MANUSIA YANG MASIH MENCINTAI BANGSA”: Kumpulan Puisi (Editor: Leni Marlina)
/1/
MANUSIA YANG MASIH MENCINTAI BANGSA
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami masih manusia—
yang memungut pagi dari reruntuhan mimpi,
menyeruput takdir dari bubur janji
yang mendidih dalam panci kebijakan setengah matang.
Kami masih manusia—
mencintai bangsa ini dari luka-luka telapak kaki
hingga ubun rindu pada tanah air yang haus keadilan.
Kami mencinta bangsa ini bukan dari podium
atau parade kata yang mudah hilang,
tapi dari tanah retak yang kami guyur
dengan peluh dan air mata,
agar “tanah air” bukan hanya kata,
melainkan hidup yang kami jaga.
Kami adalah suara—
yang digerus oleh sunyi di bawah jembatan statistik,
yang dikubur proposal palsu dan dibekukan
dalam tanda tangan yang kehilangan nurani.
Namun kami bangkit:
lahir dari rahim kesabaran dan palung keberanian,
berdiri di atas puing harapan
dengan jiwa yang tak bisa dibungkam.
Tanah air—
bagi kami bukan jargon, bukan bendera,
melainkan luka yang kami rawat saban pagi
dengan cinta yang menolak tunduk.
Kemiskinan bagi kami bukan kutukan,
melainkan akibat dari hati yang beku,
dari kekuasaan yang kehilangan makna kasih.
Kami bukan statistik,
kami adalah detak.
Kami bukan wajah untuk iklan amal,
kami nyawa—penyangga langit
agar bumi tak runtuh
dihempas rakus segelintir orang.
Jika dunia ingin menghapus kemiskinan—
jangan kirim drone dari balik kaca.
Turunlah:
ke ladang yang menangis,
ke rumah reot yang kehilangan harapan,
ke sumur kering yang tak disapa proyek megah.
Kami masih manusia—
menambal hidup dengan serat-serat doa,
menanam harapan di ladang-ladang sunyi,
membangun masa depan
dari benang luka dan cahaya bulan.
Kami bukan beban—
kami tiang bumi.
Kami bukan kaum lemah,
kami akar—
yang menahan pohon kebangsaan
dalam diam yang setia.
Selama langit masih biru
dan bangsa ini belum kehilangan jiwanya,
kami akan terus bersuara:
memanusiakan manusia
bukan retorika—
tapi satu-satunya jalan
menuju dunia yang adil
dan bebas dari kemiskinan
yang dipelihara oleh diam dan dusta.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/2/

TANAH AIRKU
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, ACC SHILA, Penyala Literasi]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tanah air ada di dadaku
Tanahku ini tidak hanya tuk berpijak
Tanahku ini adalah denyut nadi dalam setiap detak
Di bawah payung langit dan semburat mentari
Ada cinta yang tak bisa terganti
Ada cinta di sini, mencintai bukan karena kesempuranaan
Tapi karena setiap luka ada cerita
Yang terbentuk dengan bahasa dan budaya
Jiwa yang tak sudi dijajah oleh siapapun
Tanah airku tidak hanya di peta
Dari Sabang sampai Merauke
Ada rumah bagi jiwa-jiwa yang setia
Ada lagu dan doa yang terucap lirih bersama
Tanah airku,
Gunungmu jadi saksi akan janji yang pasti
Lautanmu mengajarkan akan dalamnya sabar yang tak pernah lusuh
Biarkan rinduku tumbuh di setiap lembah, gurun, bukit dan telukmu
Karena cinta bukan sekadar kata
Karena ia hidup, bernapas dengan jiwa
Tanah airku kan kujaga engkau sampai akhir dunia
Bukittinggi, Juni 2025
———————————–
Tentang Penulis:
Dilla, S.Pd. lahir di Bukittinggi tahun 1981. Dari tahun 2005-2010 mengajar di SMKN 2 Kota Bukittinggi, Pada tahun 2005-2023 mengajar di SMP Islam Al-Ishlah Bukittinggi, dan pada tahun 2023-sekarang bertugas di SMPN 2 Bukittinggi, sebagai guru Bahasa Indonesia. Mulai aktif menulis dan menggiatkan literasi dari tahun 2013. Sudah menerbitkan 6 buku tunggal dan puluhan buku antologi dengan berbagai event kepenulisan.
