Jauh di Timur, Ada Kelas ku Ruang Digital ku
Oleh Junedi Eron Hamonangan Simbolon
Editor: Paulus Laratmase
–
Merauke, suaraanaknegerinews.com – Di Kampung Kimaam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, anak-anak kini belajar dengan layar cerdas. Perangkat digital berukuran 1,5 x 1 meter sebuah makna “jendela ilmu pengetahuan” yang mereka jelajahi bersama guru di ruang kelas sederhana SD YPPK Kimaam.
Setiap pagi, guru Anna memulai pelajaran dengan platform Jelajah Ilmu. Murid-murid menjawab kuis interaktif dengan menyentuh layar. Ada tawa, tepuk tangan, dan semangat baru dalam belajar. Sejak hadirnya layar cerdas, bantuan CSR Acer Indonesia pada Agustus 2025, murid menjadi lebih aktif, dan tingkat kehadiran meningkat.
Sekolah ini memiliki 365 murid dengan delapan rombongan belajar. Meski jauh di pulau terluar yang hanya bisa dijangkau 18 jam kapal atau 45 menit pesawat kecil, semangat mereka menembus batas geografis. Satu layar cerdas digunakan bergantian oleh kelas 4, 5, dan 6 dengan dukungan jaringan Starlink. “Anak-anak jadi lebih fokus. Kami pun belajar digital bersama mereka,” ujar Bu Anna.
Di kota Merauke, SD Budi Mulia juga memanfaatkan layar cerdas. Kepala Sekolah Yulianti Sipayung menjelaskan bahwa pembelajaran kini lebih interaktif dan aman, sebab sekolah melarang murid membawa ponsel tanpa izin. “Anak-anak kini bereaksi cepat, berani menjawab langsung di layar,” ujarnya.
Teknologi untuk Daerah 3T
Inisiatif ini digerakkan oleh pemerhati pendidikan Merauke, Pascalis Tethool, yang memperjuangkan pemerataan akses pendidikan digital di daerah 3T. Ia bekerja sama dengan Acer Indonesia menghadirkan enam layar cerdas, 150 chromebook, dan 200 akun Jelajah Ilmu ke enam sekolah di Merauke, termasuk Kimaam.
Data Dinas Pendidikan Merauke menunjukkan, 130 guru di kabupaten ini mendapat sanksi karena tidak hadir mengajar. Bahkan menurut data KPK dan Universitas Papua, ada lebih dari 93.000 anak di Papua Selatan yang tidak bersekolah. Melihat fakta ini, Pascalis menggagas model pembelajaran jarak jauh berbasis layar cerdas, di mana guru di kota bisa mengajar sekolah di pelosok.
“Dengan modul kontekstual berbasis budaya lokal, dalam enam bulan murid bisa belajar membaca dan menulis lewat digital,” ujarnya.
Jelajah Ilmu dan Kurikulum Gotong Royong
Platform Jelajah Ilmu berisi materi pembelajaran digital, latihan soal, laboratorium virtual, dan bank soal yang bisa diakses secara online maupun offline. Inovasi ini meningkatkan nilai raport siswa di SMP Buti Merauke dari rata-rata 6–7 menjadi 8,5.
Guru belajar memanfaatkan fitur-fitur layar cerdas, sementara murid belajar aktif menyentuh, mendengar, dan membaca langsung di layar. “Kalau tidak ada guru, kami latih orang tua atau pegawai kampung untuk menyalakan dan menampilkan materi,” jelas Pascalis.
Lahirnya Yayasan Rumah Cerdas Papua
Pada 27 Agustus 2025, Pascalis bersama akademisi, pemerintah, dan tokoh masyarakat membentuk Yayasan Rumah Cerdas Papua. Yayasan ini berkomitmen mengembangkan pembelajaran digital dan kurikulum gotong royong berbasis layar cerdas. Dukungan datang dari Universitas Musamus, Majelis Rakyat Papua Selatan, hingga Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo.
Rencana mereka: memperluas akses perangkat layar cerdas ke seluruh wilayah 3T dengan dukungan Starlink, panel surya, dan pelatihan digital bagi guru dan warga lokal. “Metode kami dengar, ucap, baca, tulis, ramah anak dan membentuk keberanian interaktif sejak dini,” tutur Pascalis.
Perlindungan Anak di Dunia Digital
Pemerintah mendukung langkah ini melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS) tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak. Regulasi ini melindungi anak dari paparan konten negatif dan mengatur kewajiban platform digital menyediakan fitur aman anak.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut PP TUNAS sebagai langkah strategis membangun ruang digital yang sehat dan beretika. “Ketika keamanan ekosistem digital diperkuat, semua pihak diuntungkan, bukan hanya anak-anak,” ujarnya.
Menyalakan Lilin dari Timur
Kehadiran layar cerdas di sekolah-sekolah Papua Selatan sejatinya tentang keadilan pendidikan. Anak-anak yang dahulu hanya memegang alat tulis kini belajar menyentuh dunia melalui layar.
“Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin,” kata Pascalis Tethool.
Dan di ujung timur negeri, lilin itu kini menyala, menerangi kelas demi kelas, menyalakan harapan baru bagi masa depan anak bangsa.