April 26, 2026

oleh: Era Nurza

Langit di atas Gaza bukan lagi biru,
ia memerah, luka yang tak kunjung kering,
bak jeritan ibu kehilang anaknya
di antara puing, debu, dan bayang maut yang datang diam-diam.

Angin membawa bau mesiu,
bukan harum roti dari dapur pagi,
sementara mata anak-anak
menyimpan pertanyaan yang tak sempat mereka ajukan.

Apakah dunia sudah tuli?
Ataukah nurani telah disalin jadi algoritma?
Sementara jari-jemari mungil
menggenggam boneka tanpa kepala.

Di ujung senja,
azan masih menggema dari masjid yang setengah roboh,
menyebut nama Tuhan
di tengah bunyi dentuman yang menista langit.
Waktu seakan beku di tanah ini,
tapi hati tak bisa dibekukan.

Dari reruntuhan dan darah,
tumbuh keberanian seperti kaktus di padang pasir:
tajam, tabah, dan tak pernah tunduk.
Wahai dunia yang memalingkan muka,
tengoklah ufuk itu sejenak

di sana ada langit merah yang bukan senja,
melainkan nyala luka yang meminta suara.
Dan Gaza tetap bernyanyi,
dengan nada yang lirih tapi lantang:
“Kami masih di sini.
Dengan cinta. Dengan luka. Dengan doa yang tak lelah mengudara.”

Solo, 24 Mei 2025