Konsisten menulis di berbagai media massa cetak dan online lokal dan nasional baik di dalam dan luar negeri seperti Kompas.id, CNNIndonesia.id, Doejiwa Malaysia, Apakaje, Negeri Kertas, Majalah Elispsis, Haluan, Padang Ekspress, Singgalang, Rakyat Sumbar dll. Penulis juga sering diminta menjadi juri bercerita, baca puisi dan menjadi narasumber dalam kegiatan kepenulisan. Penulis juga pendiri majalah sekolah yang sudah ber-ISSN dan juga penggiat literasi di berbagai komunitas. Sebagai guru penulis aktif membimbing siswa untuk menghasilkan karya buku baik tunggal maupun antologi dengan berbagai genre. Sampai sekarang sudah tercatat 20-an judul buku yang sudah diterbitkan.
Prestasi yang pernah diraih:
Nominasi penulis berprestasi dan prolifik dari Satu Pena Sumatra Barat dalam rangka IMLF-4,
Penerima Anugerah Guru Berprestasi Nasional Bidang Literasi dalam Festival Literasi Kreatif Nasional 2025 diadakan oleh JB Edukreatif Indonesia pada Februari 2025.
/3/

HAK ATAS SECUIL PAGI
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Setiap malam,
ada tangan kecil yang mengatup
bukan karena kenyang—
melainkan karena memohon
pada langit yang jauh,
pada bumi yang makin sempit
oleh pagar-pagar yang tak mereka pasang.
Di balik jendela restoran berpijar,
sepotong roti kadang dilempar ke tempat sampah
sementara di kamp-kamp pengungsian,
ibu-ibu mencampur air dengan harap
agar anak-anak bisa tidur
dengan rasa lapar yang perlahan memudar
menjadi mimpi-mimpi.
Mereka tak minta belas kasih,
hanya hak atas secuil pagi
yang tak harus dibeli dengan airmata.
Mereka tak butuh pidato panjang,
hanya benih yang tak terkunci
di laci laboratorium para penguasa.
Berilah mereka tanah
yang bisa disentuh dengan cinta.
Berilah mereka musim
yang tak dijarah cuaca buatan.
Jika satu anak menangis karena perut kosong
di tengah dunia yang terus berpesta,
maka sejarah kita hanya akan tertulis
sebagai puisi paling kejam
yang pernah ditulis manusia.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/4/

KOSAKATAMU
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena, KEAI, ACC SHILA, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
perbendarahaan yang kau simpan di ujung lidahmu, selalu terucap dari kata ke kata
sebab,
di sepanjang kalimat yang tersimpan dalam kerongkonganmu,
telah kau catat sebagai rangkaian sajak-sajak cinta
lalu kubaca kata-kata yang penuh struktur bahasa di panggung pertunjukan itu
sebab,
bola-bola lampu
yang ikut berlakon
dalam skenario
satu babak, menyorot tajam di antara wajah-wajah pemain sandiwara yang mengucap perbendaharaan kata-kata
wow,
kosakatamu benar-benar kaya ucapan ketika permainan cinta itu berperan di bawah tabir belakang yang kau cium dalam adegan terakhir
maka,
perbendaharaan wajah ketika kata-kata berperan tanpa ucapan; menjadi bahasa dalam komunikasi santun antarpara pemain
memang,
kosakata itu mencakup
skenario yang kau tulis
di dalam pikiran tanpa arti
sebab,
antara kau, aku,
dan rangkaian kata-kata
yang lupa artikulasi
semakin menjauh
ketika keningku mencium lantai rumah-Mu yang jauh
tapi dekat di leher percintaan kita
Palembang, 13 Juli 2025
————————————-
Tentang Penulis:
Anto Narasoma adalah seorang penyair nasional yang berdedikasi dan jurnalis senior, yang karya-karyanya secara diam-diam namun kuat telah memperkaya lanskap sastra Indonesia. Dengan suara yang dibentuk oleh ujian dan kebenaran hidup, puisinya berbicara dari lubuk pengalaman—menyentuh tema-tema cinta, kerinduan, iman, dan kompleksitas hubungan manusia. Larik-larik puisinya kerap memantulkan renungan spiritual yang mendalam serta kritik sosial yang lembut, ditulis bukan untuk mengesankan, tetapi untuk menyentuh hati.
