April 23, 2026

Jejak Budaya di Rel Sejarah: Siswa MAN Kota Sawahlunto Ikuti Pelatihan Tari Layuak Batoboh

SAWAHLUNTO, 14 Agustus 2025  Di lorong-lorong Museum Kereta Api Sawahlunto, sejarah dan seni bertaut dalam harmoni. Pada siang. yang disinari cahaya keemasan, para siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto melangkah dengan penuh semangat ke tempat yang menyimpan kisah panjang peradaban kota tambang ini untuk mengikuti sebuah kegiatan yang tak sekadar pelatihan, melainkan perjumpaan dengan akar budaya mereka sendiri  Pelatihan Tari Layuak Batoboh.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kota Sawahlunto dari tanggal 11 – 22 Agustus 2025, sebuah ikhtiar luhur dalam merawat dan menghidupkan kembali denyut budaya Minangkabau, khususnya seni tari yang sarat makna dan filosofi. Tari Layuak Batoboh, sebuah tarian tradisional yang mengisahkan semangat gotong royong dan keteguhan masyarakat Kota Sawahlunto dalam menghadapi tantangan hidup, menjadi pusat perhatian sekaligus jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Museum Kereta Api Sawahlunto, yang dulunya adalah stasiun tua peninggalan zaman kolonial, kini menjadi saksi bisu bagaimana anak-anak muda mencoba menghidupkan kembali warisan budaya mereka. Di antara gerbong tua dan rel yang tak lagi berderak, para siswa MAN Kota Sawahlunto yang terdiri dari Nabila Yumni, Dea Dwi Putri, Hawa Pratiwi (Kelas X),  Nayla Puti Utami, Hannisa Putri (Kelas XII), dengan Guru pendamping Musriyeni mengambil bagian di antara siswa SLTA lainnya se Kota Sawahlunto menari. Gerakan mereka—lembut namun kuat, gemulai tapi penuh makna—seolah menyatu dengan arsitektur kolonial yang berdiri anggun dalam diam.

 MAN Kota Sawahlunto menyambut kegiatan ini dengan antusias. Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa MAN Kota Sawahlunto dalam kegiatan seni budaya sebagai pelengkap pendidikan akademik. “Kami percaya, pendidikan sejati bukan hanya soal angka dan nilai ujian, tapi juga tentang bagaimana anak-anak mengenal siapa mereka dan dari mana mereka berasal,” ujarnya dengan penuh semangat.

Narasi Budaya yang Dihidupkan Ulang

Tari Layuak Batoboh, dalam sejarahnya, merupakan simbol solidaritas masyarakat Kota Sawahlunto dalam kegiatan panen dan perayaan. “Layuak” bermakna semangat yang layak atau patut, sementara “batoboh” menggambarkan kerja sama saling bantu antar warga dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu, yang kini mulai memudar di tengah modernitas, kembali disampaikan kepada generasi muda melalui pelatihan ini.

Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan. Ini  adalah peristiwa budaya, ini adalah pembelajaran yang hidup. Ia adalah narasi yang ditulis ulang oleh generasi masa kini tentang siapa mereka, dari mana mereka datang, dan ke mana mereka ingin membawa warisan leluhur ini.

Kontributor : Nofri Hendra

Editor : DTB