Era Nurza.
—
Air turun dari hulu dengan suara yang tak lagi seperti hujan
ia datang sebagai gelombang murka menghantam bumi
menggerus hutan yang dulu tegak sebagai penjaga
Batang-batang besar tercabut dari akar
dahan-dahan kecil hanyut bersama serpihan tanah
semua ukuran kayu kini menyatu menjadi arus yang buta arah
seolah hutan melahirkan kembali dirinya dalam bentuk kepedihan

Sumatera
pulau yang biasa menyimpan hijau dalam dadanya
kini berubah menjadi cerita yang mengalir dengan warna coklat keruh
Air penuh lumpur menyusup sampai ke pekarangan
merayapi tiang rumah
menyentuh batas doa yang belum sempat diucapkan
Satu per satu rumah terlepas dari tanahnya
mengapung sebagai kenangan yang dipaksa berpisah
harta-harta hilang seolah tak pernah menjadi milik siapa pun
Mobil-mobil dibawa arus seperti mainan yang kehilangan tuannya
jalan retak bahkan jembatan terkulai seperti tulang yang patah
Akses terputus
Desa-desa terdiam dalam isolasi panjang
di mana setiap langkah terasa seperti mencari daratan
di tengah dunia yang mendadak berubah menjadi lautan penuh lumpur
Tanah leluhur yang dulu kokoh kini rata oleh air
seakan seluruh daratan ditenggelamkan agar kita
belajar membaca kembali arti pijakan
Di sela kesedihan yang merayap seperti hawa dingin dini hari
ada suara yang tidak terdengar
tapi menggema dalam dada setiap manusia
Ini semua dari Allah
Bukan semata hukuman
tapi peringatan yang turun dengan kekuatan
melebihi bahasa dan tanda
Mungkin ini teguran atas kebiasaan kita
menebangi hutan tanpa jeda
mengambil dari bumi tanpa mengembalikan
membangun tanpa menjaga
Kita terpaku melihat betapa mudahnya
segala yang kita banggakan luluh lantak
dalam sekejap mata
dan barulah kita tahu
betapa rapuhnya kuasa manusia di hadapan alam
yang tunduk hanya pada perintah-Nya
Lalu air itu
yang merenggut banyak hal
mengalir juga membawa harapan supaya kita kembali
mengenal batas mengenal syukur
mengenal tanggung jawab sebagai penjaga bumi
bukan sekadar penikmatnya
Dalam kepungan lumpur yang menutup halaman
dalam malam yang dipenuhi suara arus
kita hanya bisa menundukkan wajah
dan mengucap lirih
Maafkan kami ya Allah
Ampuni langkah yang keliru
ampuni tangan yang rakus
ampuni hati yang lupa
bahwa bumi bukan milik kami
ia hanya titipan
yang tak boleh kami perlakukan semaunya
Semoga dari banjir bandang ini
dari luka yang mengalir bersama sungai pecah
kami belajar berdiri lagi dengan hati yang lebih rendah
lebih bersyukur
lebih mengerti
bahwa setiap bencana adalah pesan
yang harus dibaca dengan jiwa
bukan hanya dengan mata
Ketika air akhirnya surut
semoga bukan hanya daratan yang kembali.
Semoga nurani kami pun pulang
Padang, Desember 2025