Sebagai mentor senior di komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia), Anto Narasoma terus berjalan bersama para penulis muda, menawarkan bimbingannya dengan ketulusan dan kerendahan hati. Gairahnya tidak hanya dalam menulis, tetapi juga dalam membantu orang lain menemukan suara mereka sendiri—percaya bahwa puisi dapat menjadi jembatan menuju penyembuhan, kesadaran, dan kemanusiaan bersama.
Ia juga merupakan anggota dari Poetry-Pen International Community, tempat ia berpartisipasi dalam percakapan lintas budaya yang merayakan keberagaman puisi. Meski tak mencari sorotan, karya-karyanya telah diam-diam melintasi batas-batas negara.
Pada tahun 2022, Anto Narasoma menerima Penghargaan Sastra dari Asosiasi Sastra Internasional Spanyol—sebuah pengakuan yang ia terima bukan sebagai kemenangan pribadi, tetapi sebagai dorongan untuk terus membagikan kata-kata yang menyentuh jiwa.
Dengan kerendahan hati dan tujuan yang kuat, Anto Narasoma terus menulis dan menapaki jalan puisi, percaya bahwa bahkan kata-kata yang paling lembut pun dapat membawa kebenaran, dan bahkan puisi yang paling sunyi pun dapat membuka hati sebuah bangsa.
/5/
AIR YANG TAK PERLU AKTING DI PANGGUNG
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
air,
bukan aktor dalam panggung proposal
yang menunggu aba-aba
dari sutradara kekuasaan.
sebab,
air sudah hafal naskah kasih—
menetes dari langit
tanpa dialog tentang kasta.
di kampung yang luput dari skrip pembangunan,
ember-ember tua
mengantri giliran
untuk mengucap “martabat”
tanpa suara.
perempuan-perempuan itu,
mendaki panggung bebatuan
dengan adegan sunyi
di pundaknya.
anak-anak belajar mengeja
“air”
tanpa kamus,
dari tanah yang patah
dan sungai yang lupa namanya sendiri.
memang,
tak ada monolog istana
dalam script kami.
hanya seember kesetaraan
untuk mencuci tubuh,
dan duka yang tak sempat masuk siaran pers.
bukankah,
air tak butuh pangkat
untuk menyapa kulit?
bukankah,
sungai tak pernah mengaudit warna siapa
yang berhak mencuci luka?
tapi,
kadang kasih juga disunting,
disensor,
di-edit dalam lembar-lembar program sanitasi
yang hanya tayang saat konferensi.
maka,
bangunlah skenario baru—
dari sumur nurani yang tak didanai
oleh sponsor retorika.
biarkan pancuran itu
turun,
dari ubun-ubun keadilan
ke kaki bumi
yang diam-diam
masih hafal makna:
air,
adalah cinta
tanpa skrip.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/6/

BUKAN PUISI
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena, KEAI]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ini bukan puisi
Hanya sekedar cerita
Bencana terjadi di mana-mana,
kita masih menganggap itu biasa
Ada gempa dan tsunami,
ada pula gejala likuifaksi
Angin menerjang puting beliung,
semua orang menjadi bingung
Terjadi musibah pesawat jatuh,
membuat hati menjadi renyuh
Banjir bandang tiba-tiba datang,
hanyutkan sawah beserta ladang
Ini bukan puisi
Hanya sekedar cerita
Korupsi semakin menggejala,
bukan karena orang tak punya
Melainkan sudah menjadi budaya,
dan peluangnya selalu terbuka
Penjara buat koruptor mewah,
laksana hotel serasa di rumah
Setiap tahun dapat remisi,
setiap minggu boleh permisi
Mengapa kita tak mau berubah,
padahal rakyat semakin susah
Ini bukan puisi
Hanya sekedar cerita
Pemimpin suka membawa citra
Citra sendiri malu di bawa-bawa
Ramai orang hanya berwacana,
namun sangat sepi dalam kinerja
Berpolitik mesti pakai uang,
kalau tidak tinggal di belakang
Alam kaya tapi rakyatnya miskin,
hidupnya susah makan raskin
Utang semakin menggunung,
pembangunan terus berlangsung.
Banda Aceh, 25 Agustus 2018
—————————————
Tentang Penulis:
Zulkifli Abdy merupakan seorang penulis senior dan penyair, berasal dari Jambi dan menetap di Aceh sejak tahun 1970. Lulusan Ilmu Komunikasi, ia menekuni dunia kepenulisan secara autodidak sejak masa muda. Karya-karyanya, baik berupa artikel maupun puisi, mencerminkan semangat sastra yang mendalam. Bagi Zulkifli, menulis bukan sekadar profesi—melainkan sarana untuk mencurahkan perasaan, menggantikan halaman-halaman buku harian pribadi, tempat ia menuangkan pikiran dan pengalaman dengan penuh ketulusan.
