ANTOLOGI PUISI
Oleh: Rizal Tanjung
—
I — Rumah-Rumah yang Tenggelam dalam Doa Basah
Di tanah yang baru saja disiram hujan maut,
jenazah-jenazah terbujur seperti ayat-ayat patah
yang dibacakan langit dengan suara gemetar.
Kita berdiri di pinggir liang,
memandang lumpur yang menempel pada sandal,
pada nadi, pada ingatan—
dan kita tahu,
bencana ini bukan sekadar takdir
yang jatuh seperti batu dari langit.
Ini adalah huruf pertama dari puisi panjang
tentang kesalahan kita sendiri.
Tentang hutan yang dibuka seperti dada
yang disobek tanpa bedah suci.
Tentang sungai yang tak lagi tenang,
karena manusia mengusir kesabarannya.
Dan Sumatra menangis
seperti anak yatim yang kehilangan ibu sekaligus rumahnya.
—
II — Malam yang Mengabarkan Suram
Langit di atas Sumatra tampak bimbang malam itu,
seolah sedang menimbang dosa siapa
yang harus ia tumpahkan.
Hujan tidak turun—ia runtuh,
seperti tirai yang disobek dengan amarah purba.
Di sebuah desa kecil,
seorang ayah membawa putrinya
seperti membawa doa yang belum sempat dikabulkan.
Suara dari hulu datang seperti naga
yang memutuskan kembali dari tidur ribuan tahun.
Tak ada waktu memohon.
Tak ada waktu berjanji.
Tak ada waktu mengingat apakah kita pernah berbuat baik.
Rumah-rumah rebah seperti tubuh yang kehilangan tulang.
Sungai menjadi pedang yang memenggal siapa saja.
Dan gelap memakan nama-nama
yang dahulu dipanggil dengan lembut
di meja makan.
—
III — Air yang Datang Tanpa Memberi Kata Salam
Ketika air bah datang,
ia tidak mengetuk pintu.
Ia menerjang, menenggelamkan,
seolah manusia hanyalah daun kering
yang keliru jatuh di sungai yang salah.
Seorang ibu hilang malam itu,
diambil arus seperti rahasia
yang tak ingin kembali.
Anak dan suaminya selamat
karena pohon tua menolak melepaskannya.
Tetapi kesedihan,
kesedihan tidak pernah menyisakan siapa pun.
—
IV — Satu Jiwa di Atap yang Menunggu Cahaya
Di Aceh, seorang anak terperangkap di atap rumah.
Mereka melambaikan senter
ke langit yang tak lagi mengenal cahaya.
Senter itu seperti suara kecil
yang berharap didengar oleh Tuhan.
Namun badai menutup pendengaran siapa pun.
Rumah mereka hanyalah perahu kecil
yang sudah kehilangan nahkoda
dan hampir kehilangan makna.
—
V — Sumatra Barat dan Perahu-Perahu Rumah Yang Hanyut
Rumah-rumah di Sumbar
bergerak perlahan ke sungai
seperti perahu-perahu tua
yang tak lagi ingin berlabuh di dunia manusia.
Orang-orang memandang
tanpa tahu harus menangis kepada siapa.
Air atau diri mereka sendiri?
—
VI — Tiga Angka Kematian yang Mengalahkan Doa
Ratusan jiwa menjadi angka,
dan angka adalah rumah duka
yang kehilangan pintu keluar.
Ribuan lebih mengungsi,
meninggalkan kasur yang belum sempat dingin.
Ratusan ribu terdampak,
menyimpan malam-malam tanpa mimpi
karena mimpi pun ikut hanyut.
—
VII — Langit yang Telah Melupakan Ritmenya
Siklon Tropis Senyar—
nama yang tak pernah kita undang,
namun datang sebagai tamu yang merusak ruang tamu.
Curah hujan dua minggu
ditumpahkan dalam dua hari saja.
Langit seperti manusia
yang kehilangan kesabaran.
Ia tidak lagi menetes,
ia memuntahkan kesedihan.
—
VIII — Hutan yang Diam-Diam Menangis
Hutan di Batang Toru
ibarat tubuh perempuan tua
yang dipotong rambutnya
tanpa pernah diberi izin.
Deforestasi adalah luka
yang tidak pernah kita jahit.
Dan ketika hujan jatuh,
tanah menjadi air mata kental
yang membawa kayu-kayu besar
sebagai bukti kejahatan kita sendiri.
—
IX — Banjir adalah Air yang Kehilangan Ibu (Hutan)
Banjir bukan hanya air.
Ia adalah kesedihan
yang tidak lagi punya tempat berteduh.
Ia adalah air yang kehilangan ibu,
kehilangan akar,
kehilangan rumah asal.
—
X — Lereng yang Menghadiahkan Peluru Lumpur
Lereng-lereng di Sumatra
mengirimkan lumpur
seperti tubuh yang memuntahkan darah
karena ditusuk berkali-kali oleh manusia.
Lereng tidak ingin membunuh,
tetapi ia juga tidak punya lagi tenaga
untuk menahan kesedihan.
—
XI — Desa-Desa di Pinggir Sungai yang Sudah Ditakdirkan Retak
Perkampungan berdiri di tempat
yang sejak awal tidak pernah aman.
Tetapi manusia memaksa,
karena hidup memaksa mereka memaksa.
Ketika sungai marah,
siapa yang bisa disalahkan?
Sungai atau kita yang menantang nasib?
—
XII — Peta Risiko yang Tidur di Laci-Laci Pemerintah
Peta itu ada.
