March 14, 2026

Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Ketika Ramadhan Datang Kembali”

leni

/1/

Ketika Ramadhan Datang Kembali

Puisi: Leni Marlina

Pada mulanya adalah lapar dan dahaga.

Bukan sekadar rongga yang kosong,
melainkan lubang tak terlihat
di pusat keberadaanmu.

Ada kelaparan yang bisa disembuhkan roti dan nasi
Ada kelaparan yang tak tunduk pada apa pun
kecuali makna.

Ada dahaga yang bisa disembuhkan segera dengan air
Ada dahaga yang tak bisa terpenuhi dengan instan: dahaga akan ilmu pengetahuan dan kehidupan.

Ramadhan datang
seperti api tanpa asap
ia tidak menyentuh kulitmu,
tetapi membakar ilusimu.

Ilusi bahwa engkau cukup.
Ilusi bahwa engkau pusat.
Ilusi bahwa dunia berputar demi kenyamananmu.

Engkau berdiri di antara dua jurang:
tubuh yang meminta,
jiwa yang menuntut.

Yang pertama menjerit hingga maghrib.
Yang kedua bisa sunyi bertahun-tahun
tanpa pernah benar-benar kenyang.

Langit tidak menghakimimu.
Ia hanya menjadi cermin raksasa
yang memantulkan wajahmu
tanpa topeng.

Dan perlahan engkau melihat:
yang lapar bukan hanya perutmu
yang dahaga bukan hanya tenggorokanmu
tetapi kemanusiaanmu.

Melbourne, Australia, 2012

/2/

Ketika Engkau Berdoa

Puisi: Leni Marlina

Doa
Bukan hanya suara permohonan untuk keutuhan
Bukan hanya permohonan rezeki, kesempurnaaan, dan keselamatan.

Doa adalah retakan dalam dirimu.

Retakan pada keangkuhanmu.
Retakan pada rasa aman palsumu.
Retakan pada keyakinan bahwa engkau tak tergantikan.

Ketika tanganmu terangkat,
yang terangkat bukan sekadar permohonan
tetapi pengakuan bahwa engkau rapuh.

Dan di bawah langit yang sama
seorang anak menahan tangisnya
karena sahur hanyalah air.

Di belahan bumi lain
tanah bergetar oleh deru peluru dan bom
yang tak mengenal puasa.

Apa arti doamu
jika dunia tetap terluka dan menangis?

Pertanyaan itu menggantung
di antara bulan sabit
dan kerongkonganmu yang tercekat.

Mungkin doa bukan untuk menghapus tangis dan luka dunia
dalam satu malam.

Mungkin doa adalah cara
agar engkau tidak menjadi bagian dari luka itu.

Melbourne, Australia, 2012

/3/

Bukan Hanya Menahan Haus dan Lapar

Puisi: Leni Marlina

Puasa bukan hanya menahan haus dan lapar
ia adalah latihan merasakan.

Tiba-tiba dunia berbunyi lebih jelas.

Engkau mendengar kesepian
yang selama ini tertutup kebisingan.

Engkau mencium getir
yang tak pernah tercatat dalam berita.

Engkau melihat wajah-wajah
yang selama ini hanya lewat
seperti bayangan tanpa nama.

Inderamu berubah fungsi.

Mata menjadi saksi.
Telinga menjadi nurani.
Kulit menjadi alarm tanggung jawab.

Langit tidak turun untuk menghiburmu.
Ia turun untuk mengujimu.

Apakah laparmu
akan membuatmu lebih lembut dan santub
atau hanya lebih sensitif pada dirimu sendiri?

Melbourne, Australia, 2012.

/4/

Ramadhan dan Eksperimen Jiwa

Puisi: Leni Marlina

Ramadhan adalah ruang eksperimen jiwa.

Di sini egomu dipanggil ke tengah lapangan
dan diminta menanggalkan mahkotanya.

Tak ada gelar.
Tak ada status.
Tak ada identitas sosial.

