindak demi keutuhan ciptaan.

1. Yesus dijatuhi hukuman mati

Pemeran Yesus Yang Dijatuhi Hukuman Mati Pada Jalan Salab di Gereja Katolik Santa Maria Biak Papua

Yesus yang tak bersalah divonis mati oleh penguasa demi kepentingan politik. Seperti Kristus, bumi pun sering menjadi korban dari keputusan tidak adil yang merusak lingkungan demi keuntungan sesaat. Ketika suara kaum kecil tak didengar dan alam dikorbankan, kejahatan ekologis terjadi. Kita diajak bertanya: apakah kita diam saat bumi dihukum?

2. Yesus Memanggul Salib

Yesus memanggul beban dosa dunia. Demikian pula bumi kini memanggul beban berat dari polusi, kerusakan hutan, dan eksploitasi alam. Kita sering lupa bahwa setiap tindakan kita menambah berat penderitaan bumi. Apakah kita bersedia membantu meringankan beban ini?

3. Yesus Jatuh untuk Pertama Kalinya

Yesus jatuh di bawah salib, seperti bumi yang tersandung oleh tekanan terus-menerus dari ulah manusia. Ketika spesies punah dan alam kehilangan keseimbangan, kita dipanggil untuk bangkit dari kelalaian dan mulai memperbaiki.

4. Yesus Bertemu dengan Ibu-Nya

Pertemuan Yesus dengan Maria penuh kepedihan dan kasih. Demikian pula, kita dipanggil untuk memiliki hati seperti Maria—peka terhadap penderitaan bumi dan sesama. Hati yang peduli adalah awal dari pemulihan.

5. Yesus Ditolong oleh Simon dari Kirene

Simon membantu Yesus memanggul salib. Kita pun dipanggil untuk menjadi seperti Simon: keluar dari zona nyaman dan membantu bumi melalui tindakan nyata. Kita tidak bisa membiarkan hanya sebagian orang memikul tanggung jawab lingkungan.

6. Veronika Mengusap Wajah Yesus

Veronika dengan kasih menyeka wajah Yesus. Tindakan kecil ini adalah simbol bahwa perbuatan sederhana pun bisa bermakna besar. Mengurangi sampah, menanam pohon, atau bijak menggunakan energi adalah bentuk kasih bagi bumi.

7. Yesus Jatuh untuk Kedua Kalinya

Yesus jatuh lagi. Bumi pun jatuh lagi karena kebiasaan buruk manusia yang terus diulang. Polusi terus terjadi, hutan terus dibabat. Kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar berubah, atau hanya mengulang kesalahan yang sama?

8. Yesus Menghibur Perempuan Yerusalem

Meski menderita, Yesus tetap menghibur orang lain. Ini menjadi ajakan agar kita peka terhadap jeritan masyarakat miskin dan adat yang terdampak langsung oleh krisis lingkungan. Kepedulian dan solidaritas menjadi bentuk kasih yang menyembuhkan.

9. Yesus Jatuh untuk Ketiga Kalinya

Ini adalah batas ketahanan fisik. Bumi pun kini berada di ambang kehancuran: krisis iklim, banjir besar, kekeringan ekstrem. Kita sudah sangat dekat dengan titik tidak bisa kembali. Inilah saatnya untuk “berbalik arah” secara radikal.

10. Pakaian Yesus Ditanggalkan

Yesus dipermalukan dan dilucuti. Bumi pun telah “ditelanjangi” oleh eksploitasi dan kerakusan. Kita telah merampas sumber dayanya, mengabaikan nilai rohani dari alam. Saatnya kita kembali menghargai bumi sebagai anugerah suci, bukan sekadar komoditas.

11. Yesus Dipaku di Kayu Salib

Yesus dipaku, tubuh-Nya dilukai. Begitu pula bumi, kini “dipaku” oleh sistem ekonomi-politik yang merusak dan tak berkelanjutan. Kita dipanggil untuk mendorong perubahan sistem dan gaya hidup agar bumi bisa pulih.

12. Yesus Wafat di Kayu Salib

Yesus wafat untuk keselamatan dunia. Tapi hari ini, kita menyaksikan “kematian” bagian-bagian ciptaan: spesies punah, hutan hilang, ekosistem rusak. Kematian ini bukan hanya ekologis, tapi juga spiritual—karena manusia melupakan perannya sebagai penjaga ciptaan.

13. Yesus Diturunkan dari Salib

Yesus diturunkan dengan kasih. Kita pun harus “menurunkan” bumi dari salib penderitaannya. Ini berarti merawatnya dengan tindakan nyata: restorasi alam, gaya hidup ramah lingkungan, dan keterlibatan aktif dalam perubahan.

14. Yesus Dimakamkan

Yesus dimakamkan—sebuah momen sedih, tapi juga penuh harapan akan kebangkitan. Bumi yang tampak mati pun masih menyimpan harapan, jika kita memberi ruang untuk hidupnya kembali. Benih tindakan kita hari ini adalah harapan untuk generasi mendatang.

Jalan Kasih, Jalan Pertobatan

Jalan Salib ini bukan sekadar mengenang sengsara Kristus, tetapi juga menyentuh hati, agar kita sadar: penderitaan bumi adalah tanggung jawab kita. Jalan Salib ekologis membawa pesan pertobatan, kesadaran, dan harapan. Bahwa dengan perubahan hati dan tindakan, kita bisa ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah—bukan hanya untuk manusia, tapi juga untuk seluruh ciptaan.

Mari kita jadikan setiap langkah hidup kita sebagai jalan kasih bagi bumi, sebagai wujud syukur dan iman yang hidup.

“Jalan Salib adalah jalan menuju kebangkitan. Begitu pula jalan kita dalam merawat bumi – penuh tantangan, tapi membawa harapan.”