/7/
TANGAN YANG TAK PERLU DIPANGGIL PAHLAWAN
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
tangan itu,
bukan aktor utama
dalam warta ekonomi,
bukan wajah yang dipajang
di lembar laporan keberhasilan.
namun tangan itu—
masih mengepal kesetiaan,
di balik mesin-mesin yang mendesah malam,
di sela dengung lembur
yang meluruhkan waktu.
sementara langit
lupa menyapa
anak-anak mereka
yang tertidur
tanpa ujung dongeng
dan tanpa pelukan
dari ayah
yang dijadikan roda industri.
kami,
bukan desimal
dalam hitung cepat anggaran.
kami adalah denyut:
yang hidup dari subuh
hingga tubuh kami
melebur dalam senja.
kami menambal masa depan
dari serpihan waktu
dan keringat
yang disusutkan oleh tangan tak bernama—
bergelar sistem.
tak ada yang agung
dalam tubuh
yang dijadikan lokomotif
untuk mengangkut kemajuan
tanpa jeda,
tanpa salam,
tanpa hak mengucap lelah.
tangan-tangan kami
berakar dari tanah
yang menolak dilupakan.
mereka menengadah—
bukan memohon,
tetapi menjadi saksi
bahwa martabat
tak bisa dicicil
dalam selembar kontrak
yang bisa dihapus
oleh satu embusan angin politik.
anak-anak kami
bukan anak panah industri.
tangan mungil mereka
selayaknya memeluk buku,
dan langit,
bukan logam
yang membungkam usia kanak-kanak
dalam laci ketimpangan.
kau tanya,
apa arti pertumbuhan
jika akar kemiskinan
dipelihara diam-diam
agar batang-batang kekayaan
tetap berdiri megah?
kau ulang,
apa makna pembangunan
jika nelayan menjual perahunya
demi membeli ikan
yang dahulu ia tangkap
dengan doa dan matahari?
kami tak datang
membawa proposal belas kasih.
kami mengetuk,
bukan pintu istana,
melainkan jendela akal waras:
jika kerja sekujur jiwa
hanya dibayar dengan remah waktu,
dan dihitung dalam grafik,
maka kemajuan hanyalah kabar burung
yang tak pernah hinggap
di halaman kami.
kami ingin dunia
yang tahu malu,
jika satu saja di antara kami
tertidur tanpa harapan—
sementara statistik
merayakan pesta kemajuan.
kami ingin kerja
yang tak hanya mengisi perut,
tetapi juga menyentuh ruh.
yang tak hanya memberi upah,
tetapi juga memberi rasa:
bahwa kami penting.
bahwa kami hadir.
bahwa kami layak hidup
tanpa perlu menghilang
di balik neraca
dan tanda tangan bulanan.
karena,
pada akhirnya—
dunia yang benar
adalah dunia
yang menaruh hormat
pada tangan
yang bernyawa,
yang ikut mencipta masa depan
tanpa nama,
tanpa podium,
tanpa plakat,
tanpa catatan lengkap,
tetapi tak pernah absen
dalam denyut peradaban.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/8/
JIKA KAMI HILANG
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jika kami hilang,
bukan karena waktu menolak kami hidup,
tapi karena dunia menolak melihat
pohon yang diam menahan badai.
Kami bukan angka,
kami akar—
yang menyangga langit
agar tidak jatuh ke kepala
anak-anak yang lahir
tanpa privilese sejarah.
Kami tiada dalam peta prestasi,
namun kami yang menggambar jalan
dengan keringat tak bernama.
Jika kami hilang,
bukan karena kalah,
melainkan karena sunyi
telah jadi hukum yang disahkan
dengan meterai yang lupa nurani.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/8/
TANPA JUDUL, TAPI BERNYAWA
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami tak butuh judul.
Cukup satu butir nasi
yang tidak jatuh dari belas kasihan.
Kami bukan cerita,
kami sepi yang tak sempat dibaca
oleh yang menganggap podium
adalah pusat bumi.
Kami tak hidup untuk dikenang,
tapi untuk menyambung
cahaya terakhir
yang nyaris padam
di rumah-rumah tanpa listrik
dan langit-langit bocor
yang tetap menampung hujan.