Peringatan itu ada.
Tetapi laci-laci lebih akrab dengan mereka
daripada tangan para pemimpin.
Ketika sungai menelan rumah,
peta itu tetap tidur.
Dan tidur adalah dosa
jika dilakukan di depan kematian.
—
XIII — Luka Hulu, Luka Negeri
Hulu adalah jantung.
Dan jantung yang disayat
tidak bisa terus bekerja.
Air yang turun ke desa-desa
adalah darah yang bocor,
menagih siapa yang menusuk pertama kali.
—
XIV — Tangis Dalam Lumpur yang Mengering
Ketika lumpur mengering,
ia menyimpan wajah-wajah yang hilang.
Setiap retakan adalah nama.
Setiap cekungan adalah rumah.
Setiap guratan adalah kenangan
yang tak sempat diucapkan.
—
XV — Pelajaran dari Air yang Mengamuk
Air tidak ingin marah.
Ia hanya ingin diingat.
Ia hanya ingin manusia
menghormati batas-batasnya.
Ketika manusia lupa,
air mengingatkan
dengan cara yang terlalu keras.
—
XVI — Jalan Baru Bernama Pembangunan Pro-Ekologis
Jika kita ingin selamat,
kita harus berhenti membangun
dengan kesombongan.
Hanya pembangunan yang mematuhi alam
yang akan bertahan.
—
XVII — Reforestasi: Doa yang Ditumbuhkan Kembali
Hulu harus dipulihkan
seperti jantung yang disembuhkan
dengan cinta dan kesabaran.
Bukan proyek seremonial,
tetapi ilmu, kerja keras,
dan kejujuran ekologis.
—
XVIII — Larangan Membuka Luka Baru
Tidak boleh ada lagi
lahan baru yang dicabik.
Tanah yang rapuh bukan medan perang.
Ia adalah ibu,
dan ibu harus dipulihkan,
bukan diiris terus menerus.
—
XIX — Tata Ruang: Sebuah Kompas Keselamatan
Relokasi bukan pengusiran.
Relokasi adalah menyelamatkan masa depan.
Tata ruang harus menjadi kitab suci baru
di negeri yang penuh sungai dan gunung.
—
XX — Sungai yang Berhak Bernapas
Sungai membutuhkan sabuk hijau,
tempat ia bisa bernapas
setelah menahan limbah bertahun-tahun.
Beton tidak akan pernah mengerti
bahwa sungai adalah makhluk hidup.
—
XXI — Infrastruktur Hijau yang Sunyi namun Menyelamatkan
Rorak, vegetasi, ruang retensi alami—
semuanya bekerja dalam diam.
Tidak ada gunting pita,
tidak ada kamera,
tetapi nyawa diselamatkan
lebih banyak dari yang bisa dihitung.
—
XXII — Teknologi yang Meramal Air
Sensor, radar, sistem peringatan dini—
adalah telinga baru
yang harus kita pasang
di tubuh negara ini.
Agar air tidak lagi datang
sebagai pembunuh sunyi.
—
XXIII — Tragedi yang Tidak Berdiri Sendiri
Dari Montana hingga Asia,
dunia merasakan luka ekologis
yang sama.
Kita bukan korban tunggal,
tetapi kita juga bukan penonton.
Kita adalah pelaku sekaligus korban.
—
XXIV — Montana: Nama Jauh yang Mengajar Kita
Di Montana, hutan hilang,
sungai tercemar,
tanah berubah menjadi gurun.
Surga berubah menjadi serpihan.
Dan kita harus belajar
sebelum Sumatra menapaki jejak yang sama.
—
XXV — Bunuh Diri Ekologis
Jika manusia terus merasa kebal,
maka bencana bukan lagi tragedi.
Ia akan menjadi bunuh diri kolektif
yang diam-diam kita sepakati.
—
XXVI — Sumatra yang Masih Ingin Hidup
Meski dilukai berkali-kali,
Sumatra masih memanggil manusia
dengan suara getir:
“Pulihkan aku,
dan aku akan memeluk kalian kembali.”
—
XXVII — Sungai-Sungai yang Menunggu Maaf
Sungai tidak menyimpan dendam.
Ia hanya menunggu manusia
meminta maaf
dan mulai merawatnya lagi.
—
XXVIII — Hutan yang Ingin Tumbuh Tanpa Takut
Hutan ingin tumbuh
tanpa merasa dirinya
hanya cadangan uang.
Ia ingin kembali menjadi naungan
bagi burung, bagi hujan,
bagi manusia yang tersesat.
—
XXIX — Air Mata yang Bisa Menjadi Titik Balik
Jika manusia mau belajar,
air mata hari ini
bisa menjadi benih
yang menumbuhkan masa depan.
Namun jika tidak,
air mata ini hanya akan menjadi
asal dari air bah berikutnya.
—
XXX — Doa Panjang untuk Pulau yang Masih Menangis
Sumatra, pulau yang agung,
yang menyimpan gunung, sungai, ladang,
dan ingatan ribuan tahun,
hari ini menangis.
Tetapi ia masih hidup.
Ia masih memanggil kita
untuk kembali menjadi penjaga,
bukan perusak.
Di hadapan jenazah,
di hadapan lumpur,
di hadapan hujan ekstrem,
di hadapan sejarah yang memar—
kita akhirnya mengerti:
Alam bukan musuh.
Alam adalah rumah.
Dan rumah yang disakiti
akan menangis sampai kita pulang
untuk merawatnya kembali.
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2025.