KETIKA PUISI MENJADI SAUDARI: REFLEKSI DARI FEMİNİSTANBUL WOMEN’S POETRY FESTIVAL 2025
Gambar 1: Penyair Vietnam–Australia, Vo Thi Nhu Mai, bersama para peserta dan panitia FEMINISTANBUL Women’s Poetry Festival 2025. Sumber gambar: VTN Mai's doc. via LM-SAN.
Oleh Vo Thi Nhu Mai
(Australia)
Penerjemah (Inggris-Indonesia):
Leni Marlina
_
Istanbul selalu menjadi kota persinggahan, tetapi dari tanggal 21 hingga 23 November 2025, kota ini menjadi sesuatu yang lebih luar biasa: sebuah persimpangan di mana suara perempuan dari seluruh dunia bangkit, bersatu, dan saling menguatkan. Sebagai penyair kelahiran Vietnam yang kini tinggal di Australia, saya langsung terbawa oleh gelombang persaudaraan global ini begitu melangkah ke Festival Puisi Internasional FeminİSTANBUL ke-8.

Pertanyaan yang membentuk tema pertemuan tahun ini tajam dan mengusik: “Setelah pembantaian di Gaza, apakah kita masih bisa berbicara tentang peradaban dan kemanusiaan?” Pertanyaan itu menggantung di udara seperti detak jantung yang sama. Para penyair datang dari segala penjuru: China, Australia, Selandia Baru, Vietnam, Rusia, Amerika Serikat, Peru, Kuba, Bolivia, Iran, negara-negara Arab, Eropa, Malaysia, India, dan banyak lainnya. Mereka hadir dengan warna, bahasa, sejarah, dan duka masing-masing. Mereka membawa bukan hanya puisi, tetapi juga kesaksian—setiap karya memuat beratnya pengalaman perempuan yang hidup, bertahan, dan bermimpi di tengah tekanan luka dunia.
Dari upacara pembukaan di Kartal Soğanlık Cultural Center, saya tahu saya sedang menyaksikan sesuatu yang langka. Pakaian tradisional berkilau di bawah cahaya lampu. Panggung dipenuhi nada dan tekstur dari setiap benua. Bahkan sebelum puisi pertama dibacakan, ruangan sudah terasa hidup dengan pengakuan: perempuan saling mengenali melalui budaya, perjuangan, dan seni.
Di pusat semua itu berdiri Op. Dr. Hilal Karahan, yang kehadirannya menjadi jangkar bagi festival. Seorang ahli bedah, penyair, penerjemah, ibu, akademisi, sekaligus advokat tak kenal lelah bagi suara perempuan, ia adalah sosok yang paling menginspirasi yang pernah saya temui. Sejak mendirikan festival ini pada 2016, ia mempertahankannya sepenuhnya melalui dedikasi dan kerja sukarela, memastikan festival ini tetap menjadi satu-satunya festival puisi di dunia yang sepenuhnya merayakan kemanunggalan perempuan. Kepemimpinannya tahun ini—tegas, penuh empati, dan berani secara intelektual—mengarahkan setiap panel dan pertunjukan. Manifestonya, yang bergema dengan keadilan, martabat manusia, dan kesadaran global, menjadi kompas festival.

Sumber gambar: Dokumentasi Poetry BLaD & IOSoP 2025.
Hari kedua berlangsung di Universitas Yeditepe, di mana para penyair membacakan karya mereka sebelum memasuki diskusi mendalam tentang “Gerakan Perempuan dalam Puisi Turki dan Iran.” Di bawah moderasi Dr. Karahan, percakapan mengalir dengan mudah antara kajian akademik dan pengalaman hidup. Musik mengisi ruang antar bacaan, menciptakan ritme yang terasa kuno sekaligus baru.
Ketika giliran saya tampil sebagai penyair Vietnam–Australia, saya membawa cerita tentang perempuan yang menyeberangi batas, perempuan yang membangun kembali, perempuan yang bertahan. Membacakan puisi di ruang yang dipenuhi penyair dengan realitas yang sangat berbeda namun tetap saling terhubung, menjadi salah satu momen paling merendahkan hati dalam perjalanan seni saya.
Festival ini juga memberikan penghargaan FeminİSTANBUL Honor Award 2025 kepada Betül Mardin, sosok monumental dalam bidang hubungan masyarakat Turki. Warisannya, dipadukan dengan pesan festival, menambahkan dimensi makna lain pada pertemuan ini.
Namun yang paling melekat dalam ingatan saya adalah energi kolektif yang hidup di antara kami: saat-saat hening setelah pembacaan, air mata yang jatuh tak terduga, tawa bersama di saat minum kopi. Kesadaran bahwa meski dunia retak, perempuan terus saling meraih, membangun kembali kemanusiaan sedikit demi sedikit.
Saat festival berakhir, ada sesuatu yang bergeser di dalam diri saya. Saya meninggalkan Istanbul dengan rasa syukur, kekaguman, dan keyakinan baru akan kekuatan puisi: menyembuhkan yang terluka, menjadi saksi yang terlupakan, dan menyatukan apa yang dunia coba pecah-belah.
Untuk memungkinkan ruang seperti ini, saya menaruh penghormatan terdalam kepada Op. Dr. Hilal Karahan, yang kekuatan, visi, dan hati yang tak terbatas terus memberi perempuan di seluruh dunia platform untuk berbicara dan didengar. Festival Puisi FeminİSTANBUL ke-8 terwujud berkat dukungan finansial Kartal Municipality, yang memastikan para penyair dari seluruh dunia bisa berkumpul dan berbagi suara mereka. Saya juga dengan tulus mengapresiasi Ayça Erdura dan Dilruba Nuray Erenler, anggota tim penyelenggara festival yang berdedikasi, yang kerja kerasnya membentuk setiap detail dari pengalaman tak terlupakan ini.
Sebagai direktur festival dan editor antologi resmi, Op. Dr. Hilal Karahan terus menginspirasi komunitas global dengan kepemimpinan, visi, dan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap puisi perempuan. Terima kasih atas pengalaman luar biasa ini. Saya sungguh berharap kita akan bertemu lagi.
Menjadi bagian dari FeminİSTANBUL 2025 adalah salah satu kehormatan terbesar dalam perjalanan puisi saya.
Terima kasih, Istanbul.
Terima kasih, FeminİSTANBUL.
Dan terima kasih, Dr. Hilal Karahan,
karena telah memberi dunia sebuah rumah dimana suara perempuan bangkit seperti cahaya.
——-
Penulis, Vo Thi Nhu Mai merupakan Pendiri dan Pimpinan Komunitas “The Rhythm of Vietnam”. Mai kelahiran Vietnam dan berdomisili di Australia. Ia merupakan anggota PPIC (Poetry Pen International Community).
Penerjemah, Leni Marlina, merupakan Pendiri dan Ketua PPIC (Poetry Pen International Community), International Panorama Literary Festival 2026- National Coordinator for Indonesia.
—
Berita di atas tersedia dalam versi bahasa Inggris di link official berikut:
WHEN POETRY BECOMES SISTERHOOD: REFLECTIONS FROM FEMINİSTANBUL WOMEN’S POETRY FESTIVAL 2025