Kami puisi
yang tak pernah selesai ditulis,
karena kami hidup
lebih dulu
daripada kata.
Padang, Sumatera Barat, 2025
/9/
YANG TAK TERBACA, TAPI ADA
Puisi: Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, PPIC, Satu Pena – West Sumatra, KEAI, ACC SHILA, Penyala Literasi, ASM, WPM-Indonesia]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami bukan catatan kaki,
kami adalah tanah
yang menyangga setiap kata
agar tidak runtuh
menjadi jargon.
Kami tak terbaca,
sebab kami menulis dunia
dengan huruf yang hanya dikenali
oleh tubuh yang bekerja
dalam diam yang panjang.
Kami adalah diam
yang menolak dimusnahkan
oleh bunyi
yang kehilangan makna.
Jika kau mencari makna bangsa—
jangan baca berita,
baca tangan yang pecah,
mata yang kuyup,
dan napas
yang masih bertahan
di antara kata “merdeka”
dan kenyataan.
Padang, Sumatera Barat, 2025
——————————————
_________________
Tentang Penulis:
Leni Marlina adalah seorang penulis, penyair, dan dosen asal Sumatera Barat. Ia tumbuh dengan kecintaan pada kata dan keyakinan bahwa sastra bisa menjadi jembatan kebaikan antar manusia. Sejak lama, ia melibatkan diri dalam kegiatan literasi, baik di lingkungan sekitar maupun di berbagai komunitas yang lebih luas.
Sejak tahun 2022, Leni bergabung dalam keluarga besar SATU PENA (Asosiasi Penulis Indonesia) cabang Sumatera Barat, yang dipimpin oleh Ibu Sastri Bakry dan Bapak Armaidi Tanjung. Dalam lingkungan inilah ia banyak belajar dan tumbuh bersama rekan-rekan penulis lainnya.
Pada Mei 2025, Leni diberi kehormatan sebagai Penulis Terbaik Tahun Ini oleh SATU PENA Sumatera Barat dalam acara Gala Dinner Festival Literasi Internasional Minangkabau ke-3. Penghargaan ini ia terima dengan penuh rasa syukur, sebagai bentuk dukungan bagi semangat gotong royong dalam membangun budaya baca dan tulis di tanah air.
Di luar negeri, Leni menjadi bagian dari ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA) yang dipimpin oleh penyair dunia Anna Keiko. Sejak 2024, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC SHILA, dan pada 2025 diberi amanah sebagai Ketua Perwakilan Asia dalam kelompok duta puisi ACC SHILA—sebuah kesempatan untuk mempererat jalinan budaya melalui puisi.
Tahun yang sama, ia juga bergabung dengan World Poetry Movement (WPM) Indonesia, yang dikordinasikan oleh Ibu Sastri Bakry, sebagai bagian dari gerakan puisi dunia yang berpusat di Kolombia.
Perjalanan Leni di dunia sastra internasional bermula saat menempuh studi S2 Menulis dan Sastra di Australia pada 2011–2013. Saat itu, ia menjadi anggota komunitas penulis di Victoria dan belajar dari banyak penulis lintas budaya.
Pada 31 Mei 2025, Leni dengan sejumlah komunitas yang dipimpinnya, bersama Achmad Yusuf (sebagai ketua), turut menyelenggarakan kegiatan Poetry BLaD (Peluncuran & Diskusi Buku Puisi) dan IOSoP (Seminar Internasional Online tentang Puisi) 2025, diamananahkan oleh Media Suara Anak Negeri News (di bawah pimpinan Paulus Laratmase) berkolaborasi dengan Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Kegiatan ini adalah ruang bersama untuk berbagi semangat dan cinta terhadap literasi, kemanusian dan perdmaaian melalui karya saatra, puisi.
Sejak 2006, Leni mengabdi sebagai dosen di Program Studi Sastra Inggris, Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia mengajar dan membimbing mahasiswa di bidang bahasa, sastra, dan penulisan. Ia percaya bahwa pendidikan dan karya tulis dan karya kreatif adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Di luar aktivitas kampus, Leni juga menulis sebagai jurnalis lepas, editor, dan kontributor digital. Sejumlah karyanya dapat dibaca di: 🔗 https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa
Leni juga memulai dan mendampingi sejumlah komunitas literasi dan sosial berbasis digital, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat):
https://shorturl.at/2eTSB
https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur): https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (Trans-PC)
8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C)