Yang tersisa hanyalah manusia
yang sama-sama haus ampunan.

Engkau melihat dirimu terbelah.

Satu sisi menginginkan mukjizat instan:
masalah selesai, doa terkabul, hidup ringan.

Sisi lain mulai mengerti:
mukjizat terbesar bukan perubahan keadaan,
melainkan perubahan arah hati.

Memaafkan ketika mampu membalas
itu revolusi sunyi.

Memberi ketika merasa kurang
itu kemenangan tersembunyi.

Berhenti membenci
di dunia yang gemar memelihara dendam
itu keberanian yang tak bersuara.

Langit tidak selalu membelah dirinya.
Kadang ia membelah egomu.

Dan dari retakan itu
tumbuh cahaya kecil.

Melbourne, Australia, 2012.

/5

Menunggu Keajaiban Doa

Puisi: Leni Marlina

Kini engkau tahu:
menunggu bukan pasif.

Menunggu keajaiban doa
Menunggu adalah kerja akar
diam,
di bawah tanah,
tanpa tepuk tangan.

Akar tidak protes
mengapa ia tak terlihat.
Ia terus menembus gelap
demi batang yang kelak berdiri.

Engkau tidak lagi meminta
agar dunia segera berubah.

Engkau meminta
agar engkau tidak ikut menggelapkannya.

Karena apa gunanya berbicara tentang cahaya
jika tanganmu sendiri
enggan menyalakan lilin?

Keajaiban mungkin bukan kilat.
Ia mungkin hanya keberanian kecil
yang konsisten.

Melbourne, Australia, 2012.

/6/

Menjelamg Malam Terakhir Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Takbir belum terdengar,
tetapi getarnya telah merambat
di tulang-tulang waktu.

Langit begitu dekat
hingga engkau merasa
ia bernapas di atas kepalamu.

Engkau berdiri
bukan sebagai orang suci,
bukan sebagai pahlawan.

Hanya manusia
yang akhirnya mengerti:

Keajaiban doa
bukan ketika Tuhan menuruti kehendakmu,
melainkan ketika Ia melunakkan kehendakmu.

Kasih bukan konsep.
Ia harus menjelma.

Menjadi tangan yang mengangkat.
Menjadi kata yang menyembuhkan.
Menjadi keberanian untuk berdiri
di sisi yang benar
meski sendirian.

Jika Ramadhan hanya membuatmu rajin berdoa,
engkau baru menyentuh kulitnya.

Tetapi jika ia membuatmu
lebih peka terhadap luka,
lebih lembut terhadap yang lemah,
lebih adil terhadap yang berbeda

maka di situlah
langit benar-benar turun
ke dalam darahmu.

Melbourne, Australia, 2012.

/7/

Kini Engkau Mengerti

Puisi: Leni Marlina

Kini engkau mengerti.

Api puasa bukan untuk menghanguskan dunia
tetapi untuk menempa nurani.

Doa bukan pelarian dari kenyataan
tetapi bahan bakar untuk mengubahnya.

Dan kemanusiaan
memberi ruang
di mana Tuhan dan manusia
bertemu tanpa jarak.

Engkau masih lapar.
Engkau masih rapuh.
Engkau masih belajar.

Namun di dalam dadamu
telah tumbuh sesuatu
yang tak bisa lagi dimusnahkan:
kesadaran
bahwa menjadi manusia
adalah mukjizat harian
yang harus diperjuangkan
dengan tindakan.

Dan mungkin
itulah puisi terbesar:
bukan yang ditulis di kertas,
melainkan yang ditulis
dengan hidup
yang berani menjadi cahaya bagi kemanusiaan atas izin-Nya.

Melbourne, Australia, 2012.

——

Tentang Penyair – Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan sejak tahun 2000 berdomisili di Padang, Sumbar. Leni merupakan penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.

Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah mengantarkannya menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta diberikan penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus diamanahkan sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.